Berbagi Kesadaran, Menemukan Diri
oleh: Deltha Arthaliya
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Pada tanggal 15 November 2025, aku berkesempatan untuk berbagi tentang kesehatan mental bersama ibu-ibu PKK di Mejing Lor. Kegiatan ini sederhana, dilakukan di ruang yang akrab, dengan suasana yang hangat dan penuh kehadiran. Aku memulai dengan menjelaskan apa itu kesehatan mental, bagaimana seseorang mampu mengenali perasaan, mengelola emosi, dan berdamai dengan dirinya sendiri dalam keseharian.
Setelah berbagi penjelasan, kami berlatih mindfulness bersama. Dalam keheningan singkat, aku mengajak ibu-ibu untuk menyadari nafas, tubuh, dan pikiran yang hadir saat itu. Beberapa tampak canggung di awal, namun perlahan wajah-wajah mereka menjadi lebih rileks. Di momen itu, aku menyadari bahwa kehadiran penuh bukan hanya sebuah teknik, tetapi ruang aman untuk kembali pada diri sendiri. Jung menyebut proses ini sebagai langkah awal menuju kesadaran diri, ketika seseorang mulai mendengarkan apa yang selama ini terabaikan di dalam batinnya.
Selain itu, pada tanggal 23 November 2025, aku kembali berbagi edukasi kesehatan mental bersama ibu-ibu muda, sebuah komunitas dari pertemanan masa sekolah. Dinamikanya terasa berbeda, namun kebutuhan batinnya tetap sama, ingin dipahami dan dimengerti. Selain mindfulness, aku mengajak mereka mengekspresikan rasa dan emosi melalui seni. Tanpa tuntutan harus “bagus” atau “benar”, seni menjadi bahasa yang jujur untuk menyampaikan apa yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Ada warna-warna yang berani, ada garis-garis yang ragu, dan ada keheningan yang berbicara banyak.
Dalam perspektif Carl Gustav Jung, seni merupakan salah satu jalan dialog antara kesadaran dan ketidaksadaran. Ketika ibu-ibu menuangkan perasaan melalui warna dan bentuk, sesungguhnya mereka sedang memberi ruang pada isi batin yang selama ini tersimpan. Proses ini bukan tentang hasil akhir, melainkan tentang keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri. Di sanalah proses individuasi bekerja secara halus, sebuah perjalanan menjadi diri sendiri yang utuh.
Menariknya, dalam setiap sesi berbagi itu, aku tidak hanya memberi, tetapi juga menerima. Melihat ibu-ibu berani berhenti sejenak dari peran sehari-hari sebagai ibu, istri, dan anggota masyarakat, membuatku kembali merefleksikan diriku sendiri. Aku belajar bahwa kesehatan mental adalah proses yang hidup, dialami bersama, dan saling menguatkan. Jung mengatakan bahwa kita seringkali menyembuhkan bagian diri kita sendiri ketika membantu orang lain memahami dirinya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa berbagi pengetahuan bukan hanya soal transfer informasi, tetapi tentang perjumpaan batin. Di antara napas yang disadari, warna yang dituangkan, dan cerita yang mengalir, aku menemukan makna, bahwa merawat kesehatan mental adalah perjalanan bersama, lembut, dan penuh kesadaran, baik untuk mereka yang diajak berbagi, maupun untuk diriku sendiri.







0 komentar:
Posting Komentar