Nama: Chevani Irvine
Nim: 25310420010
Mata Kuliah: UAS Psikologi Lingkungan
Perilaku dan Persepsi Masyarakat Pengungsian dalam Pengelolaan
Sampah
Bencana yang melanda Aceh,Sumut, dan Sumbar di akhir 2025
merupakan krisis lingkungan yang menciptakan pertentangan baru. Dimana pemerintah
mengalokasikan dana triliunan, tetapi disisi lain kondisi pengungsian menunjukkan
penurunan sanitasi yang di sebabkan oleh sampah. Di dalam pengungsian,
kebutuhan dasar seperti pakaian, makanan dan air bersih menjadi prioritas utama.
Namun aspek penting dari Kesehatan lingkungan yaitu pengelolaan sampah.
Bedasarkan model Bell et al, perilaku manusia terhadap
lingkungan merupakan hasil interaksi antara stimulus lingkungan, persepsi, dan
strategi coping.
Stimulus lingkungan yaitu kondisi sampah yang menumpuk dan berbau
sebagai pemicu stress dimana beban pengungsi sudah tinggi karena kehilangan harta
dan benda. Sampah menjadi stimulus tambahan yang menekan well being dan fisik seperti
ancaman penyakit. Meskipun stimulus ini bersifat menganggu, tidak semua individu
merespon dengan perilaku pengelolaan sampah yang baik.
Persepsi Masyarakat terhadap sampah dibentuk oleh kebiasaan sebelum
bencana, yaitu pengelolaan sampah sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah
daerah. Dan kebiasaan ini menimbulkan persepsi ketika berada di pengungsian yaitu
sampah bukan tanggung jawab mereka, dan layanan pemerintah yang tidak optimal
sehingga terjadi ketimpangan antara harapan dan kenyataan.
Bell menekankan pentingnya perceived control, dimana Masyarakat
merasa kehilangan kendali atas hidupnya Ketika berasa di pengungsian, karena
terbiasa di manjakan oleh simtem angkut buang mereka tidak memiliki
keterampilan maupun Teknik untuk mengelola sampah secara mandiri seperti
memilah atau mengubur. Sehingga penilaian terhadap resiko Kesehatan seringkali
kalah oleh urgensi pangan.
Strategi coping dengan bagan Bell dimana individu gagal
melakukan adaptasi koping maladaptive menelantarkan sampah. bentuk learned
helplessness atau ketidakberdayaan. Karena selama ini untuk urusan sampah
selalu di bebankan kepada pemerintah dan Ketika pemerintah tidak melakukannya
maka Masyarakat tidak tahu harus berbuat apa sehingga membiarkan sampah
tersebut.
Hubungan regulasi dan perilaku dimana perilaku sangat di pengaruhi
oleh norma hukum dan norma social. Pasa 5 & 12 UU 18/2008 secara langsung
memutus hubungan tanggung jawab moral individu dengan sampahnya sendiri. Dan dampak
yang terjadi yaitu diffusion of responsibility dimana semua orang merasa itu
adalah tugas pemerintah maka tidak ada satupun pengungsi yang merasa
bertanggung jawab untuk memulai gerakan bersih bersih di are pengungsian.
Perilaku menelantarkan sampah di area pengungsian bukan hanya
masalah malas, tetapi hasil dari persepsi yang terbentuk oleh system pengelolaan
sampah masa lalu, yaitu ketergantungan otoritas pemerintah yang menyebkan
hilang nya kemampuan adaptasi Masyarakat dalam mengelola sanitasi mandiri di
saat darurat. Oleh karena itu penanganan sampah di daerah pengungsian tidak
cukup hanya dengan menyediakan fasilitas fisik tetapi juga perlu Upaya perubahan
persepsi, edukasi dan keikutsertaan Masyarakat agar tumbuh rasa tanggung jawab Bersama
terhadap kebersihan lingkungan.
Daftar Pustaka:
Bell, P.A., Greene,
T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental psychology. 5th
Ed. Harcourt College Publishers.
Patimah, A.S.,
Shinta, A. & Al-Adib, A. (2024). Persepsi terhadap lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1), Maret, 23-29.
https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807
Sarwono, S. W.
(1995). Psikologi lingkungan.
Jakarta: Grasindo & Program Pascasarjana Prodi Psikologi UI.
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.






.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar