UTS PSIKOLOGI LINGKUNGAN
11 NOVEMBER 2025
KELAS SPSJ
DOSEN PENGAMPU : Dr.ARUNDATI SHINTA, M.A
CHRISTINA ANGELINE NATALIA M
24310420060FAKULTAS PSIKOLOGIUNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
Sebagai
seorang mahasiswa psikologi, salah satu materi yang paling membekas bagi saya
adalah saat dosen kami menunjukkan sebuah foto dalam mata kuliah Psikologi
Lingkungan. Foto itu yang juga menjadi acuan tugas ini memperlihatkan sebuah
kawasan perumahan yang sangat padat, kumuh, dan tampak tidak terawat di Amerika
Selatan. Reaksi pertama kami mahasiswa adalah sama:
sebuah ketidaknyamanan. Kami serentak setuju bahwa kami tidak akan bersedia
tinggal di sana. Namun, diskusi menjadi menarik ketika kami menyadari fakta
bahwa di foto itu, ada penghuninya. Bahkan, ada yang bersedia tinggal di sana,
sementara kami yang hanya melihat foto sudah menolaknya.
Fenomena
ini memunculkan sebuah permasalahan fundamental dalam psikologi lingkungan:
mengapa sebuah lingkungan fisik yang objektif yaitu foto perumahan, dapat
menimbulkan persepsi dan reaksi yang bertolak belakang? Mengapa kami sebagai
mahasiswa menolaknya, sementara sebagian orang (penghuni) bersedia menerimanya
sebagai tempat tinggal? Untuk menjawab ini, saya akan menggunakan skema
persepsi dari Paul A. Bell (2001) seperti yang diinstruksikan.
Bell
dkk. (2001) dalam kerangka psikologi lingkungan, memandang persepsi bukan
sekadar proses pasif "melihat" dengan mata. Persepsi adalah sebuah
proses kognitif yang aktif, di mana individu secara konstan menginterpretasi
dan memberi makna pada lingkungannya. Makna ini tidak datang dari
lingkungan itu sendiri, melainkan dari interaksi antara stimulus lingkungan
(bangunan, kepadatan, bau, suara) dengan "skema" di dalam kepala
kita. Skema ini dibentuk oleh banyak hal: pengalaman masa lalu, kebutuhan saat
ini, nilai-nilai yang dianut, harapan, dan yang terpenting, tingkat adaptasi
kita.
Mari
kita analisis skema persepsi saya dan teman-teman mahasiswa. Ketika kami
melihat foto itu, skema persepsi kami langsung aktif. Skema kami, yang mungkin
terbentuk dari pengalaman tinggal di lingkungan yang relatif lebih nyaman,
bersih, dan teratur, segera mengaktifkan penilaian (appraisal) negatif. Kami
menginterpretasikan bangunan rapuh itu sebagai "bahaya", sanitasi
yang buruk sebagai "sumber penyakit", dan kepadatan tinggi sebagai
"stres" atau "hilangnya privasi". Bagi kami, lingkungan itu
gagal memenuhi kebutuhan kami akan rasa aman, kesehatan, dan kenyamanan.
Persepsi ini membuat lingkungan sebagai ancaman lalukemudian membentuk
keputusan dan perilaku kami: menolak untuk tinggal di sana.
Sekarang,
mari kita coba analisis skema persepsi penghuni yang "bersedia"
tinggal di sana, dengan tetap menggunakan kerangka Bell. Bukan berarti mereka
"menyukai" kekumuhan tersebut, tetapi skema persepsi mereka
beroperasi dengan filter yang berbeda. Pertama, faktor kebutuhan dasar.
Bagi mereka, kebutuhan primer yang harus dipenuhi mungkin adalah "tempat
berlindung" (shelter), terlepas dari kondisinya. Fungsi dasar rumah
sebagai tempat berlindung lebih diutamakan daripada fungsi estetika atau
kenyamanan sekunder.
Kedua, dan ini sangat penting dalam teori
Bell, adalah konsep tingkat adaptasi. Manusia memiliki kemampuan luar
biasa untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Apa yang bagi kami (sebagai orang
luar) terasa sebagai kebisingan yang mengganggu atau pemandangan yang kacau,
bagi mereka mungkin sudah menjadi bagian dari "normalitas"
sehari-hari. Mereka telah beradaptasi dengan tingkat stimulus tersebut,
sehingga tidak lagi dirasakan sebagai stresor akut.
Ketiga, persepsi mereka mungkin tidak hanya
tertuju pada lingkungan fisik, tetapi juga pada lingkungan sosial. Di balik
bangunan yang tampak buruk itu, mereka mungkin memandang adanya jaringan sosial
yang kuat, ikatan kekeluargaan, komunitas yang suportif, atau kedekatan dengan
lokasi mencari nafkah. Persepsi akan "dukungan sosial" ini bisa jadi
lebih penting dan lebih positif daripada persepsi akan "lingkungan
fisik" yang negatif.
Kesimpulannya,
foto tersebut menjadi studi kasus sempurna tentang bagaimana skema persepsi seperti
yang dijelaskan oleh Bell bekerja. Perbedaan antara penolakan kami dan
penerimaan penghuni bukanlah tentang siapa yang "benar" atau
"salah" dalam melihat. Ini adalah tentang perbedaan fundamental dalam
skema kognitif, kebutuhan, dan tingkat adaptasi. Tugas ini menyadarkan saya
sebagai mahasiswa psikologi bahwa persepsi adalah dasar dari perilaku. Kita
tidak bisa menilai sebuah lingkungan hanya dari fisiknya, tanpa memahami
bagaimana lingkungan itu dimaknai oleh orang-orang yang berinteraksi
dengannya setiap hari.
DAFTAR PUSTAKABell, A.P.,
Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental Psychology.
5th ed. Harcourt College Publishers.
Bell, A.P.,
Greene, T.C., Fisher, J.D. & Baum, A. (2001). Environmental Psychology.
5th ed. Harcourt College Publishers.







0 komentar:
Posting Komentar