Nama Mahasiswa: Muhamad Ridho Rasyidin
NIM: 25310410005
Prodi: Psikologi
Semester: 2
Kelas: Reguler
Mata Kuliah: Psikologi Industri & Organisasi
Nama Tugas: Esai Ke-9 (Ujian Akhir: Laporan Pelatihan Komunitas)
Dosen Pengampu: Arundati Shinta
Bulan & Tahun Publikasi: 26 Juli 2026
Pengalaman Pelatihan Peer Counselor: Menjadi Pendengar Berempati bagi Sesama Mahasiswa
Pengalaman belajar di Program Studi Psikologi tidak hanya terjadi di dalam ruang kuliah, melainkan juga melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pelatihan komunitas. Perjalanan saya dalam memahami peran konselor sebaya (peer counselor) dimulai dari pelatihan tingkat kampus yang mengusung tema "Empowering the Candidates of Peer Counselors: Menjadi Calon Agen Perubahan di Lingkungan Sebaya". Pada sesi pembekalan tersebut, kami diajarkan dasar-dasar pendampingan sebaya, mulai dari etika kerahasiaan, teknik mendengarkan secara aktif (active listening), hingga cara membangun empati agar bisa menjadi tempat cerita yang aman bagi sesama teman mahasiswa.
Pengalaman dari kampus tersebut kemudian menjadi pijakan bagi saya ketika terpilih menjadi delegasi kampus untuk mengikuti pelatihan tingkat regional. Pada Jumat, 24 Juli 2026, saya berkesempatan hadir dalam kegiatan Pelatihan Konselor Sebaya dan Deklarasi Mahasiswa DI Yogyakarta yang diselenggarakan di Universitas Ahmad Dahlan. Acara ini dihadiri oleh ratusan perwakilan mahasiswa dari lebih dari 100 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Mahasiswa se-Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan seminar nasional dan deklarasi bersama dengan komitmen untuk saling merawat, bertumbuh bersama, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi kesehatan mental mahasiswa.
Sesi yang paling berkesan bagi saya berlangsung pada siang harinya melalui praktik konseling secara langsung. Dalam sesi ini setiap peserta diminta berpasangan untuk mensimulasikan proses konseling sebaya. Saya berperan sebagai teman yang mendengarkan keluh kesah dan permasalahan rekan sejawat, sekaligus belajar merespons cerita tersebut dengan penuh empati tanpa rasa menghakimi. Melalui praktik ini, saya menyadari bahwa menjadi pendengar yang baik membutuhkan keheningan pikiran, fokus penuh, dan kemampuan menaruh kepedulian yang tulus pada kondisi emosional orang lain.
Pengalaman mengikuti rangkaian pelatihan konselor sebaya ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Dalam dunia kerja modern, seorang praktisi HRD maupun pemimpin organisasi dituntut memiliki keterampilan mendengarkan dan kepekaan emosional yang tinggi. Kemampuan konseling dasar ini menjadi bekal yang sangat berguna untuk mengelola kesejahteraan mental karyawan (employee well-being), menangani konflik antar anggota tim, serta menciptakan budaya kerja yang inklusif dan saling mendukung.
Melalui perjalanan pelatihan ini, saya belajar bahwa menjadi konselor sebaya bukan berarti kita harus selalu memiliki jawaban atas semua masalah, melainkan tentang kesediaan kita untuk hadir dan mendengarkan. Keterampilan empati dan komunikasi yang saya latih selama kegiatan ini menjadi modal berharga bagi pengembangan diri dan persiapan karier saya di bidang Psikologi Industri dan Organisasi di masa depan.
Foto kegiatan :















0 komentar:
Posting Komentar