Sabtu, 10 Januari 2026

UAS Psikologi Lingkungan Kelas A Jessica Maria

UAS Psikologi Lingkungan Kelas A

Jessica Maria 24310420063

Dosen Pengampu: Dr. Dra., Arundati Shinta M., A.

10 Januari 2026




Perilaku dan kebiasaan masyarakat di situasi pengungsian ketika berhadapan dengan sampah yang menumpuk, dapat dijelaskan dengan bagan persepsi Paul A. Bell. Masyarakat yang mengalami bencana di Sumatra menghadapi dan mengamati objek fisik yang ada di lingkungannya, dalam kasus ini objeknya adalah lingkungan sekitar mereka yang banyak sampah yang ditelantarkan. Hal tersebut disebabkan karena mereka terbiasa untuk mengandalkan pemerintah dalam pengelolaan sampah. Ketika mengalami situasi baru yang menyeramkan, bencana banjir, longsor dan harus hidup mengungsi, maka mereka akan melakukan persepsi untuk memahami situasi mengungsi yang tidak nyaman. Para pengungsi dapat memersepsikan kalau lingkungan pengungsian yang sampahnya bertebaran, dipersepsikan hampir sama dengan lingkungan sekitarnya yang juga banyak sampah berserakan sebelum adanya bencana. Perilaku masyarakat sebelum dan sesudah bencana tetap menelantarkan sampah, hal ini disebabkan karena sudah terbiasa mengandalkan pemerintah dan didukung oleh undang-undang, pasal 5 UU Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008, yaitu pemerintahan menjamin pengelolaan sampah yang baik bagi masyarakat. Lalu, di pasal 12, yaitu masyarakat cukup mengelola sampahnya dengan membayar pada petugas sampah resmi dari Dinas Lingkungan Hidup. Oleh karena sudah terbiasa diurus oleh pemerintah walaupun dalam keadaan tidak nyaman, hidup di pengungsian, pengelolaan sampah di sana juga akan menunggu dari pemerintah.  

Pengungsi lebih mengutamakan ketersediaan makanan, air bersih, kesehatan, aman dari banjir dan longsor, dan sampah menumpuk di pengungsian tidak mereka jadikan hal penting yang harus dikelola. Hal ini menjadi masalah, karena dalam situasi bencana yang serba darurat, pemerintah akan fokus untuk mencegah terjadinya longsor dan banjir susulan serta mengevakuasi masyarakat dari lokasi yang masih rawan bencana susulan. Jadi, pemerintah tidak akan fokus pada pengelolaan sampah di pengungsian. Kondisi pengungsian jadi banyak sampah yang menumpuk karena masyarakat tidak memiliki kebiasaan untuk mengelola sampah mereka sendiri sejak sebelum bencana terjadi. Akhirnya, kondisi tersebut memperparah keadaan karena kondisi sanitasi dan kesehatannya terancam. 

Kondisi di pengungsian ini bagi mayoritas masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra berada di luar batas optimal mereka, karena lingkungan sekitar sudah kacau balau, banyak rumah yang tersapu air dan runtuh, ditambah dengan kondisi pengungsian yang sampahnya menumpuk karena tidak dikelola. Kondisi tersebut tentu menimbulkan stres bagi masyarakat yang mengungsi. Masyarakat akan berusaha untuk mengatasi stres tersebut dengan coping behaviour, dalam kasus di pengungsian ini jenis perilaku coping yang mereka lakukan adalah adaptasi, yaitu menyesuaikan diri mereka dengan situasi yang baru. Pengungsi beradaptasi dengan menjadikan pengungsian yang sebenarnya tidak nyaman itu menjadi rumah mereka sementara agar dapat bertahan hidup. Lalu, karena kondisi hidup di pengungsian yang serba terbatas, dan masyarakat tetap menghasilkan sampah dari makanan atau barang yang diperlukan dalam situasi darurat tetapi ada dalam kemasan. Hal ini menyebabkan mereka tetap harus mengelola sampah karena akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan memperburuk keadaan pengungsian. Tetapi karena kondisi lingkungan sekitar yang mengalami kerusakan, pengelolaan sampah yang dapat mereka lakukan adalah menumpuk sampah di sekitar pengungsian.

Hal menumpuk sampah di sekitar pengungsian adalah upaya coping dalam bentuk adjustment, pengungsi menumpuk sampah tidak terlalu dekat dengan lokasi pengungsian untuk mengurangi bau sampah yang akan memenuhi pengungsian. Mereka harus melakukan ini, karena tidak ada petugas kebersihan resmi yang biasanya membantu mereka mengelola sampah. Upaya adaptasi dan adjustment yang sudah dilakukan oleh para pengungsi, menyebabkannya menjadi terbiasa dengan situasi di pengungsian. Oleh karena menjadi terbiasa, maka dapat dikatakan mereka dapat mengatasi stres, walaupun tidak ideal karena tetap menumpuk sampah. Setelah terus berhasil menjalani hidup dengan adaptasi dan adjustment, mereka akan mengalami kondisi stabil dan konstan (homeostasis) yang baru. Walaupun homeostasis yang dialami tidak ideal, tetapi mereka sudah mencapainya. Mereka mengalami homeostasis dengan menganggap pengungsian sebagai rumah dan terbiasa melihat tumpukan sampah, sebagai upaya mengelola sampah pengungsian agar tidak dipenuhi bau. 


Daftar Pustaka

Paimah, A. S., Shinta, A., & Adib, A. A. (2024, Maret). PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN. Jurnal Psikologi, 20(1), 23-29.




0 komentar:

Posting Komentar