Rabu, 07 Januari 2026

esai ke-6

 



esai ke-6




Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M. A

Baiq Muthhiia Syafitri

Kelas A
Fakultas Psikologi 
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Pengalaman seru banget waktu kami sekelompok teman bikin kompos dari daun kering di rumah dosen. Dosen yang super asik ngajak ke rumahnya yang halamannya gede, penuh pohon rindang seperti mangga dan jambu. Daun numpuk tebal gara-gara kemarau panjang daripada dibuang atau dibakar, kami olah jadi pupuk organik. Kami enam orang, datang pagi-pagi dengan semangat tinggi, bawa ember dan karung. Awalnya nggak tahu caranya sama sekali, tapi dosen pandu step by step. Ternyata, prosesnya gampang dan hasilnya bikin kami bangga!

Pertama, kami kumpulin daun kering sebanyak-banyaknya, isi empat karung goni besar. Kami sobek-sobek daun pakai tangan, gunting, bahkan injak-injak biar potongannya kecil-kecil, sekitar 2-5 cm. Ini percepat penguraian karena mikroba lebih gampang kerja. Aktivatornya dosen udah siapin EM4, dicampur molase tetes tebu sama air bersih. Kami aduk di ember besar, rasio 1:1: bau manis asamnya enak, kayak fermentasi buah tape. Pernah kami coba nasi aking lembek sebagai pengganti murah, campur air sampai hancur total, tetep works sama bagusnya!

Kami sebar daun di terpal halaman dosen yang rata, siram larutan aktivator pelan-pelan pakai gayung sambil aduk rata pakai pengki kayu. Pengalaman kami, lembabnya harus pas kayak kain basah yang bisa diperas tapi airnya cuma menetes sedikit kalau kebanyakan, nanti becek, berjamur putih, dan bau amis seperti telur busuk. Daun langsung meresap nutrisi, kelihatan basah kinclong dan siap diolah. Lalu, timbun ke karung: lapis daun basah tebal 20 cm, tabur tanah kebun dosen setipis 5 cm, tambah kotoran kelinci segar 1-2 ember kecil, daun lagi, lalu siram sisa aktivator. Kayak main susun makanan organik berlapis, sambil ketawa-ketawa dan foto-foto!

Karung diikat longgar buat sirkulasi udara masuk, disimpan di pojok gudang belakang rumah dosen yang teduh. Tiap minggu kami datang bergantian buat aduk pakai pengki atau cangkul kecil—balik isi karung dari bawah ke atas supaya oksigen merata dan panas terjaga 40-60°C. Dosen sering ikut, kasih tips: "Jangan lupa cek suhu pakai tangan, hangat idealnya." Pernah tantangan waktu hujan deras, karung basah kuyup, kami tambah jerami kering biar drainase bagus. Dua bulan kemudian, buka karung: kompos hitam mengkilap, remah halus seperti bubuk kopi, bau tanah basah hujan sempurna tanpa sisa daun! Kami tabur di kebun dosen buat tomat, cabai, sama tanaman hias pertumbuhannya gila-gilaan: daun hijau lebat dalam seminggu, buahnya gede panen melimpah dua kali lipat. Bandingin sama tanah biasa tanpa kompos, beda kelas jauh!

Dari situ, kami ketagihan rutin. Sekarang halaman dosen selalu ada stok kompos segar, tanamannya makin hijau subur, bahkan dosen jual sisa ke tetangga. Pengalaman ini ajarin kami, sampah daun yang biasa numpuk sia-sia bisa jadi pupuk emas gratis. Meski kadang males aduk pas hujan, tapi lihat hasilnya dan tanaman sehat, worth it semua! Dosen bilang sambil tersenyum, "Lanjutkan tradisi ini di rumah kalian ya." Momen bareng teman di rumah dosen itu unforgettable nggak cuma skill kompos, tapi juga bonding seru dan pelajaran hidup soal tanggung jawab lingkungan sehari-hari.



0 komentar:

Posting Komentar