Sabtu, 10 Januari 2026

ESAI XI - UAS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

 

ESAI XI – UJIAN AKHIR SEMESTER

 

Nama                          : Andhika Cahya Nugraha

NIM                            : 24310410059

Kelas                           : SJ & SP

Mata Kuliah                : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta, M.A

 

Di Indonesia, permasalahan tentang sampah yang berserakan terjadi di mana-mana, mulai dari Sabang sampai Merauke, pedesaan sampai perkotaan, bahkan dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Sumber utama permasalahan tentang sampah ini terdapat di akarnya, yaitu manusia yang enggan untuk mengelola sampah yang dihasilkannya sendiri. Sering kali para manusia bersikap tak acuh terhadap sampah-sampah kecil yang ia produksi, hingga sampah-sampah kecil tersebut menjadi banyak dan menggunung, yang pada akhirnya manusia tersebut menjadi malas untuk mengelolanya. Sampah-sampah yang dibiarkan menumpuk hingga berlarut-larut akan menjadi sumber terciptanya berbagai jenis penyakit, entah penyakit fisik macam tifus, diare, demam, dll., maupun penyakit psikis seperti stres.

Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan dan tak mau mengelola sampah yang dihasilkannya sendiri, terbawa juga ke dalam berbagai situasi, termasuk situasi tinggal di posko pengungsian bencana. Seperti yang kita ketahui, tinggal di posko pengungsian bencana sendiri sudah merupakan sesuatu yang kurang mengenakkan, karena mengharuskan tinggal di lingkungan yang seadanya dan juga dengan perlengkapan dan peralatan yang seadanya pula. Hal-hal tersebut sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap faktor risiko mengalami stres, apalagi jika ditambah dengan adanya sampah yang menumpuk di sekitar, maka tingkat stres pengungsi kemungkinan besar akan mengalami peningkatan.

Namun sebenarnya tidak semua pengungsi yang tinggal di tempat pengungsian yang di sekitarnya banyak sampah menumpuk akan mengalami stres, ini terjadi karena ia telah terbiasa tinggal berdampingan dengan sampah, sehingga ketika keadaan mengharuskan dirinya untuk tinggal di pengungsian dengan banyak sampah menumpuk di sekitarnya, maka tubuh dan pikirannya akan mempersepsikan keadaan tersebut masih dalam batas optimal, sehingga tidak mengalami stres. Namun hal tersebut tidak selalu dapat dinilai sebagai hal yang positif. Terkadang beberapa orang karena tidak mengalami stres dan tekanan akibat sampah yang berserakan, maka ia menjadi enggan untuk membereskan sampah tersebut. Sampah-sampah yang dibiarkannya tersebut memang tidak mengganggu keseimbangan jiwanya, namun tetap dapat menjadi sumber penyakit bagi raganya, dan juga dapat mengganggu psikis orang lain yang tidak terbiasa tinggal berdampingan dengan sampah.

Sementara itu, beberapa orang lainnya yang mempersepsikan tinggal berdampingan dengan sampah yang menumpuk merupakan sesuatu yang sangat tidak mengenakkan dan menganggap hal tersebut diluar batas optimal, maka akan berakibat stres. Ketika mengalami stres maka secara sadar ia akan melakukan perilaku coping. Perilaku coping yang dilakukan oleh masing-masing orang berbeda-beda, beberapa orang mungkin melakukan coping ke hal yang negatif seperti alkohol, rokok, dll., sementara lainnya lari ke coping yang positif seperti berolahraga. Apabila strategi coping yang dilakukan berhasil, maka akan menurunkan tingkat stres hingga tubuh mmpersepsikan keadaan masih dalam batas optimal. Ketika hal tersebut terjadi maka orang tersebut akan merespon keadaan (sampah yang menumpuk) dengan melakukan adaptasi dengan keadaan sampah yang berserakan tersebut ataupun hal yang lebih baik yaitu adjustment dengan mengelola dan membersihkan sampah-sampah tersebut sehingga tidak akan menimbulkan stres kembali. Sedangkan orang yang strategi coping-nya tidak berhasil, maka stres akan berlanjut dan mungkin akan menimbulkan gejala-gejala kesehatan mental yang lebih serius.

Hal-hal tersebut sesuai dengan bagan persepsi yang digambarkan Paul A. Bell.

Di mana ketika seseorang mempersepsikan suatu keadaan sebagai sesuatu yang masih dalam batas optimal maka respon tubuh homeostatis (stabil dan seimbang). Sementara jika dipersepsikan diluar batas optimal, maka akan menimbulkan stres, yang mana kemudian penderita akan melakukan coping. Apabila berhasil, maka respon tubuh akan melakukan adaptasi/adjustment, sementara apabila gagal, maka stres akan berlanjut.

Salah satu kegiatan yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah berserakan di pengungsian yaitu kegiatan upcycling sampah bersama-sama. Dengan kegiatan tersebut sekain mengurangi sampah, juga akan menjadi kegiatan yang mengibur pengungsi bencana sehingga menurunkan tekanan stres yang dialami.

 

Daftar Pustaka:

Bell, A.P., Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental psychology. 5th ed. Harcourt College Publishers.

Patimah, A.S., Shinta, A. & Amin Al-Adib, A. (2024). Persepsi terhadap lingkungan. Jurnal Psikologi. 20(1), Maret, 23-29. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/1807

0 komentar:

Posting Komentar