Esai UAS Psikologi Lingkungan
Mata Kuliah Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M. A
Andarini Sulistiawati
NIM. 24310410201
Kelas A
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Perilaku Masyarakat Terhadap Sampah dalam Situasi Pengungsian
Pada keadaan kehidupan masyarakat yang
normal (tidak pada masa pengungsian) individu persepsi dalam mengamati suatu
objek, dalam hal ini adalah sampah. Sampah merupakan barang yang sudah tidak
berguna yang memiliki sifat-sifat
tertentu, seperti kotor, bau, mengurangi ruang dan tidak enak dipandang. Sehingga
hanya perlu disingkirkan dalam kantong lalu di buang. Begitu juga dengan masyarakat
juga memiliki sifat malas, tidak terbiasa mengelola sampah. Untuk pengelolaan
sampah selanjutnya sudah akan diurus oleh Dinas Lingkungan Hidup, masyarakat
hanya perlu membayar iuran saja. Dengan begitu mereka tidak begitu merasakan
masalah yang timbul dari sampah menumpuk.
Kini, mereka berhadapan dengan situasi baru
yang mana hidup berdampingan dengan banyak orang, produksi sampah meningkat,
ruang individu terbatas, kebijakan pemerintah menjadi sulit untuk tetap
dijalankan. Untuk memahami lingkungan barunya, individu akan melakukan
persepsi. Apabila lingkungan baru tersebut dipersepsikan sama dengan tempat
tinggalnya yang lama (sampah diangkut truk dari pemerintah), maka akan
menimbulkan stress bagi masyarakat.
Dalam kondisi yang segalanya serba
terbatas di pengungsian, tentu kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan sampah
oleh Dinas Lingkungan Hidup akan sulit dijalankan. Akibatnya, masyarakat
dituntut untuk mengelola sampahnya sendiri. Sebagai individu yang tidak terbiasa
dengan pengelolaan sampah mandiri, mereka akan mempersepsikan bahwa situasi
baru tersebut di luar batas optimal. Menghadapi sampah yang terus menumpuk,
akan membuat mereka stres, sehingga seharusnya mereka melakukan yang namanya copying
behavior. Copying behavior adalah cara-cara individu mengatasi stres.
Apabila usaha untuk mengatasi stress itu
berhasil, maka masyarakat telah melakukan penyesuaian diri, dengan mengubah
diri agar sesuai dengan lingkungan (adaptasi) atau mengubah lingkungan agar
sesuai dengan diri mereka (adjustment). Contoh perilaku adaptasi mengubah
pola makan/minum yang menimbulkan lebih banyak sampah, melakukan kegiatan
sederhana seperti meditasi singkat, bermain, berdoa, menggambar dsb, yang bisa
mengurangi stres akibat sampah yang menumpuk. Dampaknya masyarakat menjadi
terbiasa mengelola sampah dengan baik, dan menciptakan suasana yang lebih
nyaman. Contoh perilaku adjustment yaitu memisahkan sampah organik dan
anorganik, mendaur ulang botol plastik menjadi pot tanaman, menjadikan sampah
organik sebagai pupuk kompos, serta menyapu dan mengumpulkan sampah di sekitar
tenda mereka sendiri setiap pagi, lalu menyimpannya dalam lubang galian
sederhana untuk mencegah penyebaran sampah. Tindakan ini dapat mengurangi
sampah yang bertebaran dan rasa terganggu secara emosional.
Apabila usaha masyarakat dalam mengatasi
stres ternyata gagal
dan bila kegagalan
itu berulang kali terjadi, maka situasi itu merupakan kondisi bagi masyarakat
meyakinkan dirinya bahwa ia memang
orang yang tidak
mampu. Atau dalam psikologi
disebut dengan learned helplessness atau rasa tidak berdaya. Sebagai
ilustrasi, masyarakat tidak memiliki alat yang memadai untuk mengubah sampah
menjadi barang-barang berguna, dan banyak faktor lain. Kegagalan terus-menerus untuk mengurangi
volume sampah itu, membuat masyarakat percaya bahwa ia memang dilahirkan dengan
kemampuan yang rendah dalam mengatasi hambatan lingkungan hidup. Mungkin itu
juga dipengaruhi oleh kebiasaan mereka yang mengelola sampah hanya dengan
membayar iuran kepada pemerintah, sehingga mereka tidak terbiasa untuk berpikir
bagaimana caranya mengelola sampahnya sendiri.
Dalam pembahasan tentang persepsi
terhadap lingkungan hidup, hal yang paling penting adalah copying behavior
atau usaha-usaha individu untuk mengatasi stres
akibat situasi lingkungan hidup
tidak nyaman. Pengetahuan
tentang perilaku pengatasan
stres ini penting untuk berbagi
pengalaman, sehingga kita semua mampu berpikir alternatif ketika menghadapi
kesuntukan akibat situasi lingkunga hidup di sekeliling tidak nyaman.
Masyarakat pengungsi menangkap stimulus
fisik sampah menumpuk di kamp melalui pancaindra mereka, seperti bau busuk dan
tumpukan visual yang mengganggu, sebagaimana digambarkan dalam skema persepsi
Paul A. Bell yang menekankan kontak awal individu dengan objek lingkungan.
Pengalaman masa lalu, sikap, dan faktor kepribadian individu memfilter stimulus
tersebut, menghasilkan interpretasi subjektif seperti persepsi ancaman
kesehatan atau ketidaknyamanan sementara, yang kemudian memicu reaksi perilaku.
Daftar Pustaka:
Patimah, A., Shinta, A., & Adib, A.
(2024). Persepsi Terhadap Lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1). 24-26. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807/975







0 komentar:
Posting Komentar