Belajar Kesadaran Lingkungan dari Eksperimen di Rumah Ibu Shinta
oleh: Deltha Arthaliya
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Saya bersama 11 orang mahasiswa Universitas Proklamasi 45 Fakultas Psikologi Yogyakarta mengikuti sebuah kegiatan eksperimen mengelola sampah yang dilaksanakan di rumah dosen kami, Ibu Shinta. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 30 November 2025 dalam suasana yang hangat dan sederhana, jauh dari kesan formal perkuliahan. Justru melalui kesederhanaan dalam rumah inilah, proses belajar terasa lebih dekat, personal, dan menyentuh kesadaran diri.
Ibu Shinta membuka kegiatan dengan menyampaikan satu pesan utama yang menjadi dasar dari seluruh rangkaian eksperimen, yaitu pentingnya kesadaran diri terhadap sampah yang kita hasilkan. Beliau menekankan bahwa sampah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan sikap dan tanggung jawab pribadi. Kesadaran tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti bertanggung jawab terhadap makanan yang kita bawa dan konsumsi. Makanan sebaiknya dihabiskan agar tidak menyisakan sampah, karena setiap sisa makanan mencerminkan kurangnya kepedulian kita terhadap sumber daya dan lingkungan.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep environmental responsibility, Stek dan Vlek (2009) yang menjelaskan bahwa perilaku ramah lingkungan berakar pada kesadaran individu akan dampak perilakunya terhadap lingkungan. Ketika seseorang menyadari bahwa perilaku kecil sehari-hari memiliki konsekuensi ekologis, maka akan tumbuh dorongan internal untuk bertindak lebih bertanggung jawab. Dalam konteks ini, kesadaran diri menjadi kunci awal perubahan perilaku.
Selanjutnya, kami diajak mempraktikkan pemilahan sampah organik dan anorganik. Saya terlibat langsung dalam proses membersihkan sampah anorganik, terutama plastik, yang nantinya akan dibawa ke bank sampah. Sampah tersebut berasal dari berbagai kemasan, seperti bungkus jajan pasar dan plastik bekas minuman ataupun makanan. Prosesnya dimulai dari mencuci sampah plastik hingga bersih dari minyak dan lainnya, kemudian dijemur supaya kering, dan setelah itu memilahya kembali mana yang layak disetorkan ke bank sampah dan mana yang harus dibawa ke TPST.
Melalui proses ini, saya belajar bahwa pengelolaan sampah memerlukan ketelatenan dan komitmen. Sampah tidak bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang langsung dibuang, tetapi perlu dipahami nilainya. Hal tersebut berkaitan dengan konsep behavior setting, yang dikemukakan oleh Barker (1968) yaitu bagaimana lingkungan dan kebiasaan yang dibangun secara konsisten dapat membentuk perilaku individu. Dengan membiasakan diri memilah dan membersihkan sampah, perlahan terbentuk pola perilaku yang lebih peduli dan bertanggung jawab. Di rumah Ibu Shinta, kami belajar untuk membentuk kebiasaan baru, karena ada contoh nyata perilaku peduli lingkungan dari keluarga.
Selain kegiatan pemilahan sampah, kami juga belajar berkreasi melalui daur ulang. Saya bersama teman-teman membuat kerajinan tangan dari kertas bekas yang diolah menjadi goodie bag. Kami juga membuat gantungan kunci dari tali dan manik-manik. Proses kreatif ini terasa menyenangkan, sekaligus memberi ruang refleksi. Di tengah aktivitas merangkai, saya merasakan ketenangan dan kesadaran bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang berat, tetapi bisa melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.
Goodie bag yang kami buat kemudian diisi dengan satu botol sabun cuci piring hasil dari eco enzym, pupuk kompos dari olahan sampah organik rumahan, serta gantungan kunci buatan kami sendiri. Isi goodie bag tersebut menjadi simbol keterhubungan antara proses belajar, kreativitas, dan kepedulian lingkungan. Setiap benda di dalamnya merepresentasikan upaya kecil yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Melalui kegiatan ini, saya semakin menyadari bahwa pengelolaan sampah merupakan proses pembelajaran tentang tanggung jawab diri. Sesuai dengan teori norm activation yang dikemukakan oleh Schwartz (1977), yang menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan muncul ketika individu menyadari konsekuensi dari tindakannya dan merasa memiliki tanggung jawab secara pribadi akan dampak tersebut. Dari rumah Bu Shinta, saya belajar bahwa perubahan tidak harus dimulai dari skala besar, tetapi dari kesadaran kecil, kebiasaan sederhana, dan kemauan untuk lebih peduli terhadap sampah yang kita hasilkan setiap hari, secara konsisten.







0 komentar:
Posting Komentar