ESAI XI – UJIAN AKHIR SEMESTER
Nama :
Andhika Cahya Nugraha
NIM :
24310410059
Kelas :
SJ & SP
Mata
Kuliah : Psikologi
Lingkungan
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
Di Indonesia, permasalahan tentang sampah yang
berserakan terjadi di mana-mana, mulai dari Sabang sampai Merauke, pedesaan
sampai perkotaan, bahkan dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Sumber utama
permasalahan tentang sampah ini terdapat di akarnya, yaitu manusia yang enggan
untuk mengelola sampah yang dihasilkannya sendiri. Sering kali para manusia
bersikap tak acuh terhadap sampah-sampah kecil yang ia produksi, hingga sampah-sampah
kecil tersebut menjadi banyak dan menggunung, yang pada akhirnya manusia
tersebut menjadi malas untuk mengelolanya. Sampah-sampah yang dibiarkan
menumpuk hingga berlarut-larut akan menjadi sumber terciptanya berbagai jenis
penyakit, entah penyakit fisik macam tifus, diare, demam, dll., maupun penyakit
psikis seperti stres.
Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah secara
sembarangan dan tak mau mengelola sampah yang dihasilkannya sendiri, terbawa juga
ke dalam berbagai situasi, termasuk situasi tinggal di posko pengungsian
bencana. Seperti yang kita ketahui, tinggal di posko pengungsian bencana
sendiri sudah merupakan sesuatu yang kurang mengenakkan, karena mengharuskan
tinggal di lingkungan yang seadanya dan juga dengan perlengkapan dan peralatan yang
seadanya pula. Hal-hal tersebut sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap
faktor risiko mengalami stres, apalagi jika ditambah dengan adanya sampah yang
menumpuk di sekitar, maka tingkat stres pengungsi kemungkinan besar akan
mengalami peningkatan.
Namun sebenarnya tidak semua pengungsi yang tinggal di
tempat pengungsian yang di sekitarnya banyak sampah menumpuk akan mengalami stres,
ini terjadi karena ia telah terbiasa tinggal berdampingan dengan sampah,
sehingga ketika keadaan mengharuskan dirinya untuk tinggal di pengungsian
dengan banyak sampah menumpuk di sekitarnya, maka tubuh dan pikirannya akan mempersepsikan
keadaan tersebut masih dalam batas optimal, sehingga tidak mengalami stres.
Namun hal tersebut tidak selalu dapat dinilai sebagai hal yang positif. Terkadang
beberapa orang karena tidak mengalami stres dan tekanan akibat sampah yang
berserakan, maka ia menjadi enggan untuk membereskan sampah tersebut. Sampah-sampah
yang dibiarkannya tersebut memang tidak mengganggu keseimbangan jiwanya, namun
tetap dapat menjadi sumber penyakit bagi raganya, dan juga dapat mengganggu
psikis orang lain yang tidak terbiasa tinggal berdampingan dengan sampah.
Sementara itu, beberapa orang lainnya yang mempersepsikan
tinggal berdampingan dengan sampah yang menumpuk merupakan sesuatu yang sangat
tidak mengenakkan dan menganggap hal tersebut diluar batas optimal, maka akan
berakibat stres. Ketika mengalami stres maka secara sadar ia akan melakukan
perilaku coping. Perilaku coping yang dilakukan oleh
masing-masing orang berbeda-beda, beberapa orang mungkin melakukan coping
ke hal yang negatif seperti alkohol, rokok, dll., sementara lainnya lari ke coping
yang positif seperti berolahraga. Apabila strategi coping yang
dilakukan berhasil, maka akan menurunkan tingkat stres hingga tubuh mmpersepsikan
keadaan masih dalam batas optimal. Ketika hal tersebut terjadi maka orang
tersebut akan merespon keadaan (sampah yang menumpuk) dengan melakukan adaptasi
dengan keadaan sampah yang berserakan tersebut ataupun hal yang lebih baik
yaitu adjustment dengan mengelola dan membersihkan sampah-sampah tersebut
sehingga tidak akan menimbulkan stres kembali. Sedangkan orang yang strategi coping-nya
tidak berhasil, maka stres akan berlanjut dan mungkin akan menimbulkan
gejala-gejala kesehatan mental yang lebih serius.
Hal-hal tersebut sesuai dengan bagan persepsi yang
digambarkan Paul A. Bell.
Di mana ketika seseorang mempersepsikan suatu keadaan
sebagai sesuatu yang masih dalam batas optimal maka respon tubuh homeostatis (stabil
dan seimbang). Sementara jika dipersepsikan diluar batas optimal, maka akan
menimbulkan stres, yang mana kemudian penderita akan melakukan coping.
Apabila berhasil, maka respon tubuh akan melakukan adaptasi/adjustment, sementara
apabila gagal, maka stres akan berlanjut.
Salah satu kegiatan yang dapat menjadi solusi untuk
mengatasi masalah sampah berserakan di pengungsian yaitu kegiatan upcycling
sampah bersama-sama. Dengan kegiatan tersebut sekain mengurangi sampah, juga akan
menjadi kegiatan yang mengibur pengungsi bencana sehingga menurunkan tekanan
stres yang dialami.
Daftar Pustaka:
Bell,
A.P., Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental
psychology. 5th ed. Harcourt College Publishers.
Patimah,
A.S., Shinta, A. & Amin Al-Adib, A. (2024). Persepsi terhadap lingkungan.
Jurnal Psikologi. 20(1), Maret, 23-29. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807






0 komentar:
Posting Komentar