Kamis, 08 Januari 2026

Esai ke7 TPST randu alas




Dosen pengampu Dr,Arudati Shinta,M.A

Serlitavangobel (24310410206

Kelas A

Fakultas psikologi 

Universitas proklamasi 45 Yogyakarta e




Selama ini, sampah mungkin hanya menjadi sesuatu yang ingin segera kita singkirkan dari pandangan mata. Namun, kunjungan dan sosialisasi kami di TPST/Bank Sampah Randu Alas memberikan perspektif yang sepenuhnya baru. Kami datang dengan rasa ingin tahu, dan pulang dengan kesadaran bahwa apa yang kita sebut sebagai "sampah" sebenarnya adalah sumber daya yang tertukar tempatnya.

Kegiatan sosialisasi dimulai dengan pemaparan yang membuka mata. Kami mempelajari realitas pahit tentang tumpukan sampah di TPA yang kian menggunung. Namun, di Randu Alas, optimisme itu tumbuh. Pengelola menunjukkan bahwa dengan manajemen yang tepat, sampah bukan lagi beban, melainkan peluang. Kami diajak melihat langsung proses hulu ke hilir: mulai dari pemilahan yang teliti hingga proses transformasi limbah menjadi produk bernilai guna.

Satu hal yang paling membekas adalah konsep Bank Sampah itu sendiri. Di sini, masyarakat diajarkan bahwa botol plastik, kertas, dan logam yang biasanya dibuang begitu saja, memiliki nilai ekonomi yang bisa dikonversi menjadi tabungan. Ini adalah edukasi yang brilian; menggabungkan kepedulian lingkungan dengan kesejahteraan ekonomi. Kami melihat bagaimana warga sekitar mulai terbiasa memilah sampah dari dapur mereka sendiri sebelum membawanya ke sini. Sebuah langkah sederhana yang jika dilakukan secara kolektif, akan memberikan dampak luar biasa bagi ekosistem kita.

Tak hanya sampah anorganik, kami juga belajar tentang pengelolaan sampah organik yang diolah menjadi kompos berkualitas. Melihat bagaimana sisa makanan kembali menjadi nutrisi bagi tanah adalah pengingat tentang siklus alam yang seharusnya kita jaga. Bau menyengat yang biasanya identik dengan tempat pembuangan sampah, nyaris tidak terasa di sini karena dikelola dengan sistem yang baik dan higienis.

Pulang dari TPST Randu Alas, kami tidak hanya membawa pengetahuan teknis tentang jenis-jenis plastik atau cara membuat kompos. Kami membawa pulang sebuah tanggung jawab moral. Sosialisasi ini mengajarkan bahwa menjadi "hijau" bukan tentang melakukan hal-hal besar sekali seumur hidup, melainkan tentang konsistensi melakukan hal-hal kecil setiap hari.

Terima kasih kepada para penggerak di Bank Sampah Randu Alas yang telah menjadi garda terdepan dalam menjaga bumi. Kini saatnya kami menerapkan ilmu tersebut di lingkungan masing-masing. Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang bisa kita berikan untuk generasi mendatang bukanlah tumpukan limbah, melainkan lingkungan yang masih bisa berna

pas lega.


0 komentar:

Posting Komentar