Selasa, 06 Januari 2026

Esai 6 - Eksperimen Tentang Sampah


Ahmad Fawwaz

25310420005


Psi. Lingkungan

Esai - 6


Dr. A. Shinta, M. A.,


    Hari itu terasa berbeda. Alih-alih duduk di kelas dengan slide presentasi, kami justru berkumpul di rumah dosen. Suasana lebih santai, tapi juga penuh rasa ingin tahu. Di halaman belakang rumah, kami diajak untuk menyentuh langsung praktik yang selama ini hanya menjadi teori di mata kuliah psikologi lingkungan: bagaimana manusia berinteraksi dengan sampah, dan bagaimana sampah bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

    Bu Shinta mengajarkan kepada kami cara membuat pupuk cair. Bahan utamanya sederhana: EM4, cairan berisi mikroorganisme efektif, buah-buahan yang telah membusuk, serta molase sebagai sumber makanan untuk mikroorganisme tersebut. Cairan itu kemudian dicampur dengan air, menghasilkan fermentasi yang kelak bisa menyuburkan tanaman. Rasanya menyenangkan melihat bagaimana ilmu yang biasanya hanya ada di buku, kini hadir dalam bentuk cairan berwarna cokelat yang berpotensi menghidupkan tanah. 

    Tak berhenti di situ, kami juga diajarkan membuat kompos dari daun kering yang telah dirajang. Tumpukan daun yang awalnya tampak tak berguna, perlahan berubah menjadi bahan dasar pupuk padat. Dalam setiap helai daun kering, saya melihat sebuah pilihanapakah akan menjadi sampah yang menumpuk lalu mencemari lingkungan, atau sumber kehidupan baru bagi tanaman.

    Refleksi pribadi muncul ketika saya membandingkan pengalaman ini dengan kehidupan sehari-hari di kos. Di sana, sampah sering kali hanya dikumpulkan tanpa dipilah, lalu diangkut begitu saja. Padahal, dengan sedikit usaha, sampah organik bisa diolah menjadi pupuk cair atau kompos. Kuliah di rumah dosen membuka mata saya bahwa perubahan perilaku tidak selalu membutuhkan teknologi canggih, kadang hanya butuh kesediaan untuk belajar dan mencoba.

    Menutup hari itu, saya merasa ada benang merah antara teori dan praktik. Psikologi lingkungan bukan sekadar membahas persepsi atau sikap terhadap alam, tetapi juga mengajarkan bagaimana tindakan nyata bisa lahir dari kesadaran. Membuat pupuk cair dan kompos mungkin terlihat sederhana, namun di baliknya ada pesan besar bahwa keberlanjutan dimulai dari rumah, dari tangan kita sendiri, dan dari kesediaan untuk melihat sampah bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal.

0 komentar:

Posting Komentar