Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A
Ratu Sabinawangi Nauli H
24310410204
Kelas Reguler A
Fakultas Psikologi
Sampah sering dipahami sebagai sisa yang tidak berguna, padahal melalui pendekatan eksperimen sederhana, sampah justru dapat menjadi media pembelajaran tentang tanggung jawab, kreativitas, dan perubahan perilaku. Eksperimen ini dilakukan dengan mengamati dan mencoba berbagai pengolahan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik dan anorganik, melalui enam fokus utama: kompos, sabun cair, eco enzym, parcel ramah lingkungan, produksi sampah secara bertanggung jawab, serta upaya mengatasi rasa malas dalam pengelolaannya.
Eksperimen pertama adalah pembuatan kompos dari sisa makanan dapur seperti kulit sayur dan buah. Proses ini mengajarkan bahwa sampah organik bukanlah akhir dari siklus konsumsi, melainkan awal dari siklus baru. Dalam waktu beberapa minggu, sampah yang awalnya berbau dan dianggap menjijikkan berubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Dari sini terlihat bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kesabaran dan konsistensi, namun hasilnya memberi kepuasan tersendiri karena berdampak langsung pada lingkungan.
Eksperimen kedua dilakukan dengan mencoba membuat sabun cair dari minyak jelantah. Minyak bekas yang biasanya langsung dibuang ternyata dapat diolah kembali menjadi sabun pembersih. Proses ini membuka kesadaran bahwa limbah rumah tangga berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola, tetapi dapat menjadi produk bernilai guna jika diolah dengan pengetahuan yang tepat. Selain mengurangi limbah, eksperimen ini juga mengajarkan prinsip ekonomi sirkular dalam skala kecil.
Selanjutnya, eco enzym dibuat dari fermentasi sisa buah, gula, dan air. Proses fermentasi ini membutuhkan waktu yang cukup lama, namun hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami dan pupuk cair. Eksperimen ini menunjukkan bahwa alam bekerja dengan ritmenya sendiri, dan manusia perlu belajar untuk tidak selalu menginginkan hasil instan. Eco enzym menjadi simbol keselarasan antara manusia dan alam dalam pengelolaan sampah.
Eksperimen keempat adalah pembuatan parcel dari barang bekas, seperti kardus, botol plastik, dan kertas bekas. Parcel ini dirancang sebagai alternatif ramah lingkungan dibandingkan parcel konvensional yang banyak menghasilkan sampah. Dari kegiatan ini terlihat bahwa kreativitas dapat menjadi solusi ekologis, sekaligus sarana edukasi bahwa pemberian hadiah tidak harus selalu menghasilkan limbah baru.
Eksperimen kelima berfokus pada upaya memproduksi sampah secara bertanggung jawab. Hal ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari. Dari pengamatan tersebut, muncul kesadaran bahwa sebagian besar sampah berasal dari kebiasaan konsumtif dan penggunaan barang sekali pakai. Dengan kesadaran ini, muncul dorongan untuk mengurangi, menggunakan ulang, dan memilah sampah sejak awal.
Namun, tantangan terbesar dalam seluruh eksperimen ini adalah mengatasi rasa malas. Rasa malas sering muncul karena pengelolaan sampah dianggap merepotkan dan tidak langsung terlihat manfaatnya. Eksperimen ini menunjukkan bahwa mengatasi rasa malas membutuhkan perubahan pola pikir, dari melihat pengelolaan sampah sebagai beban menjadi bentuk tanggung jawab moral terhadap lingkungan.
Secara keseluruhan, eksperimen ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal kesadaran dan sikap. Sampah dapat menjadi media pembelajaran yang efektif untuk membangun kepedulian lingkungan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial jika dikelola dengan niat dan konsistensi.








0 komentar:
Posting Komentar