Esai-8 Pengalaman Menjadi Nasabah Bank Sampah
Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A
Ratu Sabinawangi
24310410204
Kelas Reguler A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Menjadi nasabah bank sampah memberikan pengalaman baru yang mengubah cara pandang saya terhadap sampah rumah tangga. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat dikelola dan memberikan manfaat, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Pengalaman ini dimulai dari kebiasaan sederhana memilah sampah di rumah, khususnya sampah anorganik berupa kardus dan botol plastik yang sering dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
Jenis sampah yang saya kumpulkan terdiri dari kardus bekas kemasan dan botol plastik bekas minuman. Kardus biasanya berasal dari kemasan belanja online dan dus makanan, sedangkan botol plastik berasal dari botol air mineral dan minuman kemasan. Kedua jenis sampah ini dipilih karena mudah dipilah, tidak menimbulkan bau, dan memiliki nilai jual di bank sampah. Sebelum disetor, kardus dikeringkan dan dirapikan, sementara botol plastik dicuci dan dipisahkan dari tutupnya agar memiliki nilai lebih.
Setelah beberapa waktu mengumpulkan, saya membawa sampah tersebut ke bank sampah terdekat untuk ditimbang dan dicatat sebagai tabungan. Berat kardus yang saya setorkan mencapai sekitar satu kilogram, sedangkan botol plastik memiliki berat kurang lebih setengah kilogram. Proses penimbangan dilakukan dengan tertib dan transparan, lalu petugas mencatat berat serta jenis sampah ke dalam buku tabungan bank sampah. Dari hasil penimbangan tersebut, saya memperoleh uang sebesar Rp2.000 yang dicatat sebagai saldo tabungan.
Meskipun jumlah uang yang diperoleh tergolong kecil, pengalaman ini memberikan makna yang jauh lebih besar. Saya menyadari bahwa nilai utama dari menjadi nasabah bank sampah bukan semata-mata pada jumlah uang yang didapat, melainkan pada kebiasaan bertanggung jawab dalam mengelola sampah. Setiap kardus dan botol plastik yang disetorkan berarti mengurangi sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Selain itu, menjadi nasabah bank sampah juga melatih kedisiplinan dan kepedulian terhadap lingkungan. Proses memilah, menyimpan, dan menyetorkan sampah membutuhkan konsistensi, namun lama-kelamaan menjadi kebiasaan positif. Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menabung sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Kardus dan botol plastik yang tampak sepele ternyata dapat memberikan manfaat nyata jika dikelola dengan baik. Menjadi nasabah bank sampah adalah bentuk kontribusi sederhana namun bermakna dalam menjaga lingkungan.









0 komentar:
Posting Komentar