Sabtu, 10 Januari 2026

Esai Jawaban UAS Erika Fadhilah

   

Esai Jawaban UAS



Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta, M. A
Erika Fadhilah Umi
24310410203
Kelas A
Fakultas Psikologi 
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


   Akhir tahun 2025, bencana alam banjir, longsor, dan kerusakan hutan melanda wilayah di Indonesia, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini memaksa ribuan warga hidup dalam kondisi pengungsian yang serba terrbatas. Dalam situasi tersebut, kebutuhan dasar seeperti makan, air bersih, kesehatan, dan keamanan menjadi prioritas utama. Salah satu aspek kesehatan lingkungan yang terabaikan adalah pengelolaan sampah. Sampah menumpuk dan berserakan di area pengungsian, memperburuk kondisi sanitasi dan meningkatkan risiko penyakit. Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan bagan persepsi lingkungan dari paul A. Bell dan kawan-kawan.

    Menurut Bell et al. (2001), perilaku manusia terhadap lingkungan dipengaruhi oleh proses persepsi, interpretasi, dan pembentukan sikap sebelum akhirnya termanifestasi dalam tindakan nyata. Lingkungan fisik menjadi stimulus awal yang ditangkap oleh indera, lalu diolah secara kognitif berdasarkan pengalaman, nilai dan norma sosial. Dalam konteks pengungsian, lingkungan fisik ditandai oleh kondisi darurat, kepadatan penduduk, keterbatasan fasilitas, serta ancaman bencana lanjutan. Sampah yang menumpuk menjadi bagian realitas lingkungan yang terus-menerus dihadapi oleh para pengungsi.

   Namun, dalam kondisi stres dan ketidakpastian, persepsi masyarakat terhadap sampah cenderung melamah. Fokus perhatian pengungsi terserap pada pemenuhan kebutuhan primer untuk bertahan hidup. Bell menjelaskan bahwa dalam situasi tekanan tinggi, individu melakukan penyederhanaan persepsi terhadap lingkungan, sehingga masalah yang tidak dianggap mengancam secara langsung, seperti sampah, diposisikan sebagai persoalan sekunder. Sampah dipersepsi bukan sebagai bahaya kesehatan jangka panjang, melainkan sebagai konsekuensi wajar dari kondisi darurat. 

   Tahap berikutnya  adalah interpretasi atau pemberian makna terhadap kondisi tersebut. Pengalaman hidup sebelum bencana serta kerangka regulasi negara berperan penting dalam membentuk kognisi masyarakat. Selama ini, pengelolaan sampah dipahami sebagai tanggung jawab pemerintah daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Kebiasaan membayar retribusi sampah menumbuhkan keyakinan bahwa masyarakat tidak perlu terlibat langusng dalam pengelolaan sampah. Di pengungsian, interpretasi ini semakin menguat karena situasi dianggap sementara dan berada sepenuhnya di bawah kendali pemerintah.

   Dari persepsi dan interpretasi tersebut, terbentuk sikap apatis terhadap kebersihan lingkungan pengungsian. Masyarakat menunjukan toleransi tinggi terhadap kondisi kotor dan tidak terkelola. Sarwono (1995) menjelaskan bahwa ketika norma sosial dan struktural tidak mendorong keterlibatan individu, maka kepedulian lingkungan akan melemah. Sikap pasif ini kemudian termanifestasi dalam perilaku konkret berupa pembuangan sampah sembarangan dan penelantaran sampah di sekitar tempat tinggal sementara.

   Dengan demikian, perilaku masyarakat pengungsian terhadap sampah bukan semata-mata akibat kurangnya kesadaran, melainkan hasil dari proses persepsi lingkungan yang dipengaruhi oleh kondisi darurat, pengalaman sosial, dan kerangka kebijakan. Analisis menggunakan bagan persepsi Paul A. Bell menunjukkan bahwa perubahan perilaku pengelolaan sampah memerlukan intervensi tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga pada persepsi, interpretasi, dan sikap masyarakat terhadap lingkungan tempat mereka hidup, meskipun bersifat sementara.

   


0 komentar:

Posting Komentar