Ahmad Fawwaz
25310420005
Psi. Lingkungan
Esai 7
Dr. A. Shinta, M. A.,
Pagi itu, tanggal 18 Oktober 2025, matahari Yogyakarta menyambut kami dengan hangat. Langit biru bersih, seolah ikut merayakan semangat kami yang berkumpul di sebrang gerbang TPST Randu Alas. Rombongan mahasiswa Psikologi UP45 berdiri berjejer. Di balik tawa dan gaya foto yang meriah, ada rasa penasaran yang sama: seperti apa wajah nyata pengelolaan sampah di balik teori psikologi lingkungan yang selama ini kami pelajari?
Begitu melangkah masuk, aroma khas sampah langsung menyergap. Bukan bau yang menyenangkan, tapi juga bukan sesuatu yang membuat kami mundur. Justru di sanalah letak kejujuran tempat ini. TPST bukan ruang steril, melainkan medan nyata tempat manusia dan limbah bersinggungan setiap hari. Kami melihat tumpukan plastik, organik, dan barang-barang yang dulunya mungkin bagian dari kehidupan rumah tangga. Kini mereka menunggu nasib baru: diolah, dipilah, atau mungkin berakhir di tempat pembuangan akhir.
Para pekerja TPST bergerak cekatan. Tangan mereka terlatih memilah botol, kardus, dan sisa makanan. Tak banyak kata, tapi gerakan mereka berbicara tentang rutinitas, ketekunan, dan barangkali juga harapan. Di tengah aktivitas itu, saya tertegun memikirkan satu hal: bagaimana persepsi lingkungan terbentuk dari interaksi sehari-hari, bukan sekadar dari kampanye atau poster ajakan. Tempat ini bukan hanya fasilitas, tapi juga ruang sosial yang membentuk perilaku.
Diskusi kecil pun terjadi di antara kami. Beberapa teman bertanya tentang sistem pemilahan, ada yang mencatat, ada pula yang diam mengamati. Saya sendiri lebih banyak merenung. Di kos saya, sampah sering kali hanya dibuang tanpa pikir panjang. Padahal, kunjungan ini menunjukkan bahwa setiap tindakan kecil, memilah, mengurangi, atau mendaur ulang punya dampak nyata. TPST Randu Alas bukan sekadar tempat pengolahan, tapi cermin dari pilihan-pilihan kita sebagai individu dan komunitas.
Dalam perjalanan pulang, saya merasa ada yang berubah. Bukan hanya pengetahuan, tapi juga kesadaran. Bahwa menjadi pro-lingkungan bukan soal idealisme besar, melainkan soal konsistensi dalam hal kecil. Bahwa perubahan perilaku bisa dimulai dari rasa peduli, lalu diperkuat oleh lingkungan yang mendukung. Dan bahwa kunjungan seperti ini bukan hanya tugas kuliah, tapi juga undangan untuk menjadi bagian dari solusi.






0 komentar:
Posting Komentar