Nama : Amandha Riesma Azzahra
Nim : 24310410046
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Keadaan Masyarakat yang terkena bencana pada akhir tahun 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sangat memprihatinkan. Masyarakat hidup dalam kondisi yang sangat tidak menentu, mereka kehilangan tempat tinggal, keterbatasan fasilitas, serta ancaman bencana susulan membuat pengungsi memusatkan energi mereka pada upaya bertahan hidup. Ketersediaan makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan keamanan menjadi prioritas utama yang mereka perhatikan. Sementara persoalan sampah berada di posisi yang kurang diperhatikan. Dalam perspektif psikologi lingkungan Paul A. Bell, kondisi fisik seperti kepadatan pengungsian, keterbatasan sarana, dan ketidaknyamanan berperan sebagai stimulus lingkungan yang kuat dan terus-menerus, sehingga individu mengalami tekanan sensorik dan emosional.
Tekanan sensorik dan empsional tersebut memengaruhi cara pengungsi memersepsikan lingkungannya. Sampah yang menumpuk tidak dipandang sebagai ancaman langsung, melainkan sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari hidup dalam kondisi darurat. Proses persepsi ini tidak terlepas dari pengalaman masyarakat sebelum bencana, ketika pengelolaan sampah sehari-hari diserahkan kepada pemerintah daerah melalui sistem iuran. Pola hubungan tersebut membentuk pemahaman bahwa tanggung jawab terhadap sampah berada di luar diri warga. Paul A. Bell menjelaskan bahwa persepsi manusia selalu dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya sehingga kebiasaan lama tetap terbawa meskipun konteks sosial dan lingkungan telah berubah drastis.
Selain itu faktor psikologis turut memperkuat cara pandang tersebut. Stres berkepanjangan, rasa cemas, dan kelelahan mental akibat bencana membuat kemampuan individu untuk memikirkan dampak jangka panjang menurun. Dalam kondisi seperti ini perhatian lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat segera. Sampah baru dianggap masalah ketika sudah menimbulkan bau menyengat atau penyakit bukan sejak awal penumpukannya. Selain itu permasalahan yang dilakukan individu di pengungsian dapat membentuk norma baru. Yaitu ketika banyak orang membuang sampah sembarangan, tindakan tersebut dianggap lumrah dan dapat diterima. Hal ini sejalan dengan pandangan Paul A. Bell dan Sarwono yang menyebutkan bahwa lingkungan sosial berfungsi sebagai penguat perilaku tertentu.
Dari proses persepsi tersebut terbentuk sikap pasif terhadap pengelolaan sampah yang ada disekitar mereka. Pengungsi cenderung merasa tidak memiliki kendali dan tanggung jawab atas kondisi lingkungannya. Mereka menggantungkan harapan pada bantuan pemerintah atau petugas resmi. Sikap ini kemudian bisa masuk dalam perilaku menelantarkan sampah, tidak adanya upaya kolektif untuk menjaga kebersihan, serta rendahnya inisiatif pribadi. Solusi yang seharusnya dilakukan selain tetap sadar akan kewajiban yang harus dilakukan diri sendiri untuk menjaga, mengelola, dan membuang sampah pada tempatnya adalah dengan bantuan dari pemerimtah atau relawan. Pemerintah, relawan dan masyarakat bisa saling mengingatkan dan juga memberikan himbauan atau arahan , memfasilitasi, dan juga memastikan bahwa sistem pembuangan dan pengelolaan sampah di pengungsian berjalan dengan lancar.
Dengan menggunakan bagan persepsi Paul A. Bell, dapat dipahami bahwa masalah sampah di pengungsian bukan sekadar akibat kurangnya fasilitas, melainkan hasil interaksi kompleks antara tekanan lingkungan, pengalaman kebijakan masa lalu, kondisi psikologis krisis, dan norma sosial yang terbentuk dalam situasi darurat.
Daftar Pustaka
Patimah, S., et al. (2024). Perilaku lingkungan dan tantangan pengelolaan sampah dalam situasi krisis. Jurnal Psikologi Lingkungan, 12(1), 45–60.
Bell, P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. (2001). Environmental Psychology. Fort Worth: Harcourt College Publishers.
Sarwono, S. W. (1995). Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo.







0 komentar:
Posting Komentar