NAMA : DEVITA KAHI NGGONA
NIM : 25310410003
MATKUL : PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
TUGAS KE : ESAI 9
DOSEN : Dr. ARUNDATI SHINTA, M. A.
HARI/TGL : SABTU, 25-07-2026
Membangun Kebersamaan dan Kepemimpinan Lewat Pelatihan di Komunitas Anak Muda.
Pelatihan ini Semua berawal dari keresahan yang sama, yang dimana banyak anak muda di lingkungan sekitar punya semangat besar, tapi bergerak sendiri-sendiri. Ada yang jago desain, ada yang suka public speaking, ada yang aktif di kegiatan sosial, tapi jarang ada ruang yang mempertemukan semua potensi itu dalam satu wadah. Dari situ, terbentuklah sebuah komunitas anak muda, tempat kami belajar bukan hanya soal keterampilan teknis, tapi juga soal bagaimana bekerja sama dan memimpin.
Salah satu program yang di jalankan adalah pelatihan rutin bertajuk "Kolaborasi Muda". Setiap sesi dirancang agar anggota bergiliran memegang peran sebagai pemimpin tim kecil, mengatur pembagian tugas, dan bertanggung jawab atas hasil kerja kelompoknya.
Pendekatan ini sengaja dipilih karena kepemimpinan tidak bisa hanya diajarkan lewat teori, ia perlu dilatih lewat pengalaman langsung mengambil keputusan, menghadapi ketidaksepakatan, dan belajar mendengarkan anggota lain.
Di awal, tantangannya cukup besar. Beberapa anggota masih canggung mengarahkan teman sebayanya sendiri, ada juga yang terbiasa bekerja sendiri sehingga sulit mempercayakan tugas pada orang lain. Di sinilah letak permasalahan utamanya adalah rasa kebersamaan dan kepemimpinan tidak tumbuh otomatis hanya karena sekumpulan anak muda berkumpul dalam satu grup, keduanya perlu dilatih.
Di komunitas juga membiasakan sesi refleksi setelah setiap kegiatan, di mana anggota saling memberi masukan secara terbuka dan jujur tanpa menjatuhkan. Kebiasaan ini perlahan membentuk rasa saling percaya, yang menjadi fondasi penting bagi kerja tim yang sehat.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika komunitas ini mengadakan proyek sosial bersama, membantu penggalangan dana untuk korban bencana di salah satu daerah. Setiap anggota mendapat peran sesuai kekuatannya masing-masing: ada yang mengelola media sosial, ada yang turun langsung mengumpulkan donasi, ada yang mengoordinasikan logistik. Tidak ada satu pun "pemimpin tunggal" yang mendominasi kepemimpinan justru muncul secara bergantian, sesuai konteks dan kebutuhan tim saat itu, ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejatinya bukan soal jabatan, melainkan soal kesiapan mengambil inisiatif saat dibutuhkan.
Dari sudut pandang psikologi industri dan organisasi, pengalaman ini menunjukkan bagaimana prinsip kerja tim, komunikasi kelompok, dan kepemimpinan partisipatif tidak hanya berlaku di lingkungan kerja formal, tetapi juga bisa dilatih sejak dini lewat aktivitas komunitas. Pelatihan seperti ini dapat membentuk kesiapan setiap anak muda untuk kelak berperan aktif, baik sebagai anggota tim maupun pemimpin, dalam dunia kerja yang sesungguhnya.







0 komentar:
Posting Komentar