Sabtu, 10 Januari 2026

PSIKOLOGI LINGKUNGAN - UJIAN AKHIR SEMESTER - SAMPAH DI PENGUNGSIAN, CERMIN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP LINGKUNGAN - AGNES L F - 23310420047

Sampah di Pengungsian, Cermin Perilaku Masyarakat Terhaddap Lingkungan


Agnes L F (23310420047)

Kelas SPSJ

Psikologi Lingkungan

Bencana lingkungan yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun 2025 membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah dan menjalani kehidupan di lokasi pengungsian dengan berbagai keterbatasan. Dalam kondisi darurat seperti ini, perhatian masyarakat secara alami tertuju pada pemenuhan kebutuhan paling mendasar, seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan rasa aman. Namun demikian, persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di pengungsian, sering kali terabaikan, padahal memiliki dampak langsung terhadap kesehatan dan kualitas hidup pengungsi.

Di lokasi pengungsian, sampah tidak hanya berasal dari aktivitas rumah tangga sehari hari, tetapi juga berupa sampah kayu dalam jumlah besar. Sampah kayu tersebut berasal dari puing rumah, perabotan yang rusak, serta batang pohon yang terbawa bencana. Tumpukan sampah ini memenuhi area sekitar tenda, jalur akses, dan ruang publik, sehingga menciptakan lingkungan yang kotor dan tidak nyaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan sampah di pengungsian tidak dapat dilepaskan dari perilaku lingkungan masyarakat itu sendiri.

Perilaku Lingkungan dalam Perspektif Psikologi Lingkungan

Psikologi lingkungan memandang perilaku manusia terhadap lingkungan sebagai hasil interaksi antara individu dan konteks sosial serta fisik di sekitarnya. Bell et al. (2001) menjelaskan bahwa perilaku lingkungan dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap lingkungan, norma sosial yang berlaku, pengetahuan dan sikap terhadap lingkungan, serta persepsi kontrol terhadap perilaku. Kerangka ini memberikan dasar teoritis untuk memahami mengapa perilaku menelantarkan sampah tetap muncul, bahkan dalam kondisi lingkungan yang berisiko bagi kesehatan.

Dalam konteks pengungsian, tekanan emosional, ketidakpastian hidup, dan perubahan drastis dalam kondisi lingkungan turut membentuk cara individu merespons lingkungan sekitarnya.

Persepsi Lingkungan Pengungsian

Lingkungan pengungsian umumnya dipersepsikan sebagai ruang sementara yang bersifat darurat. Persepsi ini berpengaruh terhadap rendahnya rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. Lingkungan pengungsian tidak dipandang sebagai ruang hidup yang perlu dijaga dalam jangka panjang, melainkan sebagai tempat menunggu bantuan dan kepastian. Akibatnya, sampah dipersepsikan sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari kondisi pasca bencana.

Sampah kayu memperkuat persepsi tersebut karena ukurannya yang besar dan asalnya yang tidak langsung berasal dari aktivitas pengungsi. Banyak pengungsi memandang sampah kayu sebagai sesuatu yang berada di luar kemampuan dan tanggung jawab individu, sehingga dibiarkan menumpuk tanpa upaya pengelolaan awal.

Norma Sosial dan Ketergantungan terhadap Pemerintah

Norma sosial yang terbentuk sebelum bencana memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku masyarakat di pengungsian. Selama ini, masyarakat terbiasa menyerahkan pengelolaan sampah kepada pemerintah daerah melalui sistem iuran kebersihan. Kebiasaan ini diperkuat oleh regulasi yang menempatkan pemerintah sebagai pihak utama dalam pengelolaan sampah (Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008).

Dalam situasi pengungsian, norma ketergantungan ini tidak serta merta berubah. Masyarakat cenderung menunggu tindakan dari pemerintah atau relawan dalam menangani sampah, termasuk sampah kayu. Tidak terbentuknya norma sosial baru yang menekankan tanggung jawab kolektif menyebabkan perilaku pasif terhadap sampah terus berlanjut.

Pengetahuan, Sikap, dan Tekanan Psikologis

Pengetahuan masyarakat mengenai dampak kesehatan dari penumpukan sampah di pengungsian masih terbatas. Sampah rumah tangga yang membusuk dapat menjadi sumber penyakit, sementara tumpukan sampah kayu berpotensi menjadi tempat berkembangnya serangga dan hewan pembawa penyakit, serta meningkatkan risiko kecelakaan fisik. Namun, keterbatasan pengetahuan mengenai sanitasi darurat membuat sikap masyarakat terhadap sampah cenderung reaktif.

Tekanan psikologis akibat kehilangan tempat tinggal dan ketidakpastian masa depan turut memengaruhi sikap tersebut. Dalam kondisi ini, perhatian terhadap kebersihan lingkungan sering kali dianggap bukan sebagai prioritas utama.

Persepsi Kontrol terhadap Perilaku

Persepsi kontrol merupakan faktor penting dalam perilaku lingkungan. Banyak pengungsi merasa tidak memiliki kemampuan, wewenang, maupun sarana untuk mengelola sampah di lingkungan pengungsian. Persepsi bahwa hanya pihak berwenang yang mampu menangani sampah, terutama sampah kayu yang besar dan berat, menurunkan rasa tanggung jawab individu. Ketika individu merasa bahwa tindakannya tidak akan memberikan dampak yang signifikan, motivasi untuk berperilaku pro lingkungan menjadi rendah (Bell et al., 2001).

Implikasi dan Upaya Pemecahan Masalah

Pengelolaan sampah di pengungsian memerlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis dan sosial. Edukasi singkat mengenai sanitasi darurat perlu diberikan kepada pengungsi dengan menekankan dampak langsung terhadap kesehatan keluarga. Pembentukan kesepakatan sederhana antar pengungsi mengenai kebersihan lingkungan dapat membantu membangun norma sosial baru yang lebih adaptif.

Sampah rumah tangga memerlukan fasilitas dasar seperti tempat sampah dan sistem pengangkutan rutin. Sementara itu, sampah kayu dapat dikelola melalui pemilahan dan pemanfaatan ulang secara terbatas, misalnya sebagai penyangga tenda atau jalur pijakan sementara, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan. Kegiatan kerja bakti ringan juga dapat meningkatkan rasa memiliki dan persepsi kontrol terhadap lingkungan pengungsian.

Kesimpulan

Permasalahan sampah di pengungsian merupakan refleksi dari perilaku lingkungan masyarakat yang dibentuk oleh persepsi, norma sosial, pengetahuan, dan rasa kontrol individu. Melalui perspektif psikologi lingkungan yang dikemukakan oleh Bell et al. (2001), dapat dipahami bahwa perilaku menelantarkan sampah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan psikologis dan sosial. Oleh karena itu, upaya pemulihan pasca bencana perlu memperhatikan perubahan perilaku dan kesadaran lingkungan masyarakat agar kualitas hidup di pengungsian dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.


Daftar Pustaka

Bell, P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. (2001). Environmental psychology (5th ed.). Harcourt College Publishers.

Patimah, S., Rahmawati, D., & Nugroho, A. (2024). Perilaku pro lingkungan masyarakat dalam situasi pengungsian bencana alam. Jurnal Psikologi Lingkungan Indonesia, 13(1), 45–58.

Sarwono, S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Grasindo.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Antara News. (2025). Kondisi sanitasi dan penumpukan sampah di lokasi pengungsian korban bencana.

The Jakarta Post. (2025). Waste management challenges in disaster evacuation camps in Indonesia.

 


0 komentar:

Posting Komentar