Kamis, 08 Januari 2026

Menjadi Nasabah Bank Sampah

 Esai 8 Menjadi Nasabah Bank Sampah


Mata Kuliah Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M. A
Andarini Sulistiawati
NIM. 24310410201
Kelas A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Saya mahasiswa di Universitas Proklamasi 45. Berkat mata kuliah psikologi lingkungan saya menjadi lebih suka menjaga lingkungan. Suatu hari, rumah penuh sampah plastik dan kertas. Saya pikir, "Bakar saja kali ya? Tapi sayang." Kemudian, saya mendapat tugas kuliah untuk menjadi nasabah bank sampah. Setelah mencari informasi, saya menemukan ada bank sampah di Kalurahan Ngoro-oro, dekat dengan tempat tinggal saya. Saya datang kemudian mendaftar menjadi nasabah. Tanpa syarat apapun, saya dapat buku catatan seperti buku tabungan bank biasa. Gampang sekali!

Hampir setiap hari saya dan keluarga menghasilkan sampah plastik, seperti botol kemasan, bekas kosmetik, dan lain-lain. Kemudian, saya bersama ibu mulai membereskan buku-buku yang sudah menumpuk lama. memisahkan yang masih berguna dan yang sudah tidak berguna.

Setelah terkumpul cukup banyak akhirnya saya bawa pergi ke bank sampah Ngoro-oro. Pertama saya datang pada 09 November 2025, membawa sampah kertas. Sesampainya di sana, ibu Jumirah selaku pengelola menyarankan kepada saya untuk memisahkan kertas biasa dan jenis duplex, agar perhitungan harga barang lebih mahal.  Setelah selesai saya pisahkan, ibu Jumirah menimbang sampah tersebut. Sampah kertas biasa sebanyak 10 kg dengan harga /kg Rp900,- sehingga terkumpul uang 9000. Lalu sampah duplex terkumpul 2 kg dengan harga /kg Rp400,- dan terkumpul Rp800,- untuk sampah duplex. Pada hari itu saya mendapatkan total saldo Rp9.800,-.

Pada kunjungan berikutnya, pada 27 Desember 2025, saya membawa sampah plastik berupa botol kemasan dan botol kosmetik. Kemudian saya memisahkan lagi sesuai jenisnya, PET, tutup PET, dan putihan. Hasil timbangan terkumpul 0,5 kg sampah PET, dengan harga /kg Rp3500,-. Sampah tutup PET 0,2 kg, dengan harga /kg Rp2.800,-. Kemudian sampah putihan 0,2 kg, harga /kg Rp200,-. Pada hari itu saya berhasil menambah saldo Rp2550,-. Sehingga total saldo saya adalah Rp12.350.00.

Awalnya saya pikir akan susah. Tetapi ternyata anggota keluarga saya juga turut membantu, sehingga semua terasa mudah. Ketika mengetahui bahwa saya mendapatkan tugas menjadi nasabah bank sampah, ibu saya begitu bersemangat membantu mengumpulkan sampah. Sampai saat ini kebiasaan mengumpulkan sampah masih terus kami lakukan. Ini mengajarkan kepada saya bahwa sampah juga dapat memberikan manfaat. Sampah yang awalnya hanya di bakar dan menyebabkan polusi, kini bisamenjadi sarana menambah penghasilan.

Lebih penting, hati saya jadi ringan. Dulu cemas lihat sampah numpuk di jalan dan sekitar rumah. Sekarang, jadi tahu harus di kemanakan sampah-sampah itu. Saya senang jadi nasabah bank sampah. Ini cara mudah jaga bumi. Mulai dari rumah kumpulkan sampah, pisah sampah, setor. Uangnya bisa untuk kebutuhan, dan hatinya tenang. Saya juga mengajak keluarga menerapkan kebiasaan yang berguna. Dari sampah biasa, lahir kebiasaan baik dan menambah penghasilan.

Dokumentasi buku tabungan:



0 komentar:

Posting Komentar