Sabtu, 10 Januari 2026

Perilaku Masyarakat Terhadap Sampah dalam Situasi Pengungsian

 Esai UAS Psikologi Lingkungan

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M. A
Andarini Sulistiawati
NIM. 24310410201
Kelas A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Perilaku Masyarakat Terhadap Sampah dalam Situasi Pengungsian

Pada keadaan kehidupan masyarakat yang normal (tidak pada masa pengungsian) individu persepsi dalam mengamati suatu objek, dalam hal ini adalah sampah. Sampah merupakan barang yang sudah tidak berguna  yang memiliki sifat-sifat tertentu, seperti kotor, bau, mengurangi ruang dan tidak enak dipandang. Sehingga hanya perlu disingkirkan dalam kantong lalu di buang. Begitu juga dengan masyarakat juga memiliki sifat malas, tidak terbiasa mengelola sampah. Untuk pengelolaan sampah selanjutnya sudah akan diurus oleh Dinas Lingkungan Hidup, masyarakat hanya perlu membayar iuran saja. Dengan begitu mereka tidak begitu merasakan masalah yang timbul dari sampah menumpuk.

Kini, mereka berhadapan dengan situasi baru yang mana hidup berdampingan dengan banyak orang, produksi sampah meningkat, ruang individu terbatas, kebijakan pemerintah menjadi sulit untuk tetap dijalankan. Untuk memahami lingkungan barunya, individu akan melakukan persepsi. Apabila lingkungan baru tersebut dipersepsikan sama dengan tempat tinggalnya yang lama (sampah diangkut truk dari pemerintah), maka akan menimbulkan stress bagi masyarakat.

Dalam kondisi yang segalanya serba terbatas di pengungsian, tentu kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup akan sulit dijalankan. Akibatnya, masyarakat dituntut untuk mengelola sampahnya sendiri. Sebagai individu yang tidak terbiasa dengan pengelolaan sampah mandiri, mereka akan mempersepsikan bahwa situasi baru tersebut di luar batas optimal. Menghadapi sampah yang terus menumpuk, akan membuat mereka stres, sehingga seharusnya mereka melakukan yang namanya copying behavior. Copying behavior adalah cara-cara individu mengatasi stres.

Apabila usaha untuk mengatasi stress itu berhasil, maka masyarakat telah melakukan penyesuaian diri, dengan mengubah diri agar sesuai dengan lingkungan (adaptasi) atau mengubah lingkungan agar sesuai dengan diri mereka (adjustment). Contoh perilaku adaptasi mengubah pola makan/minum yang menimbulkan lebih banyak sampah, melakukan kegiatan sederhana seperti meditasi singkat, bermain, berdoa, menggambar dsb, yang bisa mengurangi stres akibat sampah yang menumpuk. Dampaknya masyarakat menjadi terbiasa mengelola sampah dengan baik, dan menciptakan suasana yang lebih nyaman. Contoh perilaku adjustment yaitu memisahkan sampah organik dan anorganik, mendaur ulang botol plastik menjadi pot tanaman, menjadikan sampah organik sebagai pupuk kompos, serta menyapu dan mengumpulkan sampah di sekitar tenda mereka sendiri setiap pagi, lalu menyimpannya dalam lubang galian sederhana untuk mencegah penyebaran sampah. Tindakan ini dapat mengurangi sampah yang bertebaran dan rasa terganggu secara emosional.

Apabila usaha masyarakat dalam  mengatasi  stres  ternyata  gagal  dan  bila  kegagalan  itu berulang kali terjadi, maka situasi itu merupakan kondisi bagi masyarakat meyakinkan dirinya bahwa  ia  memang  orang  yang  tidak  mampu.  Atau dalam psikologi disebut dengan learned helplessness atau rasa tidak berdaya. Sebagai ilustrasi, masyarakat tidak memiliki alat yang memadai untuk mengubah sampah menjadi barang-barang berguna, dan banyak faktor lain.  Kegagalan terus-menerus  untuk  mengurangi volume sampah itu, membuat masyarakat percaya bahwa ia memang dilahirkan dengan kemampuan yang rendah dalam mengatasi hambatan lingkungan hidup. Mungkin itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan mereka yang mengelola sampah hanya dengan membayar iuran kepada pemerintah, sehingga mereka tidak terbiasa untuk berpikir bagaimana caranya mengelola sampahnya sendiri.

Dalam pembahasan tentang persepsi terhadap lingkungan hidup, hal yang paling penting adalah copying behavior atau usaha-usaha individu untuk mengatasi stres  akibat  situasi lingkungan  hidup  tidak  nyaman.  Pengetahuan  tentang  perilaku  pengatasan  stres  ini penting untuk berbagi pengalaman, sehingga kita semua mampu berpikir alternatif ketika menghadapi kesuntukan akibat situasi lingkunga hidup di sekeliling tidak nyaman.

Masyarakat pengungsi menangkap stimulus fisik sampah menumpuk di kamp melalui pancaindra mereka, seperti bau busuk dan tumpukan visual yang mengganggu, sebagaimana digambarkan dalam skema persepsi Paul A. Bell yang menekankan kontak awal individu dengan objek lingkungan. Pengalaman masa lalu, sikap, dan faktor kepribadian individu memfilter stimulus tersebut, menghasilkan interpretasi subjektif seperti persepsi ancaman kesehatan atau ketidaknyamanan sementara, yang kemudian memicu reaksi perilaku.

Daftar Pustaka:

Patimah, A., Shinta, A., & Adib, A. (2024). Persepsi Terhadap Lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1). 24-26. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807/975  

 

 

 




0 komentar:

Posting Komentar