Jumat, 09 Januari 2026

Psi Lingkungan - Esai 9 - Partisipasi Lomba - Dr. Arundati Shinta, M.A. - Deltha Arthaliya 24310430209 Kelas B

 Menulis sebagai Jalan Pulang ke Diri

oleh: Deltha Arthaliya

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.



Pengalamanku mengikuti lomba menulis bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba atau sekadar memenuhi kewajiban akademik. Pada tanggal 10 Oktober 2025, aku mengikuti lomba menulis Tetirah, dan kemudian pada 7 Desember 2025 aku kembali mengikuti lomba menulis Surat untuk Indonesia. Dua momen ini menjadi bagian penting dalam perjalananku sebagai mahasiswa sekaligus sebagai individu yang mencintai proses menulis. Bagi diriku, menulis bukan hanya tentang hasil akhir atau menang dan kalah, tetapi tentang perjalanan batin yang menyertainya.

Pada awalnya, memang ada unsur tugas kuliah yang mendorongku untuk ikut serta. Namun, seiring berjalannya proses, aku menyadari bahwa dorongan terbesarku justru datang dari dalam diri. Aku menikmati saat-saat ketika ide muncul perlahan, ketika kata-kata disusun dengan penuh perasaan, dan ketika pikiranku berdiam sejenak untuk mendengarkan suara hati sendiri. Menulis menjadi ruang yang aman bagiku untuk jujur pada diri sendiri, tanpa tuntutan untuk menjadi sempurna.

Jika dilihat melalui kacamata teori Carl Jung, pengalaman ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses individuasi. Jung menjelaskan bahwa individuasi adalah perjalanan seseorang untuk mengenali, menerima, dan menyatukan berbagai aspek dirinya agar menjadi pribadi yang utuh. Dalam konteks ini, menulis menjadi sarana refleksi ke dalam diri, sebuah cara untuk berdialog dengan pikiran, emosi, dan pengalaman yang mungkin selama ini tersembunyi di alam bawah sadar.

Saat mengikuti lomba menulis, aku tidak serta-merta menuangkan semua ide yang muncul. Aku justru belajar memilah dan memilih: tema apa yang ingin kuangkat, cerita mana yang terasa paling jujur, dan tulisan seperti apa yang selaras dengan misi jiwaku. Proses ini membuatku lebih peka terhadap diriku sendiri. Aku bertanya, “Apakah tulisan ini benar-benar mewakili diriku?” dan “Apakah aku menikmati prosesnya?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantuku untuk tetap setia pada nilai dan suara batinku.

 

Menulis, bagiku, menjadi bentuk perjumpaan antara kesadaran dan ketidaksadaran, sebagaimana yang dijelaskan Jung. Ada bagian-bagian diriku yang baru kusadari setelah menuliskannya. Ada emosi yang awalnya samar, lalu menjadi lebih jelas ketika dituangkan dalam kata-kata. Proses ini terasa seperti menata potongan-potongan diri yang sebelumnya tercerai-berai, lalu menyusunnya kembali dengan penuh kesadaran.

Melalui pengalaman mengikuti lomba menulis ini, aku belajar bahwa menikmati proses jauh lebih penting daripada sekadar mengejar hasil. Ketika aku menulis dengan selaras dengan diriku sendiri, proses itu terasa ringan dan bermakna. Menulis tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah perjalanan pulang, pulang ke diri sendiri, mengenali siapa aku, dan menerima diriku apa adanya. Dalam keheningan menulis, aku menemukan ruang untuk bertumbuh, sebagaimana proses individuasi yang perlahan namun mendalam.



0 komentar:

Posting Komentar