ESAI
UJIAN TENGAH SEMESTER 5
PSIKOLOGI INOVASI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
ENDAH LASTRIATI _ NIM 23310410067
FAKULTAS PSIKOLOGI SJ
DOSEN PENGAMPU
Dr.,Dra. ARUNDATI SHINTA., M.A.
06 November 2025
KEUNIKAN MENANGANI KENAKALAN REMAJA
VERSI BAPAK KDM_GUBERNUR JAWA BARAT
PENDAHULUAN
Remaja atau generasi muda merupakan penerus bangsa yang menjadi pewaris kehidupan untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman umat manusia di muka bumi ini. Jika generasi ini mati, mau tidak mau bangsa ini juga akan mati. Oleh karena itu, kita harus mampu melahirkan generasi-generasi yang berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan bangsa. Namun, banyak juga anak-anak dan orang dewasa yang terkena dampak masalah ini. Perkembangan pribadi dan sosial akan bergantung pada bagaimana mereka memperoleh pengetahuan atau pengalaman. Remaja adalah individu yang baru memasuki masa dewasa dan sedang mempelajari mana yang benar dan apa yang salah, mengenal lawan jenis, terlibat dalam dunia sosial, menerima jati diri Allah Subhanahu wa Ta'ala. telah diberikan kepadanya dan mampu mengembangkan seluruh potensi vital yang ada pada diri individu.
Masa remaja merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993). Kenakalan remaja adalah perilaku agresif dan respon maladaptif lainnya yang terjadi ketika remaja tidak dapat beradaptasi terhadap stimulus yang dihadapi. Hal ini terjadi karena remaja tidak dapat menyesuaikan diri terhadap emosi yang mereka rasakan. Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasa.
PEMBAHASAN
Penting untuk dipahami bahwa setiap tahap perkembangan memiliki serangkaian tugas tersendiri yang harus diselesaikan untuk mencapai keadaan kesehatan, baik fisik maupun psikologis. Masa remaja adalah puncak pembentukan kepribadian, suatu periode ketika seorang individu mencapai stabilitas relatif. Perubahan yang terjadi ini dapat mempengaruhi ciri-ciri yang ditunjukkan individu dalam usia dewasa. Pendidikan sangat penting peranannya dalam membentuk sikap dan kepribadian peserta didik. Sebagai seorang guru, sangatlah penting untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan siswa, khususnya pada tahun pertama dan kedua mereka bersekolah. Karena perubahan sikap dan perilaku, guru dapat memberikan dukungan dan sumber daya yang sesuai untuk pertumbuhan siswa. Sebagai seorang guru, memahami pengajaran agama, melakukan refleksi terhadap perkembangan agama di sekolah dasar dan menengah, tumbuhnya agama, dan berkembangnya nilai-nilai fisik, intelektual, emosional, sosial, moral, dan agama semuanya berkontribusi terhadap efektifitas Pendidikan, agama, Perkembangan melaksanakan Pendidikan.
Beliau seorang figur Gubernur yang bisa ‘memaksa’ orang-orang / rakyat Jawa Barat untuk berubah menjadi lebih baik, khususnya para remaja. Pada kasus yang sangat viral di media sosial adalah cara penanganan KDM untuk anak-anak yang ‘unik’ (nakal, suka merokok, berkelahi, membolos, dan kenakalan lainnya). Cara penanganannya adalah dengan ‘memaksa’ anak-anak itu untuk masuk barak militer selama beberapa bulan. Berbeda dengan dugaan orang-orang, ternyata orangtua dari anak-anak ’unik’ tersebut justru sangat setuju dengan cara-cara KDM. Bentuk persetujuan itu dituangkan dalam bentuk surat persetujuan yang bermeterai. Bila orangtua tidak bersedia menandatangani surat bermeterai tersebut, maka anaknya yang ’unik’ tersebut tidak akan dimasukkan dalam barak militer. Di dalam barak, para remaja itu dilatih untuk berdisiplin, berdoa, berolah raga, tepat waktu dalam beristirahat, belajar, dan berbagai kebiasaan baik lainnya. Setelah ’lulus’ dari barak militer, ternyata perilaku remaja tersebut telah berubah menjadi lebih baik serta bisa merencanakan masa depannya.
Kang Dedi Mulyadi dalam menangani para remaja yang 'unik' dapat dijelaskan melalui skema persepsi dari Paul A. Bell dan kawan-kawan (dalam Patimah et al., 2024; Sarwono, 1995) sebagai berikut:
- Stimulan / Rangsangan ; Dalam masa pemerintahannya KDM menerima informasi tentang perilaku remaja yang unik, seperti perilaku yang tidak biasa, minat yang tidak umum, atau gaya hidup yang berbeda. yaitu peserta didik yang memiliki perilaku khusus, yang sering terlibat tawuran, main game, merokok, mabuk, balapan motor, menggunakan knalpot brong dan perilaku tidak terpuji lainnya, akan dilakukan pembinaan khusus, atas dasar persetujuan orangtua dan tanpa paksaan. Meski banyak menghadapi pro dan kontra beliau tetap mereleasisasikan kebijakan untuk membawa ke Barak Militer.
- Seleksi : KDM memilih informasi yang relevan tentang remaja tersebut, seperti latar belakang keluarga, pengalaman hidup, dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Juga menseleksi dari perilaku anak yang sudah mengarah pada tindakan-tindakan kriminal dan orang tuanya tidak punya kesanggupan untuk mendidik. Artinya bahwa yang diserahkan itu adalah siswa yang oleh orang tuanya di rumahnya sudah tidak mau lagi, tidak mampu lagi untuk mendidik.
- Organisasi : KDM mengatur informasi tersebut menjadi pola yang bermakna, seperti mengidentifikasi pola perilaku, kebutuhan, dan tujuan remaja.
- Interpretasi: Kang Dedi Mulyadi memberikan makna pada informasi tersebut, seperti memahami bahwa perilaku remaja tersebut mungkin merupakan cara untuk mencari perhatian, mengekspresikan diri, atau mencari identitas.
- Respon ( Tanggapan ) : Kang Dedi Mulyadi merespon dengan cara yang tepat, seperti memberikan dukungan, memberikan saran, atau mengembangkan strategi untuk membantu remaja tersebut.
KESIMPULAN
Dalam menangani para remaja yang unik, Kang Dedi Mulyadi menggunakan pendekatan yang holistik, yaitu:
- Empati : memahami perasaan dan kebutuhan remaja
- Kesabaran : memberikan waktu dan kesempatan bagi remaja untuk berkembang
- Kreatif : mengembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan remaja
- Kolaboratif : bekerja sama dengan orang tua, guru, dan pihak lain untuk membantu remaja
Dengan demikian, Kang Dedi Mulyadi dapat membantu para remaja yang unik untuk mengembangkan diri, meningkatkan kepercayaan diri, dan mencapai tujuan mereka.
Daftar Pustaka
Patimah, A.S., Shinta, A. & Al-Adib, A. (2024). Persepsi terhadap lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1), Maret, 23-29. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807
Sarwono, S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Jakarta: Grasindo & Program Pascasarjana Prodi Psikologi UI
Baca
artikel detikjabar, "Daftar 'Kenakalan' Siswa Jabar yang Masuk Barak
Militer: Game-Tawuran" selengkapnya https://www.detik.com/jabar/berita/d-7898750/daftar-kenakalan-siswa-jabar-yang-masuk-barak-militer-game-tawuran.
TERIMAKASIH
https://www.blogger.com/blog/post/edit/2933115290347892205/7356500557819540260
https://www.blogger.com/blog/post/edit/2933115290347892205/7356500557819540260






0 komentar:
Posting Komentar