Senin, 27 Oktober 2025

Eco-Gender Gap Dalam Pengelolaan Sampah dan Upaya Pelestarian Lingkungan Pada Rumah Tangga Nelayan Pesisir Kalibaru

 

Esai 1 — Meringkas Jurnal
Psikologi Lingkungan
Rafael Jadug Bayu Luhur
24310410055
Kelas Reguler (A)
Dr., Dra. Arundati Shinta M. A.



Topik

Eco-gender gap, pengelolaan sampah daerah pesisir, penelitian kuantitatif

Sumber

Anisafarah, S., & Wahyuni, E. S. (2025). Eco-Gender Gap Dalam Pengelolaan Sampah dan Upaya Pelestarian Lingkungan Pada Rumah Tangga Nelayan Pesisir Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM) 9(1), 23-25. https://doi.org/10.29244/jskpm.v9i1.1488

Permasalahan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah adanya kesenjangan gender dalam kepedulian lingkungan berupa pengelolaan sampah di rumah tangga nelayan. Perempuan lebih banyak terlibat dalam pengelolaan lingkungan domestik, sementara laki-laki mendominasi dalam pengambilan keputusan dan kendali sumber daya pengelolaan lingkungan terutama daerah pesisir pantai. Idealnya, kesetaraan gender dalam pembagian tugas, akses terhadap sumber daya, dan pengambilan keputusan dapat membuat baik laki-laki maupun perempuan terlibat secara aktif dan luas dalam kegiatan pelestarian lingkungan.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan tingkat eco-gender gap dengan tingkat pelestarian lingkungan pada rumah tangga nelayan pesisir Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Isi

  • Pengelolaan sampah di pesisir Kalibaru adalah gabungan dari pelayanan formal pemerintah dan informal masyarakat. Layanan formal hanya menjangkau sebagian area, sedangkan layanan informal memainkan peran penting dalam lingkungan padat penduduk.
  • Adanya upaya dalam mengatasi limbah cangkang kerang yang menjadi masalah bagi masyarakat pesisir Kalibaru melalui Koperasi Cangkring (Cangkang Kering). Merubah limbah cangkang kerang menjadi paving block adalah upaya yang dilakukan oleh koperasi Cangkring.
  • Dalam penelitian ini, perempuan lebih sering mengelola lingkungan domestik, sementara laki-laki lebih terlibat dalam pengambilan keputusan dan kontrol sumber daya. Kesenjangan inilah yang menciptakan eco-gender gap yang mempengaruhi pelestarian lingkungan yang kurang efektif.
  • Karakteristik seperti usia suami berpengaruh terhadap tingkat kesetaraan gender dalam mengelola lingkungan; suami yang lebih tua mengarah kepada pembagian tugas yang setara. Sebaliknya, pendidikan suami, pendapatan, dan kepemilikan anak balita tidak memiliki hubungan signifikan dalam kesetaraan gender.
  • Terdapat hubungan positif dan signifikan antara eco-gender gap dengan pelestarian lingkungan, yang menunjukkan bahwa semakin setara pembagian peran dan akses gender dalam pengelolaan lingkungan, semakin tinggi upaya pelestarian lingkungan yang dicapai.

Metode

Metode yang digunakan adalah kuantitatif berupa kuesioner dengan dukungan data kualitatif dalam bentuk wawancara dan observasi lapangan. Pengumpulan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan terpilih 40 rumah tangga sebagai responden kuesioner, serta terdapat 6 pengurus komunitas untuk diwawancarai. Data kuantitatif diolah menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 25, uji korelasi menggunakan Spearman Rank Correlation Test. Sementara data kualitatif melalui reduksi, penyajian, dan verifikasi data yang disusun dalam narasi deskriptif.

Hasil

  • Sebagian besar rumah tangga nelayan memiliki keterlibatan tinggi dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan, dengan pemahaman bahwa pembagian kerja gender yang setara dapat meningkatkan usaha pelestarian lingkungan.
  • Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi 0,276 (p = 0,002), menandakan hubungan yang cukup signifikan antara eco-gender gap dan tingkat pelestarian lingkungan.
  • Temuan bahwa perempuan lebih banyak mengurus lingkungan domestik dan laki-laki menguasai kontrol lingkungan di luar rumah menjadi kunci untuk mengembangkan strategi kesetaraan gender dalam pelestarian lingkungan.
  • Disarankan pemberdayaan perempuan dan penguatan partisipasi lintas gender dalam pengelolaan lingkungan sebagai strategi utama meningkatkan pelestarian lingkungan di komunitas nelayan Kalibaru.

  •  

0 komentar:

Posting Komentar