Sampah
di Pengungsian, Cermin Perilaku Masyarakat Terhaddap Lingkungan
Agnes L F (23310420047)
Kelas SPSJ
Psikologi Lingkungan
Bencana
lingkungan yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir
tahun 2025 membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Ribuan orang
terpaksa meninggalkan rumah dan menjalani kehidupan di lokasi pengungsian
dengan berbagai keterbatasan. Dalam kondisi darurat seperti ini, perhatian
masyarakat secara alami tertuju pada pemenuhan kebutuhan paling mendasar,
seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan rasa aman. Namun demikian,
persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di pengungsian, sering kali
terabaikan, padahal memiliki dampak langsung terhadap kesehatan dan kualitas
hidup pengungsi.
Di
lokasi pengungsian, sampah tidak hanya berasal dari aktivitas rumah tangga
sehari hari, tetapi juga berupa sampah kayu dalam jumlah besar. Sampah kayu
tersebut berasal dari puing rumah, perabotan yang rusak, serta batang pohon
yang terbawa bencana. Tumpukan sampah ini memenuhi area sekitar tenda, jalur
akses, dan ruang publik, sehingga menciptakan lingkungan yang kotor dan tidak
nyaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan sampah di pengungsian tidak
dapat dilepaskan dari perilaku lingkungan masyarakat itu sendiri.
Perilaku
Lingkungan dalam Perspektif Psikologi Lingkungan
Psikologi
lingkungan memandang perilaku manusia terhadap lingkungan sebagai hasil
interaksi antara individu dan konteks sosial serta fisik di sekitarnya. Bell et
al. (2001) menjelaskan bahwa perilaku lingkungan dipengaruhi oleh persepsi
individu terhadap lingkungan, norma sosial yang berlaku, pengetahuan dan sikap
terhadap lingkungan, serta persepsi kontrol terhadap perilaku. Kerangka ini
memberikan dasar teoritis untuk memahami mengapa perilaku menelantarkan sampah
tetap muncul, bahkan dalam kondisi lingkungan yang berisiko bagi kesehatan.
Dalam
konteks pengungsian, tekanan emosional, ketidakpastian hidup, dan perubahan
drastis dalam kondisi lingkungan turut membentuk cara individu merespons
lingkungan sekitarnya.
Persepsi
Lingkungan Pengungsian
Lingkungan
pengungsian umumnya dipersepsikan sebagai ruang sementara yang bersifat
darurat. Persepsi ini berpengaruh terhadap rendahnya rasa memiliki dan tanggung
jawab terhadap kebersihan lingkungan. Lingkungan pengungsian tidak dipandang
sebagai ruang hidup yang perlu dijaga dalam jangka panjang, melainkan sebagai
tempat menunggu bantuan dan kepastian. Akibatnya, sampah dipersepsikan sebagai
konsekuensi yang tidak terhindarkan dari kondisi pasca bencana.
Sampah
kayu memperkuat persepsi tersebut karena ukurannya yang besar dan asalnya yang
tidak langsung berasal dari aktivitas pengungsi. Banyak pengungsi memandang
sampah kayu sebagai sesuatu yang berada di luar kemampuan dan tanggung jawab
individu, sehingga dibiarkan menumpuk tanpa upaya pengelolaan awal.
Norma
Sosial dan Ketergantungan terhadap Pemerintah
Norma
sosial yang terbentuk sebelum bencana memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku
masyarakat di pengungsian. Selama ini, masyarakat terbiasa menyerahkan
pengelolaan sampah kepada pemerintah daerah melalui sistem iuran kebersihan.
Kebiasaan ini diperkuat oleh regulasi yang menempatkan pemerintah sebagai pihak
utama dalam pengelolaan sampah (Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun
2008).
Dalam
situasi pengungsian, norma ketergantungan ini tidak serta merta berubah.
Masyarakat cenderung menunggu tindakan dari pemerintah atau relawan dalam
menangani sampah, termasuk sampah kayu. Tidak terbentuknya norma sosial baru
yang menekankan tanggung jawab kolektif menyebabkan perilaku pasif terhadap
sampah terus berlanjut.
Pengetahuan,
Sikap, dan Tekanan Psikologis
Pengetahuan
masyarakat mengenai dampak kesehatan dari penumpukan sampah di pengungsian
masih terbatas. Sampah rumah tangga yang membusuk dapat menjadi sumber
penyakit, sementara tumpukan sampah kayu berpotensi menjadi tempat
berkembangnya serangga dan hewan pembawa penyakit, serta meningkatkan risiko
kecelakaan fisik. Namun, keterbatasan pengetahuan mengenai sanitasi darurat
membuat sikap masyarakat terhadap sampah cenderung reaktif.
Tekanan
psikologis akibat kehilangan tempat tinggal dan ketidakpastian masa depan turut
memengaruhi sikap tersebut. Dalam kondisi ini, perhatian terhadap kebersihan
lingkungan sering kali dianggap bukan sebagai prioritas utama.
Persepsi
Kontrol terhadap Perilaku
Persepsi
kontrol merupakan faktor penting dalam perilaku lingkungan. Banyak pengungsi
merasa tidak memiliki kemampuan, wewenang, maupun sarana untuk mengelola sampah
di lingkungan pengungsian. Persepsi bahwa hanya pihak berwenang yang mampu
menangani sampah, terutama sampah kayu yang besar dan berat, menurunkan rasa
tanggung jawab individu. Ketika individu merasa bahwa tindakannya tidak akan
memberikan dampak yang signifikan, motivasi untuk berperilaku pro lingkungan
menjadi rendah (Bell et al., 2001).
Implikasi
dan Upaya Pemecahan Masalah
Pengelolaan
sampah di pengungsian memerlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis,
tetapi juga psikologis dan sosial. Edukasi singkat mengenai sanitasi darurat
perlu diberikan kepada pengungsi dengan menekankan dampak langsung terhadap
kesehatan keluarga. Pembentukan kesepakatan sederhana antar pengungsi mengenai
kebersihan lingkungan dapat membantu membangun norma sosial baru yang lebih
adaptif.
Sampah
rumah tangga memerlukan fasilitas dasar seperti tempat sampah dan sistem
pengangkutan rutin. Sementara itu, sampah kayu dapat dikelola melalui pemilahan
dan pemanfaatan ulang secara terbatas, misalnya sebagai penyangga tenda atau
jalur pijakan sementara, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan. Kegiatan
kerja bakti ringan juga dapat meningkatkan rasa memiliki dan persepsi kontrol
terhadap lingkungan pengungsian.
Kesimpulan
Permasalahan
sampah di pengungsian merupakan refleksi dari perilaku lingkungan masyarakat
yang dibentuk oleh persepsi, norma sosial, pengetahuan, dan rasa kontrol
individu. Melalui perspektif psikologi lingkungan yang dikemukakan oleh Bell et
al. (2001), dapat dipahami bahwa perilaku menelantarkan sampah bukan sekadar
persoalan teknis, melainkan persoalan psikologis dan sosial. Oleh karena itu,
upaya pemulihan pasca bencana perlu memperhatikan perubahan perilaku dan
kesadaran lingkungan masyarakat agar kualitas hidup di pengungsian dapat
ditingkatkan secara berkelanjutan.
Daftar
Pustaka
Bell,
P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. (2001). Environmental
psychology (5th ed.). Harcourt College Publishers.
Patimah,
S., Rahmawati, D., & Nugroho, A. (2024). Perilaku pro lingkungan masyarakat
dalam situasi pengungsian bencana alam. Jurnal Psikologi Lingkungan
Indonesia, 13(1), 45–58.
Sarwono,
S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Grasindo.
Undang
Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Antara
News. (2025). Kondisi sanitasi dan penumpukan sampah di lokasi pengungsian
korban bencana.
The
Jakarta Post. (2025). Waste management challenges in disaster evacuation camps
in Indonesia.






0 komentar:
Posting Komentar