Esai ke 8 pergi ke nasabah bank sampah
Psikologi Lingkungan
Nama :Chitra Amanda Kasim
Nim: 2431041003
Kelas Reguler (A)
Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta M. A.
Di hari juma't 19, desember 2025 saya dan teman saya mulai mengikuti menjadi nasabah bank di alun-alun Yogyakarta. di sana ternya ada beberapa ibu ibu yang bekerja di situ melakukan penimbang sampah yang saya bawa beupa botol gelas aqua kecil dan gardus yang nantinya di kumpul dan ada di angkut dengan mobil truk. Sampah yang sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kotor, tidak berguna, dan harus segera dibuang.namun , pengalaman saya menjadi nasabah bank sampah telah mengubah cara pandang tersebut secara drastis,awalnya, saya hanya mendengar sekilas tentang konsep bank sampah di kelas yang di jelaskan oleh dosen dan karena memag di suruh untuk membuat esai dan langkah pertama yang saya lakukan adalah mulai mengumpulkan barang bekas seperti botol plastik, kardus, kertas yang tidak di pakai yang di kos saya tidak lagi membugan di sampah, proses ini memang membutuhkan kebiasaan baru, tetapi lama-lama menjadi rutinitas yang menyenangkan. Jadi setiap minggu, saya membawa hasil kumpulan saya itu ke bank sampah . Petugas menimbang sampah, mencatat beratnya, lalu memasukkan nilai rupiah ke dalam buku tabungan saya, walaupun saya baru melakukannya dua kali saya merasakan banyak manfaat. kos saya menjadi lebih bersih dan rapi karena sampah tidak lagi menumpuk sembarangan di luar kos . Kedua, lingkungan sekitar juga terlihat lebih sehat. Bank sampah bukan hanya tempat menabung, tetapi juga ruang belajar bersama di sana, saya dan teman saya juga berdiskusi tentang cara mengelola sampah, mengolah barang bekas menjadi kerajinan tangan. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh, karena kami merasa sedang berjuang bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Saya melihat bagaimana ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak, hingga anak muda saling mendukung. Bank sampah menjadi wadah sosial yang mempererat hubungan antarwarga
Kini, setiap kali saya menabung sampah, saya merasa sedang berinvestasi untuk masa depan. Bukan hanya masa depan saya, tetapi juga masa depan lingkungan dan generasi berikutnya. Sampah yang dulu dianggap tidak berguna, kini menjadi sumber daya yang bernilai, menjadi nasabah bank sampah telah mengajarkan saya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil: memilah sampah di rumah, kos dan di lingkungan sekitar









0 komentar:
Posting Komentar