Sabtu, 10 Januari 2026

Esai 11 UAS Psikologi Lingkungan

 

Persepsi Lingkungan dan Perilaku Masyarakat Pengungsian terhadap Sampah

Oleh : Iqbal Fahri Alfarisyi | 24310410012 | SP&SJ

Dosen Pembimbing : Dr. Shinta Arundita






Bencana longsor dan banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun 2025 membuat masyarakat hidup dalam situasi pengungsian. Dalam situasi darurat, prioritas utama bagi pengungsi adalah terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, air bersih, fasilitas layanan kesehatan, dan keamanan. Disisi lain persoalan sampah sering terabaikan, meskipun hal itu dapat mengancam kesehatan bagi para pengungsi. Fenomena mengabaikan sampah sebenarnya bukan perilaku baru, melainkan kebiasaan dari masyarakat.

Permasalahan

Perilaku masyarakat yang menelantarkan sampah dipengaruhi oleh faktor kebijakan dan kebiasaan sosial. Berdasarkan UU No. 18 Tahun 2008 Pasal 5 dan Pasal 12, pengelolaan sampah diposisikan sebagai tanggung jawab pemerintah daerah melalui sistem layanan resmi. Pola ini membentuk persepsi bahwa masyarakat cukup membayar tanpa perlu terlibat aktif. Menurut (Gifford, 2014) kebijakan publik dapat membentuk persepsi lingkungan yang kemudian memengaruhi perilaku individu. Ketika sistem pengelolaan sampah formal tidak berjalan di pengungsian, masyarakat tidak memiliki kesiapan psikologis untuk mengambil alih peran tersebut, sehingga sampah dibiarkan menumpuk.

 Analisis Berdasarkan Bagan Persepsi Paul A. Bell

Menurut Paul A. Bell (UZZELL, 2012) menjelaskan bahwa perilaku lingkungan manusia merupakan hasil dari proses persepsi yang melibatkan stimulus lingkungan, interpretasi kognitif, respons emosional, dan akhirnya tindakan. Dalam situasi pengungsian, stimulus berupa tumpukan sampah, bau tidak sedap, dan lingkungan kumuh awalnya menimbulkan persepsi negatif. Namun, seiring waktu, terjadi adaptasi perseptual akibat paparan stimulus yang terus menerus. Kondisi ini menyebabkan sampah dianggap sebagai hal biasa dan tidak lagi memicu respons aktif.

Proses kognitif masyarakat juga dipengaruhi oleh pengalaman sebelum bencana, yaitu kebiasaan menyerahkan pengelolaan sampah kepada pemerintah. Persepsi bahwa itu bukan tanggung jawab individu kemudian diperkuat dengan regulasi yang ada. Secara emosional, tekanan hidup di pengungsian memunculkan rasa lelah, pasrah, dan ketidakberdayaan. Menurut (Gifford, 2014b) stres lingkungan dapat menurunkan kepedulian individu terhadap perilaku pro lingkungan. Kombinasi faktor persepsi, kognisi, dan emosi tersebut akhirnya menghasilkan perilaku pasif berupa acuh terhadap sampah, meskipun masyarakat menyadari dampak buruk pada kesehatan.

Solusi

Solusi pengelolaan sampah di pengungsian harus menyasar pada perubahan persepsi dan perilaku. Pertama, diperlukan intervensi psikologi lingkungan melalui edukasi sederhana dan visual yang menegaskan hubungan langsung antara sampah, penyakit, dan keselamatan keluarga (Schultz, 2000). Kedua, membentuk kelompok pengelola sampah berbasis komunitas dari pengungsi itu sendiri sehingga dapat meningkatkan tanggung jawab kolektif dan kontrol diri (Bamberg & Möser, 2007). Ketiga, pemerintah perlu menggeser pendekatan dari sekedar pelayanan menjadi pemberdayaan, agar masyarakat tidak hanya menjadi objek bantuan, tetapi subjek pengelolaan lingkungan.

Kesimpulan

Pengabaian sampah di pengungsian merupakan hasil dari persepsi lingkungan yang terbentuk melalui kebijakan, pengalaman masa lalu, dan kondisi psikologis darurat. Dengan menggunakan bagan persepsi Paul A. Bell, dapat dipahami bahwa perubahan perilaku hanya dapat terjadi jika persepsi, kognisi, dan emosi masyarakat disentuh secara bersamaan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah di pengungsian harus dipandang sebagai bagian penting dari kesehatan lingkungan dan kesejahteraan psikologis pengungsi.



Referensi

Bamberg, S., & Möser, G. (2007). Twenty years after Hines, Hungerford, and Tomera: A new meta-analysis of psycho-social determinants of pro-environmental behaviour. Journal of Environmental Psychology, 27(1), 14–25. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2006.12.002

Gifford, R. (2014a). Environmental psychology matters. Annual Review of Psychology, 65, 541–579. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010213-115048

Gifford, R. (2014b). Environmental psychology matters. Annual Review of Psychology, 65(September), 541–579. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010213-115048

Schultz, P. (2000). Berempati dengan alam: Pengaruh pengambilan perspektif terhadap kepedulian terhadap isu lingkungan. Journal of Social Issues, 391–406.

UZZELL, G. M. A. D. (2012). Environmental Psychology. Encyclopedia of Human Behavior: Second Edition, 5, 54–60. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-375000-6.00150-6

 




0 komentar:

Posting Komentar