Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
UTS
Adaptasi Pengungsi Bencana Aceh Menurut Bagan Persepsi Paul A. Bell
Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arudati Shinta, M.A.
Menurut bagan persepsi yang dikemukakan oleh Paul A. Bell, perilaku manusia terhadap lingkungan terbentuk melalui rangkaian proses yang saling berkaitan, mulai dari kondisi lingkungan sebagai stimulus, cara individu memersepsikannya, proses penilaian, hingga munculnya respons dan perilaku nyata. Kerangka ini menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dipahami hanya dari aspek fisiknya, melainkan harus dilihat dari bagaimana manusia menafsirkan dan memberi makna terhadap lingkungan tersebut.
Proses ini bermula ketika seseorang berhadapan dengan situasi lingkungan tertentu, seperti lingkungan yang bersih, padat, atau berada dalam tekanan tinggi saat terjadi bencana. Kondisi tersebut ditangkap oleh pancaindra, lalu diolah melalui persepsi yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup, kebiasaan sehari-hari, serta cara pandang individu. Setelah itu, individu akan melakukan penilaian mengenai apakah kondisi lingkungan tersebut masih dapat diterima atau tidak.
Apabila lingkungan masih dianggap dapat ditoleransi, individu cenderung berada dalam kondisi psikologis yang relatif stabil dan tenang. Tapi ketika situasi dinilai telah melampaui kemampuan diri, maka akan muncul tekanan psikologis berupa stres. Kondisi ini kemudian memicu berbagai respons mental dan upaya penyesuaian diri, yang pada akhirnya menentukan bagaimana seseorang bersikap terhadap lingkungannya, apakah mampu beradaptasi secara konstruktif atau justru menunjukkan sikap pasif dan tidak peduli.
Dalam kerangka persepsi Paul A. Bell, perilaku menelantarkan sampah di lokasi pengungsian dapat dipahami sebagai hasil dari proses persepsi dan penilaian tersebut. Dia menekankan bahwa manusia tidak serta-merta bereaksi terhadap kondisi fisik lingkungan, tetapi terlebih dahulu memaknainya berdasarkan pengalaman yang pernah mereka alami, kebiasaan yang sudah terbentuk, serta kondisi psikologis yang sedang dialami. Lingkungan pengungsian yang padat, kotor, dan penuh keterbatasan menjadi rangsangan yang kuat, namun diterima oleh Pengungsi yang sedang dalam keadaan kelelahan fisik dan mental.
Dalam kondisi ini, para pengungsi menempatkan persoalan sampah sebagai hal yang tidak mendesak. Fokus mereka lebih diarahkan pada ancaman yang dirasakan langsung terhadap keselamatan dan kelangsungan hidup mereka. Cara pandang ini mencerminkan proses pemilahan persepsi, di mana individu secara selektif memperhatikan aspek lingkungan yang dianggap paling penting untuk bertahan. Akibatnya, walaupun sampah terus menumpuk dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, keberadaannya sering kali belum dipandang sebagai bahaya yang utama.
Persepsi tersebut juga berkaitan erat dengan kebiasaan yang terbentuk sebelum bencana. Sebelum bencana pengelolaan sampah lebih banyak diserahkan kepada pemerintah daerah, sementara masyarakat cukup memenuhi kewajiban administratif seperti membayar retribusi. Seiring waktu kebiasaan ini membentuk anggapan bahwa urusan sampah bukanlah tanggung jawab pribadi. Seperti yang dijelaskan oleh Sarwono pola pikir yang terbentuk dari pengalaman berulang akan menjadi skema kognitif yang relatif menetap dan terbawa ke berbagai situasi, termasuk saat masyarakat berada di pengungsian.
Ketika kondisi pengungsian semakin memburuk dan fasilitas pengelolaan sampah tidak tersedia secara memadai, masyarakat menilai situasi tersebut berada di luar kemampuan mereka untuk dikendalikan. Dalam kerangka Bell, lingkungan seperti ini telah melampaui batas optimal sehingga keseimbangan psikologis individu terganggu dan memunculkan stres. Rasa tidak berdaya yang muncul membuat masyarakat cenderung bersikap pasrah dan enggan mengambil inisiatif, karena merasa bahwa upaya kecil yang dilakukan tidak akan memberikan perubahan berarti.
Seluruh proses persepsi dan penilaian tersebut tercermin dalam perilaku nyata di lapangan. Sampah dibiarkan menumpuk, inisiatif kolektif sulit terbentuk, dan masyarakat lebih banyak menunggu campur tangan dari luar. Perilaku ini bukan semata-mata akibat rendahnya kesadaran lingkungan, melainkan merupakan respons yang terbentuk dari interaksi antara tekanan lingkungan, kebiasaan lama, dan kondisi psikologis yang tidak stabil.
Oleh karena itu berdasarkan skema persepsi Paul A. Bell dan kawan-kawan, persoalan sampah di daerah pengungsian dapat dipahami sebagai hasil dari proses psikologis yang kompleks. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi juga perlu menyentuh aspek persepsi dan pemberdayaan psikologis masyarakat agar mereka kembali merasa memiliki peran dalam menjaga lingkungan, meskipun berada dalam situasi yang serba terbatas.
Daftar Pustaka :
Patimah, A.S., Shinta, A. & Al-Adib, A. (2024). Persepsi terhadap lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1), Maret, 23-29.
Bell, P.A., Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental psychology. 5th Ed. Harcourt College Publishers.






0 komentar:
Posting Komentar