Sabtu, 10 Januari 2026

UAS - Psikologi Lingkungan Kelas A

 

Nama: Chevani Irvine

Nim: 25310420010

Mata Kuliah: UAS Psikologi Lingkungan 


Perilaku dan Persepsi Masyarakat Pengungsian dalam Pengelolaan  Sampah

Bencana yang melanda Aceh,Sumut, dan Sumbar di akhir 2025 merupakan krisis lingkungan yang menciptakan pertentangan baru. Dimana pemerintah mengalokasikan dana triliunan, tetapi disisi lain kondisi pengungsian menunjukkan penurunan sanitasi yang di sebabkan oleh sampah. Di dalam pengungsian, kebutuhan dasar seperti pakaian, makanan dan air bersih menjadi prioritas utama. Namun aspek penting dari Kesehatan lingkungan yaitu pengelolaan sampah.

Bedasarkan model Bell et al, perilaku manusia terhadap lingkungan merupakan hasil interaksi antara stimulus lingkungan, persepsi, dan strategi coping.

Stimulus lingkungan yaitu  kondisi sampah yang menumpuk dan berbau sebagai pemicu stress dimana beban pengungsi sudah tinggi karena kehilangan harta dan benda. Sampah menjadi stimulus tambahan yang menekan well being dan fisik seperti ancaman penyakit. Meskipun stimulus ini bersifat menganggu, tidak semua individu merespon dengan perilaku pengelolaan sampah yang baik.

Persepsi Masyarakat terhadap sampah dibentuk oleh kebiasaan sebelum bencana, yaitu pengelolaan sampah sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah. Dan kebiasaan ini menimbulkan persepsi ketika berada di pengungsian yaitu sampah bukan tanggung jawab mereka, dan layanan pemerintah yang tidak optimal sehingga terjadi ketimpangan antara harapan dan kenyataan.

Bell menekankan pentingnya perceived control, dimana Masyarakat merasa kehilangan kendali atas hidupnya Ketika berasa di pengungsian, karena terbiasa di manjakan oleh simtem angkut buang mereka tidak memiliki keterampilan maupun Teknik untuk mengelola sampah secara mandiri seperti memilah atau mengubur. Sehingga penilaian terhadap resiko Kesehatan seringkali kalah oleh urgensi pangan.

Strategi coping dengan bagan Bell dimana individu gagal melakukan adaptasi koping maladaptive menelantarkan sampah. bentuk learned helplessness atau ketidakberdayaan. Karena selama ini untuk urusan sampah selalu di bebankan kepada pemerintah dan Ketika pemerintah tidak melakukannya maka Masyarakat tidak tahu harus berbuat apa sehingga membiarkan sampah tersebut.

Hubungan regulasi dan perilaku dimana perilaku sangat di pengaruhi oleh norma hukum dan norma social. Pasa 5 & 12 UU 18/2008 secara langsung memutus hubungan tanggung jawab moral individu dengan sampahnya sendiri. Dan dampak yang terjadi yaitu diffusion of responsibility dimana semua orang merasa itu adalah tugas pemerintah maka tidak ada satupun pengungsi yang merasa bertanggung jawab untuk memulai gerakan bersih bersih di are pengungsian.

Perilaku menelantarkan sampah di area pengungsian bukan hanya masalah malas, tetapi hasil dari persepsi yang terbentuk oleh system pengelolaan sampah masa lalu, yaitu ketergantungan otoritas pemerintah yang menyebkan hilang nya kemampuan adaptasi Masyarakat dalam mengelola sanitasi mandiri di saat darurat. Oleh karena itu penanganan sampah di daerah pengungsian tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas fisik tetapi juga perlu Upaya perubahan persepsi, edukasi dan keikutsertaan Masyarakat agar tumbuh rasa tanggung jawab Bersama terhadap kebersihan lingkungan.

 

Daftar Pustaka:

Bell, P.A., Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental psychology. 5th Ed. Harcourt College Publishers.

Patimah, A.S., Shinta, A. & Al-Adib, A. (2024). Persepsi terhadap lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1), Maret, 23-29.

https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807

Sarwono, S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Jakarta: Grasindo & Program Pascasarjana Prodi Psikologi UI.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

 

 

 


0 komentar:

Posting Komentar