Rabu, 04 Maret 2026

Pembangkit Listrik Penghasil Emisi Karbon

Esai Remedial — Psikologi Lingkungan

Rafael Jadug Bayu Luhur
24310410055
Kelas Reguler (A)
Dr., Dra. Arundati Shinta M. A


Di-era modern ini, produksi limbah, terutama limbah rumah tangga, menjadi isu yang disoroti oleh pemerintah. Hal ini tertuang dalam Perpres No. 109 Tahun 2025 yang mengatur tentang penanganan sampah perkotaan menjadi sumber energi terbarukan (Waste-to-Energy). Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengadaan insinerator. Insinerator merupakan alat yang bekerja membakar sampah dengan suhu tinggi dan secara signifikan mampu mengurang jumlah sampah secara signifikan. Selain membakar sampah, terdapat beberapa insinerator yang mampu menghasilkan energi/listrik melalui teknologi Waste-to-Energy. Banyak yang berpendapat bahwa insinerator merupakan jalan alternatif "ramah lingkungan" dalam pemanfaatan sampah. Namun apakah benar adanya begitu?


Memang benar bahwa insinerator mampu mengurangi jumlah sampah secara signifikan, dimana hal ini mampu mengurangi kebutuhan lahan untuk tempat pembuangan sampah. Selain itu kebanyakan insinerator dilengkapi dengan teknologi Waste-to-Energy yang memungkinkan panas yang dihasilkan mampu memproduksi energi. Insinerator juga dapat mengolah beberapa limbah yang dikategorikan berbahaya seperti limbah medis, limbah zat berbahaya, dan limbah-limbah yang sulit dikelola dengan metode konvensional. Tak hanya itu saja, insinerator juga mampu mengurangi produksi emisi gas metana yang dihasilkan oleh sampah organik. 

Meskipun terlihat menjanjikan dan ramah lingkungan, namun insinerator juga memiliki resiko terhadap lingkungan. Insinerator yang tidak dilengkapi dengan sistem filtrasi yang canggih, maka incinerator dapat menghasilkan gas beracun seperti dioksin, furan, nitrogen oksida, dan buliran partikel halus lainnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Aliansi Global untuk Alternatif Insinerator (GAIA) menemukan 1 ton plastik yang dibakar insinerator akan menghasilkan 1,43 ton karbon dioksida. Dimana emisi karbon yang dihasilkan lebih besar daripada PLTU batubara. Selain itu, sisa pembakaran insinerator juga menghasilkan abu sisa pembakaran yang mengandung logam berat dan zat beracun lainnya. Hal ini menjadi sorotan utama dari insinerator sebagai alternatif pemanfaatan sampah yang diklaim ramah lingkungan. Karena kenyataan residu dari pembakaran insinerator melahirkan isu lingkungan lainnya. Hal ini belum ditambah dengan biaya operasional yang sangat mahal apabila dibandingkan dengan PLTU batu bara. Biaya operasional insinerator sampah berkisar 140 dolar AS/megawatt hour, sementara PLTU batu bara sekitar 115 dolar AS/megawatt hour. 

Dari sini kita dapat melihat bagaimana diagram hierarki terbaik oleh Chowdhury bekerja. Pada hierarki tersebut pengolahan energi atau energy recovery terletak pada least favored option setelah disposal. Dimana least favored option adalah opsi yang kurang dianjurkan dalam konteks pengolahan limbah. Hal ini disebabkan karena pengolahan energi dari limbah untuk saat ini masih menimbulkan resiko-resiko yang mengancam lingkungan, menyebabkan kontradiksi dari tujuan awal untuk mengurangi sampah. Pada kasus insinerator, emisi karbon yang dihasilkan lebih banyak daripada jumlah sampah yang dibakar. Tentunya hal ini dapat direduksi dengan penggunaan filtrasi yang canggih, namun perlu dicatat bahwa biaya operasional yang dibutuhkan akan menambah beban anggaran daerah/negara. Maka dari itu, tindakan most favored option lebih dianjurkan karena tidak menyebabkan masalah lingkungan lainnya (zero waste).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pengolahan energi dari limbah perlu dievaluasi ulang, mengingat secara biaya operasional, dan resiko lingkungan adalah dampak negatif yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat juga pada hierarki Chowdhury bahwa pengolahan energi termasuk kedalam least favored option karena dampak negatif yang dihasilkan. Mungkin memang terlihat lebih ramah lingkungan dan mendukung konsep 3R, namun ini tidak menjadi alasan menetapkan insinerator menjadi alternatif energi dengan embel-embel ramah lingkungan.

Daftar Pustaka

Muamar, A. (2023). Green Network Asia. https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/dampak-insinerator-sampah-dan-mendorong-strategi-zero-waste/ 

Kofifa. (2025). Asterra Machine. https://www.asterra.id/artikel/incinerator-sampah/

0 komentar:

Posting Komentar