Esai ke 8 bank sampa
Dosen pengampu Dr,arundati Shinta M,A
Serlitavangobel
Kelas A
Fakultas psikologi
Universitas proklamasi 45 Yogyakarta
Yogyakarta selalu punya cara untuk mengajarkan kesederhanaan dan kepedulian. Di tengah isu darurat sampah yang sempat menyelimuti kota ini, saya memutuskan untuk berhenti menjadi penonton dan mulai bertindak. Langkah kecil itu dimulai dengan menjadi nasabah di salah satu bank sampah di kawasan kemantren setempat. Tidak sekadar membuang, saya belajar untuk "menabung".
Kunjungan Pertama: Mengubah Pola Pikir Kunjungan pertama saya dimulai dengan sedikit keraguan. Saya datang membawa dua karung besar berisi campuran botol plastik, kertas, dan kaleng bekas. Di sana, saya disambut oleh senyum ramah para pengurus—biasanya ibu-ibu lingkungan setempat yang sangat bersemangat. Hari itu, saya tidak hanya mendapatkan buku tabungan berwarna hijau, tetapi juga mendapatkan "kuliah singkat" tentang pemilahan.
Saya baru menyadari bahwa nilai ekonomi sampah ditentukan dari kerapian kita memilahnya. Botol plastik yang dilepas labelnya dan dipipihkan memiliki harga yang berbeda. Ada rasa malu sekaligus haru saat melihat para pengurus dengan telaten memilah sisa konsumsi saya. Saat angka pertama tertulis di buku tabungan, meski nominalnya tak seberapa, ada kepuasan batin yang luar biasa. Saya pulang dengan membawa satu misi: tidak akan lagi mencampur sampah organik dan anorganik.
Kunjungan Kedua: Menjadi Bagian dari Solusi Dua minggu kemudian, saya kembali untuk kunjungan kedua. Kali ini, persiapan saya jauh lebih matang. Botol plastik sudah bersih dan rapi dalam satu kantong, kardus-kardus sudah dilipat datar, dan kaleng minuman sudah terpisah. Proses penimbangan menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Yang menarik dari kunjungan kedua ini adalah interaksi sosialnya. Di bank sampah, saya bertemu tetangga lain yang juga membawa tabungannya. Kami mengobrol tentang bagaimana mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sambil menunggu giliran timbang. Bank sampah di Jogja ini bukan sekadar tempat transaksi materi, melainkan ruang perjumpaan warga yang peduli pada masa depan kotanya.
Melihat saldo yang bertambah di buku tabungan kecil itu memberikan kesadaran baru: sampah adalah tanggung jawab pribadi yang jika dikelola dengan kolektif, bisa menjadi berkah. Dua kali kunjungan ini telah mengubah kebiasaan saya. Kini, memilah sampah bukan lagi beban, melainkan gaya hidup baru demi menjaga keasrian Yogyakarta agar tetap nyaman bagi generasi mendatang.







0 komentar:
Posting Komentar