Selasa, 03 Maret 2026

REMEDIAL PSIKOLOGI LINGKUNGAN

 REMEDIAL PSIKOLOGI LINGKUNGAN 
KELAS SPSJ
4 MARET 2026
DOSEN PENGAMPU : Dr.ARUNDATI SHINTA, M.A








CHRISTINA ANGELINE NATALIA M
24310420060

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Menanggapi soal di atas, menurut saya, terdapat beberapa hal menarik yang perlu kita telaah lebih lanjut dengan pendekatan yang lebih berhati-hati dan bijaksana. Menurut saya, narasi pada paragraf kedua tampaknya memiliki sedikit perbedaan penafsiran jika kita menyandingkannya dengan konsep dasar hirarki pengelolaan limbah yang divisualisasikan pada bagan di teks tersebut. Jika kita mencermati gambar hirarki tersebut secara saksama, menurut saya, sangat jelas terlihat bahwa opsi pencegahan atau prevention menempati posisi teratas sebagai pilihan yang paling diharapkan untuk dilakukan oleh masyarakat luas. Sebaliknya, pemulihan energi atau energy recovery yang umumnya direalisasikan melalui metode pembakaran menggunakan fasilitas insinerator, diletakkan pada urutan kelima. Menurut saya, penempatan ini secara alami menunjukkan bahwa pemulihan energi merupakan salah satu opsi yang berada di bagian bawah skala prioritas, bukan pilihan yang paling utama.

Berdasarkan pengamatan tersebut, menurut saya, menyandingkan strategi prioritas tertinggi dengan penerapan teknologi insinerator mungkin perlu ditinjau ulang agar lebih selaras dengan makna asli piramida terbalik pengelolaan sampah tersebut. Menurut saya, insinerasi adalah sebuah alternatif penanganan yang bermanfaat, namun belum tentu menjadi strategi utama yang paling disarankan dalam konsep kelestarian lingkungan yang ideal. Lebih lanjut, teks tersebut menyampaikan pandangan bahwa opsi yang paling disarankan ini membutuhkan energi yang lebih banyak, serta dirasa kurang membutuhkan perubahan perilaku dari masyarakat. Menurut saya, pandangan ini mungkin akan lebih tepat jika dibalik logikanya saat kita berbicara tentang prinsip pencegahan timbulan sampah. Menurut saya, langkah pencega han sesungguhnya adalah fondasi utama yang justru sangat membutuhkan penyesuaian gaya hidup dan kesadaran penuh dari setiap individu. Selain itu, menurut saya, pencegahan pada dasarnya adalah strategi yang paling menghemat energi karena kita berhasil menghindari proses pembuatan barang yang berpotensi menjadi tumpukan sampah sejak dari titik awal.

Selanjutnya, menurut saya, pandangan yang menyatakan bahwa memusnahkan tumpukan sampah secara cepat melalui insinerator adalah tindakan yang sangat mendukung budaya perilaku 3R (Reduce, Reuse, Recycle) mungkin bisa dimaknai secara berbeda. Menurut saya, proses pembakaran sampah untuk menghasilkan energi listrik, meskipun memberikan manfaat nyata berupa pasokan kelistrikan, memiliki potensi mengurangi ruang bagi penerapan ekonomi sirkular yang lebih optimal. Menurut saya, material-material yang sejatinya masih memiliki nilai guna dan bisa diselamatkan secara fungsional untuk digunakan kembali atau diolah menjadi bahan baku baru, pada akhirnya akan berubah wujud menjadi residu ketika dibakar. Oleh karena itu, menurut saya, narasi dalam soal tersebut sebaiknya disempurnakan lagi agar masyarakat dapat dengan tepat memprioritaskan upaya edukasi pemilahan sampah di sumbernya sebelum mengandalkan fasilitas pengolahan akhir.

Untuk merangkum pemahaman ini dengan bahasa yang lebih tertata dan memperjelas hierarki yang sebaiknya dipahami secara berurutan, saya merancang bagan berupa tabel berikut ini agar kita semua dapat memahami prioritas pengelolaan lingkungan dengan lebih jernih:

Tingkatan Prioritas

Langkah Pengelolaan Limbah

Tanggapan dan Sudut Pandang

Pilihan Paling Utama

1. Pencegahan Timbulan

Menurut saya, ini adalah kebiasaan baik yang perlu dipupuk masyarakat.

Pilihan Sangat Disukai

2. Pengurangan Limbah

Menurut saya, ini merupakan langkah bijak untuk membatasi konsumsi berlebih.

Pilihan Cukup Disukai

3. Daur Ulang Material

Menurut saya, ini adalah proses kreatif mengolah kembali wujud barang.

Pilihan Kurang Disukai

4. Penggunaan Kembali

Menurut saya, ini adalah upaya sederhana memperpanjang masa pakai produk.

Pilihan Sangat Dihindari

5. Pemulihan Energi

Menurut saya, menjadikan sampah sebagai energi listrik adalah jalan keluar alternatif, bukan yang utama.

Pilihan Paling Bawah

6. Pembuangan Akhir

Menurut saya, ini adalah opsi paling akhir jika opsi lain tidak lagi memungkinkan.

Sebagai kesimpulan, menurut saya, soal diatas  memberikan ruang bagi kita untuk berdiskusi dan saling memperbaiki pemahaman mengenai literatur lingkungan hidup yang tepat. Menurut saya, kita sebagai pembaca yang bijak perlu menyikapi informasi dengan pikiran terbuka namun tetap analitis, agar dapat melihat porsi yang pas antara penggunaan teknologi pengolah sampah dan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurut saya, pengelolaan limbah yang paling anggun dan bijaksana bermula dari kesadaran hati kita untuk tidak menghasilkan limbah itu sendiri.

Daftar Pustaka:

Chowdhury, A.H., Mohammad, N., Ul Haque, Md.R. & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology (IOSR-JESTFT. 8(5), Ver. I, May, pp. 09-18.



0 komentar:

Posting Komentar