Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Kamis, 21 Mei 2026

Essai 4 : Pembuatan produk - Risma Ristiyana

 



Nama : Risma Ristiyana 

Nim : 25310410007

Prodi : Semester 2

Kelas : A

Mata Kuliah : Psikologi Industri dan Organisasi 

Tugas Esai : 4 - Pembuatan Produk

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A
 

 ESAI 4 PEMBUATAN PRODUK 


dalam esai ke-4 ini saya membuat sebuah produk yaitu “buket bunga” dari plastik kresek bekas yang sudah tidak terpakai. Adapun langkah langkah dan bahan untuk kerajinan tersebut yakni :
Bahan : solasi, tusuk sate, sterofoam bekas, plastik kresek bekas, pita bekas, dan wrapping bekas.
Alat : Gunting
1. Gunting plastik kresek berbentuk lebar memanjang dan bagi menjadi 3 bagian memanjang.
2. Solasi ujung plastik dengan tusuk sate, lalu lipat seperti akan membuat kipas lalu lingkarkan perlahan pada tusuk sate agar mekar, setelahnya pasang solasi untuk mengunci agar lipatan tidak terlepas.
3. Setelah terkumpul beberapa bunga plastik, tancapkan pada sterofoam bekas dan bentuk serapi dan semenarik mungkin.
4. Setelah sudah tertata, gunting kertas wrapping berbentuk segitiga dan persegi panjang, lalu gunting plastik kresek memanjang untuk menutup bagian depan buket.
5. Tempelkan kertas wrapping yang sudah dibentuk menggunakan solasi, dibagian samping dan belakang, setelah selesai lalu pasang pita hiasan agar menambah kesan manis.


Dalam pembuatan produk ini tentu tidak mudah, terdapat hambatan yaitu dalam menyiapkan bahan baku plastik kresek bekas. Mencari plastik kresek yang memiliki warna senada dengan kondisi yang layak pakai tentunya tak mudah. Saya harus mengumpulkan plastik tersebut dari berbagai sumber, saya membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 4 hari untuk mendapatkan jumlah dengan kondisi yang bagus. Saya tidak selalu menemukan plastik yang bersih, beberapa ada yang sudah robek sehingga tidak bisa dibuat bunga. Setelah bahan terkumpul, saya cuci kering semua plastik satu per satu agar higienis. 

Namun saya juga mendapatkan solusi yaitu dengan menginformasikan kepada teman-teman atau tetangga agar tidak membuang kresek bekas mereka jika mendapatkan kresek dengan warna yang spesifik, melainkan memberikannya kepada saya. Dengan begitu, plastik yang terkumpul menjadi lebih banyak dalam waktu singkat. Lalu, untuk proses pemasaran barang ini, saya mencoba mengunggahnya di media sosial seperti TikTok dengan menampilkan video produk yang estetik, menggunakan hashtag yang relevan.

Adapun, tantangan yakni minat pembeli yang masih rendah karena persaingan dengan buket fresh flower atau kain flanel yang lebih populer. Lalu, jangkauan akun saya masih terbatas karena saya baru saja aktif membangun interaksi di media sosial.

Dalam pembuatan produk ini juga ada permasalahan yang berkaitan dengan psikologi industri dan konsumen, yaitu: 
Secara Pio : tingkat ketelitian dan kesabaran saat saya memproses pembentukan kelopak bunga. Seringkali saya merasa jenuh dan lelah karena proses pemotongan serta pelipatan plastik yang memakan waktu lama. Akibatnya, jika konsentrasi menurun, bentuk bunga menjadi tidak seragam, sehingga hasil akhir buket terlihat kurang rapi.
Secara konsumen : Beberapa konsumen menilai produk ini murah karena berbahan limbah kresek. Calon pembeli sering ragu dan batal memesan untuk hadiah formal setelah mengetahui materialnya, karena dianggap kurang mewah dibanding buket premium di pasaran.

Link Produk : https://vt.tiktok.com/ZSxD5pfro/

Foto Produk : 




Essai 3 : wawancara karyawan – risma ristiyana



Nama : Risma Ristiyana
 
Nim : 25310410007

Prodi : Psikologi 

Semester: 2 

Kelas : A 

Mata Kuliah : Psikologi Industri dan Organisasi 

Tugas Essai : 3 - Wawancara karyawan 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A



ESSAI 3 WAWANCARA KARYAWAN

D adalah seorang karyawan yang bekerja di sebuah salon di jogja. D bekerja sebagai beautician di salon tersebut, D sudah bekerja di salon tersebutkurang lebih 2 tahun.


HAMBATAN HAMBATAN KERJA. 

Dalam bekerja, D tentunya mengalami berbagai macam hambatan diantaranya: kondisi lingkungan kerja di mana rekan kerja kurang menunjukkan soliditas yang bercampur dengan budaya senioritas yang masih kental. Hal ini tentunya menciptakan sekat komunikasi yang baik bagi tim. Selain faktor internal tim, D juga dihadapkan dengan masalah manajerial yakni keterlambatan gaji yang berulang dan manajemen perusahaan yang cenderung stuck tanpa adanya perubahan, baik secara operasional maupun administrasi. Beban kerja D semakin terasa berat karena sering kali harus mengerjakan tugas yang sebenarnya di luar jobdesk miliknya. Tekanan kerja yang tinggi dan jam kerja yang relatif panjang menjadi tantangan fisik dan mental bagi D. Di sisi lain, suasana studio juga kurang mendukung produktivitas karena rekan kerja yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk bergosip daripada mengasah kemampuan diri. Masalah privasi juga menjadi isu sensitif bagi D, dimana batasan privasi sering kali dilanggar oleh rekan yang terlalu ikut campur hal pribadi. Gabungan dari faktor-faktor ini secara signifikan sangat memengaruhi kenyamanan dan ritme kerja D sehari-hari.
 
USAHA MENAIKKAN KINERJA

Untuk menaikkan kinerja, D melakukan berbagai faktor baik internal maupun eksternal : D melakukan serangkaian langkah perbaikan diri secara keseluruhan. Fokus utama D yakni menjaga keseimbangan antara fisik dan mental, hal ini dilakukan dengan memastikan waktu istirahat yang cukup dan rutin berolahraga agar energi tetap terjaga. D juga berusaha keras untuk membangun pola pikir (mindset) yang positif dan kokoh agar tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan yang toxic. Selain aspek kesehatan, D juga aktif dalam pengembangan kompetensi teknis dan profesiona, yakni ia mulai mendalami skill digital yang relevan seiring perkembangan zaman serta memperkuat personal brandingnya supaya memiliki nilai yang lebih baik di dunia kerja, ia juga membangun jaringan atau networking, karena ia menyadari bahwa dukungan dari relasi luar dapat memberikan sudut pandang baru dan peluang yang lebih luas. Usaha-usaha ini dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas kinerjanya tetap meningkat meskipun berada dalam lingkungan yang toxic.
 
REALISASI USAHA (solusi)

Untuk mengatasi berbagai hambatan kerja, D aktif terjun ke dalam berbagai organisasi. Melalui organisasi, D mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen waktu secara praktis, sekaligus memperluas jaringan relasinya. Keterlibatan aktif ini membantu D untuk tetap produktif dan memiliki saluran energi positif untuk menyalurkan energinya di luar rutinitas pekerjaan yang menjenuhkan. D juga menggunakan waktunya dalam kegiatan sosial yang lebih luas, seperti mengemban tanggung jawab sebagai Duta Sastra Indonesia. Peran ini menjadi sebuah bentuk aktualisasi diri untuk meningkatkan minat literasi masyarakat juga melestarikan kekayaan bahasa dan sastra. Melalui kegiatan sosial ini, D berhasil mengembangkan sisi kemanusiaan dan dirinya secara utuh, hal inilah yang memberikan kepuasan batin dan dampak positif terhadap kerjanya secara keseluruhan. Strategi ini menjadi solusi efektif bagi D untuk tetap bertumbuh di tengah keterbatasan lingkungan kerjanya

ESAI 3 WAWANCARA, FRANSISKA P. AMELIA

                                                           

Nama : fransiska putri amelia

NIM : 25310410001

Prodi : Psikologi

Semester : 2

Mata Kuliah : Psikologi Industri & Organisasi

Tugas ke : Esai 3 (Wawancara Karyawan)

Dosen Pengampu : Dr Arundati Shinta M.A

hari tanggal : 21, mei 2026


ESAI 3 WAWANCARA KARYAWAN

TUJUAN WAWANCARA

melalui esai ini, saya ingin melihat secara langsung atau mendengar secara langsung dari narasumber terkait motivasi kerja dan apakh turun naik atau bagaimana dan ingin mencari tau apa penyebabnya.

HASIL WAWANCARA

kemarin tgl 20 mei, saya sempat berbincang lewat telefon  soal pekerjaan dengan kk yang berinisial  S, awal mula mendapatkan lowongan kerja sebagai karyawan di bagian operator sekolah, dia sangat senang karena mendapatkan pekerjaan, awalmula bekerja juga, dia sangat bersemangat dan semua pekerjaan dia selesaikan dengan cepat, seiring berjalannya waktu motivasi atau semangat awalnya itu mulai berkurang, karena adanya problem. Problem tersebut itu yang awalnya teman karyawannya yang awal mula sangat baik, tiba-tiba hari ke hari berubah, dimana, dia itu perlahan memberkan atau memberatkan S soal pekerjaan mereka, dalam arti dia perlahan menyuruh S untuk awalnya dia meminta baik-baik kepada S dengan kata minta tolong bantuin soalnya dia lagi mikirin masalh keluarganya yang sangat brat, katanya, tetapi dia tidak memberitahukan kepada S soal masalh yang dia katakan sehingga dia meminta S untuk membantu pekerjaanya, tetapi lama kelamaan setiap hari dia selalu meminta bantuan S untuk mengerjakan tugasnya,,awalnya S mengiyakan karena iya juga ingin membantu yeman kerjanya tersebut. tetapi, seiring berjalannya waktu si S merasa tidak aman karena setiap hari harus mengerjakan pekerjaannya atau seperti lembur, itupun dalam waktu yang udah cukup lama kata si S. Dari situ motivasi S itu tiba-tiba perlahan menurun karena ia merasa tertekan, S mengatan jika ia melaporkan kepada kepala sekolah maka, ia merasa tidak enak dengan si pelaku tersebut, tiba-tiba nanti dia bilang si S tega melaporkannya disaat dia lagi punya masalah keluarga, tatpi disisi lain, si S merasah tertekan dan sangat leklah karena seperti dia lembur setiap hari, dimana, pekerjaan yang seharusnya pelaku kerjakan, mala si S yang mengerjakannya.

itulah yang menyebabkan motivasi kerja si S berkurang

tetapi S mempunyai cara mengatasi masalh tersebut, si S mengatan dia menggunakan cara yang sama seperti si pelaku, cuman si S memilih alasan yang berbeda biar si pelaku tidak memberatkan lagi pekerjaanya kepada si s.

kesimpulannya : Motivasi itu tidak semata-mata ada atau bekerja setiap hari, tetapi ada berbagai penyebab menurunya motivasi, bukan hanya dalam diri seseorang tetapi penyebab dari luar juga