Esai ke_8 Bank sampah
Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M. A
Baiq Muthhiia Syafitri
Kelas A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Pengalaman menjadi nasabah bank sampah , aku pergi bersama teman aku yyang ada di foto tersebut tempatnya di kawasan Alun-alun Utara, tepatnya dekat gedung PDHI, mengubah cara pandang terhadap sampah dalam keseharianku. Setiap 1minggu aku datang ke sana bukan membawa dompet, tetapi karung berisi botol dan gelas plastik bekas yang kukumpulkan dari rumah, tetangga, dan area sekitar alun-alun. Di sudut area, berdiri sebuah bangunan sederhana tempat pengelola bank sampah menimbang, mencatat, dan menata karung-karung penuh sampah kering yang sudah dipilah rapi. Di sana aku pertama kali belajar bahwa sampah bisa benar-benar diperlakukan seperti tabungan, lengkap dengan buku catatan saldo layaknya bank biasa.
Saat awal mendaftar, aku diminta mengisi identitas diri: nama lengkap, alamat. Setelah itu, aku menerima sebuah buku tabungan kecil dengan nama bank sampah “Nasabah bank” tertera di sampulnya warna hijau, akhiirnyya aku bisa menjadi menjadi nasabah bank.Sejak hari itu, setiap setoran botol dan gelas plastik bekas dicatat di buku itu:
tanggal, jenis sampah, berat, hingga jumlah uang yang kudapat. Biasanya, dalam satu bulan jika sedang rajin mengumpulkan, aku bisa membawa sekitar 1,5kilogram botol plastik dan 1kg kilogram gelas plastik. Semua sampah itu sebelumnya sudah kukosongkan, kubilas, dan kukeringkan agar tidak berbau dan lebih mudah ditimbang. dan sekirannya begitulah kalau seering menabung mendapat lebih banyak uang .
Momen yang paling menyenangkan adalah ketika petugas menyebutkan berat dan menghitung uang yang kuperoleh. Misalnya, dari 5 kilogram botol dan 5 kilogram gelas, saldo tabunganku bisa bertambah lima ribuu rupiah . Jumlahnya memang tidak besar, tetapi ketika dikumpulkan beberapa bulan, cukup untuk membantu kebutuhan kecil di kost . Lebih dari itu, ada rasa lega ketika melihat area Alun-alun Utara yang dulu sering penuh botol dan gelas berserakan kini mulai lebih bersih. Setiap kali melihat sampah plastik di tanah, refleksku adalah memungutnya, karena di kepalaku terbayang dua hal sekaligus: tambahan saldo tabungan dan lingkungan yang lebih rapi. Bagi diriku, menjadi nasabah bank sampah bukan hanya soal mendapatkan uang, tetapi juga tentang belajar bertanggung jawab atas sampah yang kuhasilkan dan ikut menjaga wajah kota yang setiap hari kunikmati.






0 komentar:
Posting Komentar