Selasa, 06 Januari 2026

Psi Lingkungan - Esai 7 - Belajar Kelola Sampah di TPST Randu Alas - Dr. Arundati Shinta, M.A. - Januari 2026

 Sampah dan Kesadaran Diri: Catatan Reflektif dari TPST Randu Alas

oleh: Deltha Arthaliya

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.



Sampah sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sepele, padahal keberadaannya memberi dampak besar bagi lingkungan sekitar. Di banyak wilayah, termasuk Candi Karang, Sardonoharjo, sampah menjadi persoalan nyata dan mengganggu. Tumpukan sampah yang menimbulkan bau tidak sedap sejatinya bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga cermin dari rendahnya kesadaran kita sebagai individu. Sampah yang kita hasilkan sering kali kita abaikan begitu saja, seolah bukan menjadi tanggung jawab kita pribadi. Padahal, dari tangan kitalah sampah itu berasal.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah memicu berbagai masalah, mulai dari pencemaran lingkungan hingga ketidaknyamanan hidup bersama. Oleh karena itu, dibutuhkan bukan hanya fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, tetapi juga kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan. Kesadaran ini tidak tumbuh secara instan, melainkan melalui proses belajar dan keterlibatan secara langsung.

Pengalaman berkunjung ke TPST 3R Randu Alas pada tanggal 18 Oktober 2025 bersama mahasiswa kelas Psikologi Lingkungan UP45 Yogyakarta, menjadi salah satu proses belajar yang bermakna. TPST yang terletak di Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman ini menjadi ruang nyata untuk melihat bagaimana sampah dapat dikelola dengan lebih bertanggung jawab. Dibimbing oleh Pak Tujono, kami memahami bahwa TPST Randu Alas tidak langsung berdiri seperti sekarang. Awalnya, tempat ini merupakan bank sampah yang kemudian berkembang menjadi TPST pada tahun 2015 karena keterbatasan pengelolaan jenis sampah. Proses pendiriannya pun melibatkan masyarakat sekitar, mulai dari pengumpulan dukungan hingga pemanfaatan tanah kas sebagai lokasi TPST.



Di TPST Randu Alas, sampah diambil secara rutin dua kali seminggu menggunakan kendaraan roda tiga. Sampah kemudian dipilah menjadi organik dan anorganik. Sampah anorganik dibersihkan, dicacah, dan sebagian terpaksa dibakar karena keterbatasan teknologi. Meski pembakaran masih menyisakan masalah, seperti asap, ada upaya berkelanjutan untuk memanfaatkan abu sisa pembakaran sebagai bahan batako. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi pupuk, biogas, dan pupuk cair dengan bantuan mikroorganisme lokal. Bahkan, sisa kulit buah dimanfaatkan menjadi eco lindi untuk mengurangi bau sampah.



 


Melalui proses ini, saya menyadari bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga persoalan kesadaran dan kepedulian. TPS Randu Alas mengajarkan bahwa sampah dapat diolah dengan lebih bijak ketika ada kemauan untuk belajar, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Dari sini, kita diajak untuk kembali bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita peduli pada sampah yang kita hasilkan setiap hari?


0 komentar:

Posting Komentar