Sabtu, 10 Januari 2026

ESSAI UAS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

ESSAI JAWABAN UAS PSIKOLOGI LINGKUNGAN 

 NAMA : MUAINI

NIM: 25310420012

PSIKOLOGI LINGKUNGAN A 

DOSEN PENGAMPU Dr. Dra Arundati Shinta .M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta  



perilaku dan persepsi masyarakat pengungsian sumatra 

Situasi pengungsian akibat bencana lingkungan di akhir tahun 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah perilaku dan persepsi masyarakat. Dalam kndisi darurat, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan keamnan. Sampah sering kali diperspsikan sebagai persoalan sekunder. Untuk memahami kebiasaan dan perilaku ini, skema persepsi lingkungan dari Paul A. Bell dan kawan-kwan dapat digunakan sebagai kerangka analisis.

 Namun, dalam kondisi stres dan ketidakpatian, persepsi masyarakat terhadap sampah cenderung melamah. Fokus perhatian pengungsi terserap pada pemenuhan kebutuhan primer untuk bertahan hiidup. Bell menjelaskan bahwa dalam situasi tekanan tinggi, individu melakukan penyederhanaan persepsi terhadap lingkungan, sehingga masalah yang tidak dianggap menganam secara lngsung, Sampah dipersepsi bukan sebagai bahaya kesehatan jangka panjang, melainkan sebagai konsekuensi wajar dari kondisi darurat. 

Menurut Bell et al. (2001), persepsi manusia terhadap lingkungan dipengaruhi oleh stimulus lingkungan, proses kognitif, dan respons perilaku. Dalam konteks pengungsian, stimulus lingkungan berupa kondisi fisik yang penuh tekanan: tenda sempit, kepadatan penduduk, keterbatasan fasilitas, serta tumpukan sampah yang semakin hari semakin banyak. Sampah yang menumpuk menjadi stimulus visual dan bau yang kuat, namun karena masyarakat berada dalam situasi stres dan kelelahan, stimulus tersebut sering kali diabaikan atau dianggap wajar dalam kondisi darurat.

Tahap berikutnya adlah proses kognitif, yaitu bagaimana individu menafsirkan stimulus tersebut. Mengacu pada Sarwono (1995), persepsi dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, nilai, dan kebiasaan. Masyarakat yang selama ini dimanjakan oleh pemerintah dalam urusan pengelolaan sampah cenderung membentuk skema berpikir bahwa sampah adalah tanggung jawab petugas atau pemerintah daerah. Ketika berada di pengungsian, skema ini tetap terbawa. Masyarakat menilai bahwa selama ada bantuan pemerintah dan relawan, maka urusan sampah juga seharusnya ditanngani pihak lain. Akibatnya, meskipun menyadari sampah menimbulkan bau dan penyakit, tidak muincul dorongan kuat untuk mengelola sampah secara mandiri.

Selain itu, tekanan psikologis akibat bencaana juga memeengaruhi persepsi. Bell et al. (2001) menjelaskan bahwa stres lingkungan dapast menurunmkan kepedulian terhadap norma sosial dan lingkungan. Dalam kondisi pengungsian, masyarakat lebih fokus pada bertahan hidup daripada menjaga kebersihan. Hal ini diperkuat oleh Patimah et al. (2024) yang menyebutkan bahwa pada situasi krisis, perilaku pro-lingkungan cenderung menurun jika tidak ada sistem dan kontrokl sosial yang jelas.

Tahap terakhir adalah respons perilaku. Persepsi bahwa sampah bukan tanggung jawab pribadi menghasilkan perilaku membuang sampah sembarangan di sekitar tenda pengungsian. Tidak adanya fasilitas pemilahan sampah, kurangnya edukasi darurat, serta lemahnya pengawasan membuat perilaku ini terus berulang. Lambat laun, tumpukan sampah menjaadi bagian dasri lingkungan normal di pengungsian, meskipun sebenarnya mengancam kesehatan dan sanitasi.

Bell menekankan pentingnya perceived control, dimana Masyarakat merasa kehilangan kendali atas hidupnya Ketika berasa di pengungsian, karena terbiasa di manjakan oleh simtem angkut buang mereka tidak memiliki keterampilan mauypun Teknik untuk mengelola sampah secara mandiri seperti memilah atau mengubur. Sehingga penilaian terhadap resiko Kesehatan seringkali kalah oleh urgensi panganm.

Dari analisis ini dapat disimpulkan bahwa perilaku masyarakat terhadap sampah di pengungsian bukan semata-mata karena ketidaktahuan, tetapi hasil dari perepsi yang terbentuk lama sebelum bencana terjadi. Kebijakan yang terlalu menempatkan pemerintah sebagai aktor utama pengelolaaan sampah tanpa penguatan tanggung jawab individu turut membentuk persepsi pasif masyarakat. Oleh karena itu, penanganan sampah di pengungsian tidak cukup hanya dengan menytediakan petugas, tetapi juga perlu menguah persepsi melalui edukai singkat, aturan sederhana, dan pelibatan aktif pengungsi agar kesehatan dan sanitasi tetap terjaga.

Daftar Pustaka

Bell, P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. (2001). Environmental Psychology. Fort Worth: Harcourt College Publishers.

Patimah, S., dkk. (2024). Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan pada Situasi Krisis. Jurnal Psikologi Lingkungan, 12(1), 45–58.

Sarwono, S. W. (1995). Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo.

0 komentar:

Posting Komentar