Esai-7 Belajar Manajemen Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas
Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A
Ratu Sabinawangi
24310410204
Kelas Reguler A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
TPST Randu Alas menjadi ruang belajar nyata tentang bagaimana sampah dikelola secara terstruktur di tingkat komunitas. Kegiatan belajar di TPST ini memberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar aktivitas teknis memindahkan atau membuang sampah, melainkan sebuah sistem manajemen yang melibatkan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan secara berkelanjutan. Melalui pengamatan langsung, terlihat bahwa keberhasilan TPST Randu Alas tidak hanya ditentukan oleh alat dan teknologi, tetapi juga oleh peran manusia di dalamnya.
Manajemen pengelolaan sampah di TPST Randu Alas diawali dari proses penerimaan sampah yang berasal dari masyarakat sekitar. Sampah yang masuk dipilah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, anorganik, dan residu. Proses pemilahan ini menjadi tahap penting karena menentukan alur pengolahan selanjutnya. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dan kertas dipilah kembali untuk didaur ulang atau dijual ke pihak pengepul. Adapun sampah residu yang tidak dapat diolah akan dikelola lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan.
Dari sisi manajemen sumber daya manusia, TPST Randu Alas menunjukkan pembagian tugas yang jelas di antara para pengelola. Setiap petugas memiliki tanggung jawab tertentu, mulai dari pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan sampah. Pembagian kerja ini membantu proses pengelolaan berjalan lebih efektif dan efisien. Selain itu, kerja sama antarpetugas menjadi kunci utama agar sistem tetap berjalan, mengingat volume sampah yang terus datang setiap hari.
Aspek manajemen lainnya yang penting adalah pengelolaan sarana dan prasarana. TPST Randu Alas memanfaatkan peralatan sederhana namun fungsional untuk mendukung kegiatan pengolahan sampah. Keterbatasan alat tidak menjadi hambatan utama karena diimbangi dengan kreativitas dan pengalaman para pengelola. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen yang baik tidak selalu bergantung pada teknologi canggih, tetapi pada kemampuan mengoptimalkan sumber daya yang ada.
Melalui proses belajar di TPST Randu Alas, muncul kesadaran bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat sebagai penghasil sampah. TPST bukan hanya tempat pengolahan, tetapi juga pusat edukasi lingkungan. Dengan manajemen yang tertata dan berorientasi pada keberlanjutan, TPST Randu Alas menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah di tingkat lokal dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.









0 komentar:
Posting Komentar