Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Klinik Karir

Rabu, 31 Desember 2025

Essay 6 - Bereksperimen di Rumah Dosen

 

FORMULASI SABUN CUCI CAIR RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS ECO-ENZYME DENGAN PENAMBAH AROMA SERAI DAN CENGKEH: LAPORAN KEGIATAN PRAKTIK LAPANG 2025

Nunung Setyowati

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Ibu Arundati Shinta, M.Psi

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Hari Minggu tanggal 30 November 2025, saya dan rekan mahasiswa lain berangkat pagi-pagi ke rumah Bu Shinta untuk praktik membuat sabun cuci berbasis eco-enzyme. Begitu sampai, aroma serai segar dan gula jawa yang sedang direbus langsung menyelinap ke hidung. Di halaman belakang sudah disulap jadi workshop dadakan: tikar warna-warni digelar, panci besar berasap, ember-ember berjejer, dan meja kecil penuh bahan mentah. Ada tumpukan batang serai masih berembun, buah lerak yang sudah dikupas kulitnya, balok-balok gula jawa cokelat tua, sabun gliserol bening, dan toples cengkeh utuh. Total kami sebelas mahasiswa ditambah Bu Shinta dan suaminya yang jadi pembimbing sekaligus fotografer.

Kami langsung lesehan dan bagi tugas. Ada yang motong batang serai seukuran jari, ada yang menghaluskan lerak pakai cobek sampai jadi pasta cokelat, aku dan dua teman mencairkan 5 kg gula jawa dengan 10 liter air sampai mendidih dan berubah jadi larutan kental manis. Begitu gula larut sempurna, kami matikan api, tuang 1 liter sabun gliserol, aduk pelan supaya nggak berbusa berlebihan. Setelah suhu turun, baru masukkan 2 kg lerak halus, 500 gram batang serai yang sudah direbus sebentar, serta segenggam cengkeh yang digeprek kasar. Terakhir, kami tambahkan 3 liter eco-enzyme kuning kecokelatan hasil fermentasi 3 bulan dari kulit buah dan gula sebelumnya. Bau asam-manis enzyme langsung bercampur wangi serai dan cengkeh, bikin suasana workshop jadi seperti pasar rempah versi modern.

Pengadukan jadi ritual paling panjang. Kami bergantian pakai tongkat kayu besar, setiap 15 menit sekali selama hampir dua jam. Awalnya cair, perlahan mengental jadi gel cokelat tua yang licin dan berat. Aromanya berubah-ubah: manis gula jawa dulu, lalu asam enzyme, kemudian kuat serai dan cengkeh yang bikin hidung segar sepanjang hari. Bu Shinta menjelaskan sambil tangannya ikut mengaduk: lerak menyumbang saponin alami sebagai pembuat busa, eco-enzyme menurunkan pH sekaligus memberi bakteri baik, serai dan cengkeh berfungsi antibakteri dan pewangi alami, sedangkan gliserol menjaga kelembutan tangan.

Setelah gel matang, kami tuang ke puluhan botol air mineral bekas 600 ml. Hasil akhir sekitar 15 kg sabun cuci cair kental berwarna cokelat transparan dengan serpihan serai dan cengkeh mengambang—malah bikin tampilannya estetik. Dicium dari dekat, baunya seperti jamu modern: manis, asam, pedas, segar, semuanya jadi satu. Saya uji coba langsung untuk digunakan mencuci peralatan bekas digunakan saat eksperimen membuat sabun. Busa memang tidak sebanyak sabun pabrik, tapi noda hilang bersih dan wangi serai nempel lama di tangan maupun diperalatan makan.

Selesai pada tengah hari, masing-masing pulang membawa goodie bag berisi 1 botol sabun cuci piring, pupuk kompos, dan gantungan kunci dari tali plus resep lengkap cara membuat sabun yang tersimpan rapi di ponsel. Sepanjang perjalanan pulang aku cuma bisa mikir satu hal: dari sampah dapur dan kebun, kami berhasil bikin pembersih serbaguna yang murah, efektif, dan tidak mencemari. Workshop hari itu membuktikan bahwa solusi paling sederhana sering kali ada di depan mata, tinggal mau atau tidak untuk mencobanya.






Essay 7 - Belajar Kelola Sampah di TPST Randualas

 

ANALISIS PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN: STUDI PENGAMATAN PROSES PEMILAHAN DAN PEMBAKARAN DI TPS 3R RANDU ALAS, SLEMAN, YOGYAKARTA



Nunung Setyowati

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Ibu Arundati Shinta, M.Psi

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Kunjungan ke TPS 3R Randu Alas di Dusun Candikarang, Sleman, Yogyakarta, menjadi pengalaman yang membuka mata bagi saya sebagai mahasiswi psikologi yang sedang mendalami isu lingkungan. Pada tanggal 11 November 2025, saya tiba di sana sekitar pukul 9 pagi, setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat kota Jogja. Cuaca cerah dengan langit biru membuat suasana terasa segar, meskipun aroma sampah yang samar-samar sudah tercium dari kejauhan. Lokasi ini berada di kawasan pedesaan, dikelilingi pepohonan dan rumah-rumah sederhana, dengan gedung utama berwarna hijau mencolok yang bertuliskan "Tempat Pengolahan Sampah, Mengurangi, Memilah, Daur Ulang". Papan nama itu langsung menarik perhatian, lengkap dengan nomor telepon dan alamat Rt.03 Rw.09 Sardoharjo Ngaglik, seolah mengundang siapa saja untuk belajar tentang pengelolaan sampah berkelanjutan.

Saat memasuki area TPS, saya disambut oleh deretan tong biru dan hijau yang berjejer rapi di pinggir jalan sempit. Beberapa tong berisi botol plastik transparan yang ditumpuk di atasnya, seperti instalasi seni dari bahan bekas. Ada juga tong besar berwarna biru yang diberi label seperti "07 TPS 3R Randu Alas" dan "08", yang tampaknya digunakan untuk menyortir sampah anorganik. Di sekitarnya, tanaman hijau subur tumbuh di pot-pot daur ulang, mulai dari botol plastik yang dipotong hingga ban bekas yang dijadikan wadah. Saya perhatikan ada area khusus untuk kompos, di mana tong biru besar berisi campuran air keruh dengan potongan organik mengapung—mungkin proses fermentasi untuk pupuk. Partikel-partikel putih dan cokelat di permukaannya menunjukkan dekomposisi alami, dengan bau tanah basah yang tidak terlalu menyengat. Di belakang, ada taman kecil dengan rumput hijau dan pot tanaman yang tersusun acak, termasuk satu pot buram yang berisi tanaman merambat dengan daun kuning jatuh di sekitarnya, menambah kesan alami tapi terorganisir.

Proses belajar dimulai dengan sesi memilah sampah. Petugas di sana, seorang Bapak berpakaian sederhana, menjelaskan langkah demi langkah. Sampah rumah tangga dibagi menjadi organik seperti sisa makanan dan daun kering, yang dimasukkan ke tong kompos untuk diolah menjadi pupuk. Anorganik seperti plastik dan botol dipilah lagi: yang bisa didaur ulang disimpan di tong biru, sementara yang rusak atau tidak layak diproses lebih lanjut. Saya ikut mencoba, memegang bungkus plastik bekas dan botol minuman, merasakan teksturnya yang ringan tapi tahan lama. Proses ini membuat saya sadar betapa psikologi memainkan peran besar—kebiasaan memilah bisa mengubah perilaku masyarakat dari pembuangan sembarangan menjadi kesadaran lingkungan, mengurangi stres kolektif akibat polusi. Di area parkir kecil, saya lihat orang-orang lokal mengantre membawa sampah mereka, membentuk antrean santai di belakang pagar kayu, dengan tanaman tropis seperti palem dan aglonema menghiasi sekitar, menciptakan suasana yang edukatif sekaligus nyaman.

Selanjutnya, bagian yang paling menarik adalah pembakaran sampah. Ini dilakukan di zona terpisah, dengan hati-hati untuk sampah residu yang tidak bisa didaur ulang atau dikompos, seperti plastik campur yang sudah terkontaminasi. Petugas menggunakan tungku sederhana dari drum bekas, menyalakan api kecil untuk membakarnya secara terkendali. Asap putih naik pelan, dan saya diajari bahwa proses ini harus diawasi agar tidak menimbulkan polusi berlebih, dengan penambahan bahan pembantu untuk mengurangi emisi. Berat sampah yang dibakar hari itu tidak lebih dari 2 kg per sesi, tapi dampaknya signifikan dalam mengurangi volume limbah. Saya rasakan panasnya dari jarak aman, sambil memikirkan aspek psikologis: membakar sebagai simbol penghancuran masalah, tapi juga pengingat akan tanggung jawab untuk tidak bergantung padanya sebagai solusi utama.

Secara keseluruhan, kunjungan ini memperkaya pemahaman saya tentang siklus 3R. Dari memilah yang membutuhkan ketelitian hingga membakar yang memerlukan kehati-hatian, semuanya menunjukkan komitmen komunitas Randu Alas dalam menjaga lingkungan. Saya lihat bagaimana TPS ini bukan sekadar tempat buang sampah, tapi pusat edukasi yang mengubah sampah menjadi sumber daya—pot tanaman dari botol bekas, pupuk dari organik, dan bahkan pekerjaan bagi warga lokal. Pengalaman ini menguatkan keyakinan bahwa psikologi lingkungan bisa mendorong perubahan perilaku massal, membuat Jogja lebih hijau dan berkelanjutan. Saya pulang dengan catatan penuh, siap menerapkan pelajaran ini dalam tugas kuliah selanjutnya.








Essay 5 - Melakukan Upcycling Sampah Anorganik

 

Mengubah Sampah Plastik dan Banner Bekas Menjadi Produk Fashion Bernilai Ekonomis: Praktik Upcycling dan Potensi Pasar Anak Muda Yogyakarta

Nunung Setyowati

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Ibu Arundati Shinta, M.Psi

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Tanggal 23 November 2025, saya memutuskan menghabiskan hari di rumah saja untuk menyelesaikan proyek upcycling yang sudah kutunda cukup lama. Bahan bakunya cuma setumpuk banner bekas reklame yang saya kumpulkandari bekas banner promosi  dari kantor tempat saya bekerja, ditambah beberapa karung beras bekas dan botol plastik besar yang dipotong jadi tali webbing. Semuanya anorganik murni, nggak ada yang bisa terurai, tapi hari ini mereka akan berubah jadi tas yang punya nilai jual.

Pagi pukul delapan, aku gelar semua bahan di belakang rumah. Banner-bannernya masih bau sablon dan agak lengket karena lembap malam. Aku cuci satu per satu menggunakan sabun cream sampai bersih, lalu jemur di bawah matahari Jogja yang lagi terik-teriknya. Sambil nunggu kering, saya memlulai dengan potong pola: badan tas 38 × 42 cm, saku dalam, dan tutup flap. Desainnya saya buat simpel saja  tapi punya karakter dengan warna dasar biru tua dari banner bekas serta kombinasi merah dari banner lain, ditambah aksen karung beras cokelat tua yang sudah dicuci berkali-kali sampai tidak berbau

Proses jahit jadi bagian yang paling serius. Saya pakai mesin jahit rumahan yang agak rewel, jarumnya sering patah kalau ketemu lapisan banner yang tebal. Satu tas butuh sekitar dua jam: menjahit saku dalam dulu, lalu lapis luar, pasang resleting YKK bekas (masih mulus), kemudian jahit double stitch biar kuat bawa laptop 14 inci. Tali  dibuat dari anyaman botol plastik yang dipotong memanjang 2 cm, dilelehkan pinggirnya pakai lilin supaya nggak ambrol, lalu dijahit jadi webbing tebal. Hasilnya kokoh banget, bisa nahan beban sampai 10 kg tanpa takut sobek.

Sore hari, empat tas sudah jadi. Tas pertama full banner biru-merah dengan flap karung beras, tas kedua motif abstrak dari potongan banner warna-warni, tas ketiga aku tambah saku luar untuk botol minum, dan tas keempat aku buat model sling bag kecil yang lagi ngetren. Semuanya aku lapisi furing hitam dari kain perca supaya dalemnya rapi dan nggak kelihatan bekas sablon yang tersisa. Bau plastik panas dari setrika dan benang polyester masih menempel di tangan, tapi saya puas banget lihat hasilnya: tas-tas ini nggak kelihatan murahan, malah terlihat artsy dan limited.

Malamnya, saya foto produk dengan lighting softbox sederhana dari lampu belajar dan kain putih. Background saya pakai lemari kayu yang sudah tua, biar nuansanya vintage. Setelah edit sedikit di Lightroom supaya warna banner keluar, saya mulai riset harga. Saya coba dengan buka Shopee, Tokopedia, dan Instagram beberapa seller upcycling ternama di Jogja dan Bandung. Tas banner ukuran serupa dijual Rp180.000–Rp320.000, tergantung kerumitan jahitan dan branding. Setelah saya hitung ulang HPP: bahan hampir nol rupiah (semua gratisan), listrik dan benang ±Rp15.000 per tas, resleting dan aksesoris Rp25.000. Total HPP maksimal Rp45.000 per tas.

Akhirnya saya menentukan harga:

Ø  Tote besar dua saku Rp235.000

Ø  Tote flap karung Rp265.000

Ø  Laptop bag Rp285.000

Ø  Sling bag kecil Rp175.000

 

Harga ini dirasa cukup kompetitif, masih ada margin 400–500 % tapi nggak terlalu mahal untuk pasar anak muda dan pekerja kreatif yang suka barang unik. Saya masukkan semua foto, deskripsi cerita bahan daur ulang, ukuran detail, dan kapasitas beban ke dalam draft listing di Tokopedia dan Instagram shop. Belum aku publish, tapi semua sudah siap: nama brand “Plasback” dan tagline “dari limbah jadi legacy

Malam itu saya tidur dengan perasaan aneh: sampah yang kemarin cuma numpuk di gudang office, hari ini sudah punya harga dan cerita sendiri. Empat tas itu bukan lagi limbah, tapi bukti bahwa anorganik pun bisa punya nyawa kalau kita mau repot memberinya bentuk baru.

Minggu, 28 Desember 2025

Essay 5 Psikologi Lingkungan - Upcycling Sampah

                                                         Agnes Lingga F U-23310420047

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A


    Sebagai manusia yang cukup konsumtif saya sadar bahwa perilaku saya ini membuat saya menghasilkan banyak sampah plastik. Kunjungan ke TPST Randu Alas beberapa waktu lalu cukup menyadarkan saya bahwa turut menyumbang begitu banyak sampah selama ini namun disisi lain saya tidak bisa semudah itu mengstop konsumsi saya 100% karena pasti akan berdampak langsung pada kenyamanan hidup saya selama ini. Oleh karena itu saya berusaha untuk lebih bertanggung jawab dengan sampah yang saya hasilkan dirumah dengan berusaha menggunakan sampah tersebut kembali sesuai fungsinya. Salah satu hal paling sederhana yang saya lakukan adalah menggunakan kembali wadah thinwall bekas menjadi wadah untuk sabun cuci piring. 


    Selain itu saya juga menggunakan wadah botol plastik bekas sabun mandi cair untuk menjadi tempat sabun cuci piring. Hal ini sebenarnya cukup sederhana tapi disisi lain juga membuat saya bisa lebih berhemat dibandingkan harus membeli sabun cuci piring dengan botolnya serta membeli tempat untuk sponge cuci piring. saya harap kedepannya saya bisa lebih dapat melakukan upcycling ini sehingga sampah yang saya buang tidak begitu banyak dan berdampak buruk bagi lingkungan.

Selasa, 23 Desember 2025

Psikologi Lingkungan Esai 6 - Eksperimen di Rumah Dosen, Membuat Sabun cair

 

Agnes Lingga F U-23310420047

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A



Eksperimen pembuatan sabun cair yang saya lakukan di rumah dosen psikologi lingkungan merupakan pengalaman belajar yang bermakna karena mengintegrasikan praktik langsung dengan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa produk sabun cair, tetapi juga pada proses pembelajaran, keterlibatan personal, serta pembentukan kesadaran lingkungan selama kegiatan berlangsung.

Dalam proses pembuatan sabun cair, saya terlibat secara penuh dari tahap awal hingga tahap akhir. Proses dimulai dengan menimbang bahan bahan yang akan digunakan secara teliti dan sesuai takaran. Bahan yang digunakan terdiri dari garam sebanyak 150 gram, EDTA 10 gram, glycerin 26 gram, dan MES sebanyak 200 gram. MES terlebih dahulu dilarutkan menggunakan 1 liter air hingga benar benar tercampur sempurna. Selanjutnya, saya merebus 1 liter air yang kemudian digunakan untuk melarutkan garam hingga tidak ada sisa yang menggumpal. Setelah itu, seluruh bahan lain yang telah ditimbang dicampurkan ke dalam larutan MES, kemudian ditambahkan larutan garam dan diaduk hingga homogen. Tahap berikutnya adalah penambahan air matang sebanyak 1.5 liter untuk mendapatkan konsistensi sabun cair yang sesuai. Setelah seluruh bahan tercampur dengan baik, larutan diberi pewarna secukupnya dan didiamkan semalaman. Pada tahap akhir, larutan sabun cair dicampurkan dengan ecoenzym sehingga sabun cair siap digunakan.



Selain terlibat langsung dalam pembuatan sabun cair, saya juga membantu berbagai kegiatan pendukung yang berkaitan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Sebelum proses pembuatan sabun dimulai, saya turut membantu membuat ecoenzym, memotong kulit buah untuk dijadikan kompos, serta mencuci plastik bekas pakai agar bersih dan tidak menimbulkan bau. Kegiatan kegiatan tersebut memberikan pemahaman yang nyata mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa penerapan psikologi lingkungan tidak hanya dapat dipahami melalui teori di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang melibatkan interaksi antara individu dan lingkungannya. Aktivitas sederhana seperti membuat sabun cair dan mengelola limbah ternyata mampu menumbuhkan sikap peduli lingkungan, rasa tanggung jawab, serta kesadaran akan peran individu dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Eksperimen ini menjadi pengalaman pembelajaran yang penting bagi saya sebagai mahasiswa psikologi untuk memahami bagaimana perilaku pro lingkungan dapat dibangun melalui kegiatan sehari hari yang aplikatif dan bermakna.


Psikologi Lingkungan Esai 7 - Belajar dari Lingkungan, Melihat Sampah di TPST Randu Alas

 Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas

Agnes Lingga F U- 23310420047

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

 



Pengelolaan sampah merupakan salah satu isu lingkungan yang sangat mendesak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Krisis sampah yang muncul sejak awal tahun dua ribu lima belas, ketika TPA Piyungan mencapai kapasitas penuh jauh lebih cepat dari prediksi, menjadi titik balik bagi banyak wilayah untuk mencari strategi alternatif. Salah satu tempat yang berupaya menjawab tantangan tersebut adalah TPS 3R Randu Alas. Melihat langsung proses pengolahan di sana membuat saya menyadari bahwa persoalan sampah tidak sesederhana membuang dan melupakan, tetapi merupakan rantai panjang yang membutuhkan kesadaran, kerja sama, serta tanggung jawab dari setiap individu.

TPS 3R Randu Alas mulai bergerak pada bulan Februari 2016. Tempat ini awalnya hanyalah sebuah bank sampah yang menerima setoran dari warga. Namun seiring meningkatnya volume sampah dan kebutuhan penanganan yang lebih serius, Randu Alas kemudian dilengkapi dengan berbagai alat pengolahan hingga akhirnya berkembang menjadi unit pengolahan terpadu.

Konteks berdirinya TPS ini tidak terlepas dari peristiwa krisis pada tahun dua ribu lima belas. Saat itu TPA Piyungan dinyatakan penuh padahal proyeksi awal memperkirakan kapasitasnya baru habis pada sekitar tahun dua ribu tiga puluh. Akibatnya banyak TPS dan TPST di wilayah Sleman terpaksa mencari solusi sementara agar sampah tidak menumpuk.

Di Randu Alas, sampah dipilah menjadi dua kategori utama, yaitu organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos, pupuk organik cair, serta biogas. Teknik dumping diterapkan sebagai bagian dari proses pengomposan. Kompos yang dihasilkan kemudian dibeli oleh lembaga dan digunakan untuk taman taman di wilayah Sleman. Sementara itu sampah anorganik dipilah kembali berdasarkan jenis lalu dikembalikan ke pabrik daur ulang. Pemilahan menjadi kunci karena seluruh proses lanjutan sangat dipengaruhi oleh kualitas sampah yang diterima.



Sebelumnya TPS ini masih dapat membuang residu ke TPA sebanyak dua kali dalam satu minggu. Namun setelah TPA Piyungan tidak lagi menerima kiriman akibat kondisi darurat, TPS Randu Alas tidak memiliki pilihan selain melakukan pembakaran. Situasi ini tidak ideal, namun menjadi satu satunya cara agar sampah tidak terus menggunung. Abu hasil pembakaran digunakan untuk meratakan hanggar, dan ke depan direncanakan sebagai bahan tambahan untuk membuat batako.

Salah satu masalah terbesar yang terlihat adalah sampah rumah tangga yang datang dalam kondisi tercampur. Meskipun sosialisasi sudah dilakukan, banyak warga masih memasukkan pampers, residu makanan, dan sampah basah dalam satu wadah. Sampah yang tercampur menghasilkan bau yang lebih kuat dan memperlambat proses pengolahan. Padahal pemilahan sederhana di rumah dapat mengurangi bau secara signifikan. Petugas bahkan menyampaikan bahwa lindi dapat digunakan sebagai penangkal bau jika dikelola dengan benar, dan terdapat pula cairan E empat yang dibuat dari fermentasi buah dengan perbandingan satu banding tiga banding sepuluh, serta MOL yang digunakan untuk mempercepat pembusukan bahan organik.

Dalam pengelolaan formal, pengelola mengacu pada lima aspek utama yang menjadi dasar sistem. Aspek tersebut adalah hukum dan peraturan, kelembagaan, pendanaan, budaya masyarakat, dan teknologi. Pendanaan Randu Alas sebagian besar berasal dari iuran pelanggan. Tarifnya dibedakan berdasarkan jenis rumah tangga, rumah tangga usaha, dan ruang usaha. Dengan jumlah petugas hanya tujuh orang, beban kerja menjadi sangat besar terutama ketika sampah datang dalam kondisi bercampur dan basah. Cuaca juga berpengaruh. Ketika hujan, sampah menjadi lebih berat dan lebih cepat menimbulkan bau.

Dari sisi sosial, tantangan terbesar adalah edukasi warga. Banyak warga memiliki niat baik namun tetap salah dalam memproses sampah, terutama karena belum terbiasa memilah sejak di rumah. Selain itu stigma masyarakat terhadap bank sampah atau TPS sebagai tempat yang bau turut menghambat partisipasi. Padahal pengelola ingin menanamkan prinsip sadar, olah, dan bayar. Kesadaran menjadi fondasi utama. Ketika masyarakat sadar, proses pengolahan dapat berjalan. Ketika pengolahan berjalan, masyarakat memahami nilai manfaat sampah. Pembayaran iuran kemudian dipandang sebagai bentuk tanggung jawab bersama, bukan beban tambahan.

Di Randu Alas, sisa makanan diprioritaskan untuk pakan sementara plastik dan karton dikembalikan kepada pabrik. Sistem pengambilan sampah menggunakan tiga kendaraan Viar yang beroperasi setiap hari. Keseluruhan proses ini menunjukkan bahwa pengolahan sampah tidak hanya sekadar teknis tetapi sangat dipengaruhi oleh karakter wilayah, budaya warga, serta tingkat partisipasi rumah tangga. Bahkan dalam sistem 3R, proses recycle di TPS menjadi tahap paling akhir setelah upaya reduksi dan guna ulang dilakukan.



Kesimpulan

Kunjungan ke TPS 3R Randu Alas memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Melihat langsung bagaimana sampah yang tercampur menimbulkan bau kuat, bagaimana petugas memilah satu per satu sampah yang berasal dari rumah tangga, serta bagaimana keterbatasan alat dan lahan memaksa TPS melakukan pembakaran membuat saya jauh lebih memahami beratnya proses pengelolaan sampah. Kesadaran saya meningkat, bukan hanya pada aspek teknis tetapi juga pada tanggung jawab pribadi.

Sebagai individu, saya dapat mulai dengan hal yang sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik, mengurangi barang sekali pakai, serta memahami bahwa setiap sampah yang saya hasilkan akan memengaruhi orang lain. Saya juga belajar bahwa perilaku lingkungan tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi oleh kebiasaan sehari hari di rumah. Kunjungan ini membuat saya lebih peka dan lebih menghargai kerja keras petugas yang selama ini berada di balik layar. Saya kini memahami bahwa pengelolaan sampah hanya akan berhasil jika setiap orang mau terlibat dan tidak menyerahkan sepenuhnya kepada fasilitas pengolah. Dengan meningkatnya kesadaran ini, saya berharap dapat menerapkan pola hidup yang lebih bertanggung jawab dan mendorong orang sekitar untuk melakukan hal yang sama.

 

Senin, 22 Desember 2025

Esai 8 - Menjadi Nasabah Bank Sampah








Ahmad Fawwaz

25310420005

Psikologi Lingkungan

Esai 8

Dr. A. Shinta M.A.


Kunjungan saya ke Bank Sampah Makmur Sejahtera Mandiri (MESEM) menjadi pengalaman yang tidak hanya unik, tetapi juga penuh makna. Sejak awal, saya merasa bahwa tempat ini bukan sekadar ruang pengelolaan sampah, melainkan sebuah laboratorium sosial yang mengajarkan bagaimana nilai bisa lahir dari sesuatu yang sering dianggap tidak berguna. 

Pengalaman membuka rekening tabungan di bank sampah tersebut memberi saya perspektif baru tentang konsep “menabung.” Selama ini saya memahami menabung sebagai menyisihkan uang dari penghasilan. Namun, di MESEM, menabung berarti menyisihkan sampah yang sudah dipilah, lalu mengubahnya menjadi nilai ekonomi. Proses ini membuat saya sadar bahwa kebiasaan kecil dalam mengelola sampah ternyata bisa menjadi investasi jangka panjang, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan.

Saya merasakan refleksi yang kuat ketika melihat buku tabungan saya diisi bukan dengan angka hasil kerja, melainkan dengan nilai dari sampah yang saya kumpulkan. Ada rasa bangga sekaligus haru, karena tindakan sederhana seperti memisahkan plastik dan kertas ternyata bisa menjadi simbol tanggung jawab sosial. Membuka rekening di bank sampah membuat saya merasa lebih terhubung dengan komunitas, karena setiap orang yang menabung di sana sedang berkontribusi pada kebersihan lingkungan sekaligus membangun solidaritas ekonomi.

Dari kunjungan ini, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Ada kepuasan batin ketika saya menyadari bahwa sampah yang biasanya saya buang begitu saja kini bisa menjadi tabungan. Lebih dari itu, saya melihat bahwa Bank Sampah MESEM bukan hanya tentang pengelolaan limbah, tetapi juga tentang pendidikan karakter: mengajarkan disiplin, kesadaran lingkungan, dan rasa syukur atas hal-hal kecil yang bisa memberi manfaat.

Refleksi terakhir saya adalah bahwa membuka rekening di bank sampah bukan sekadar pengalaman administratif, melainkan sebuah simbol perjalanan hidup. Ia mengingatkan saya bahwa setiap tindakan kecil yang konsisten bisa memberi dampak besar. Menabung sampah di MESEM adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa saya peduli, bahwa saya ingin hidup lebih bermakna, dan bahwa saya percaya perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang sering diabaikan.






Minggu, 21 Desember 2025

 Esai 5 — upcyling sampah anorganik &merintis sebagai pengusaha. 

 Psikologi Lingkungan

 Nama : Chitra Amanda Kasim 

 Nim: 2431041003

 Kelas Reguler (A)

Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta M. A.

 


 

 

 Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup
masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman
karakteristik sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan
pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang
pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap
kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbulan sampah
memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang tidak mempergunakan metode dan
teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan selain akan dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan juga akan sangat mengganggu kelestarian fungsi
lingkungan baik lingkungam pemukiman, hutan, persawahan, sungai dan lautan.

Dan penanganan sampah di TPS  saat ini juga  masih dengan cara
pembakaran di tempat terbuka dan pembusukan secara alami. Hal ini juga  menimbulkan
permasalahan baru bagi lingkungan, yaitu pencemaran tanah, air, dan udara.

 


nah ini adalah satu gambar yang dari sampah anorgnik yaitu air galo bekas  minuman kenapa saya milih membuat  ini kerena banyak anak kos yang hampir 99% minum air galon ini dan  sampahnya  yang sekali kalo habis tinggal di buang padahal bisa di daur ualangkan  seperti jadikan tempat sampah, pot bunga, taro pyan kotor, & bisa juga di jadikan aquqrium. kenapa sampah  sampah yang seperti harus di daur ualang agar tidak terjadi lingkungan 

Maka dengan pngelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan
kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Dari sudut pandang
kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah tersebut tidak
menjadi media berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebarluasnya suatu penyakit.saya 

 

 

Nah selain itu proses daur ulang galon ini juga berperan penting dalam menghemat sumber daya alam bukan hanya di ubah ajah galon yang sudah rusak juga dapat di hancurka

 

Senin, 15 Desember 2025

Psikologi Lingkungan Esai-5 Melalukan upcyling sampah anorganik dan merintis sebagai pengusaha ekonomi sirkuler.  


" Mengubah Sampah Menjadi Berkah: Upaya Mewujudkan Ekonomi Sirkuler Melalui Upcycling".


Mengubah Sampah Anorganik menjadi Aset Berharga :


Oleh : Kenty Lukisanita | 24310410028 | SPSJ

Dosen Pembimbing : Dr. Shinta Arundita 

 

 

Sampah telah menjadi masalah serius di banyak negara, termasuk Indonesia dan Jumlah sampah terus meningkat setiap hari bahkan setiap tahunnya sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan, seperti polusi udara, pencemaran air da dibalik masalah tersebut ada potensi untuk mengubah sampah menjadi berkah dengan konsep ekonomi sirkuler dan upycling.

Ekonomi sirluer bertujuan untuk mengurangi dengan cara mendaur ulang atau menggunakan kembali dan mengurangi limbah, sampah yang tidak tidak lagi dianggap limbah namun tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Mengubah sampah menjadi aset berharga adalah proses mengubah sampah menjadi produk yang lebih bernilai dan berguna dan bermanfaat dengan upcycling.

  
Sampah Kaleng Susu


Saya mengambil sampah anorganik logam sampah kaleng susu saya mendaur ulang untuk pot tanaman, saya bersihkan dulu dalamnya di cuci saya isi tanah kompos dan saya isi tanaman lidah buaya dan saya memilih lidah buaya (Aloe Vera) karena tanaman yang perawatannya mudah dan berkhasiat banyak manfaat dari lidah buaya.



Kaleng Sampah Biskuit dan Botol Plastik Bekas


Saya mendaur ulang kaleng biskuit dan botol plastik bekas lalu saya buat celengan koin dan saya balut dengan kertas kado dan kertas print tulisan dibalut ke kaleng atau botol plastik lalu saya beri pita dan manfaat ini saya juga dapat mengarjakan membuat celengan ini kepada anak saya dan digunakan untuk menyimpan uang koin atau kertas.

 Dengan menggunakan sampah sebagai bahan mendaur ulang dan banyak manfaat serta aset dan bernilai, kita dapat mengurangi jumlah sampah serta dampak negatif dari sampah dan menciptakan produk yang berguna dan bernilai serta memberikan manfaat ekonomi.

Kamis, 04 Desember 2025

Psikologi Lingkungan Esai- 8 Nasabah Bank Sampah 

 

 Lingkungan Bersih Tabungan Bertambah

Menabung di Bank Sampah (MESEM)

                          Oleh: Kenty Lukisanita | 24310410028 | SPSJ
                                Dosen Pembimbing : Dr. Shinta Arundita 



      Yogyakarta, Jumat 05 Desember 2025 pukul 09.00 wib melalukan kegiatan mengumpulkan sampah di Bank Sampah. Saya menjadi nasabah penyetor sampah di Bank Sampah Mesem yang terletak di barat alun-alun Utara Yogyakarta Utara PDHI.

       Saya warga kota Yogyakarta ingin berperan dalam mengurangi Volume Sampah. Di Bank Sampah Mesem tersebut saya bertemu dengan pengurus Bank Sampah yang bernama Ibu Atika selaku ketua  Bank Sampah Makmur Sejahtera Mandiri ( MESEM) dan Ibu Puji dan pengurus lainnya. Nabung di Bank Sampah kegiatan mengumpulkan dan menyimpan sampah dan memiliki nilai ekonomi, seperti kertas, botol plasti, kardus kemudian di jual ke bank sampah danalam kegiatan ini dapat untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke lingkungan, meningkatkan kesadaran lingkungan dengan nabung di bank sampah pentingnya pengelolaan sampah dengan baik, dan juga dapat menghasilkan pendapatan dari menjual sampah yang telah di kumpulkan dan di pilah. Anggota Bank Sampah tersebut tidak setiap hari menyetor sampah dan Pengurus bank sampah menerima setoran sampah setiap seminggu sekali pada hari Jumat dan sebelum sampah di setorkan, Penyetor harus memilah sampah berdsarkan jenis sampah. 

 Bank sampah biasanya hanya menerima sampah yang telah di pilah dan di bersihkan, kemudian ditimbang dan diberikan buku tabungan nominal rupiahnya atau poin kepada nasabah penyetor sampah di bank sampah. Kegiatan ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola sampah dan berkelanjutan.


                                                Penimbangan Sampah yang sudah di pilah 



Proses Menimbang Sampah yang di setorkan dan sudah di pilah dibersihkan berdasarkan jenis sampah. setelah proses timbang mendapatkan penilaian nilai tukar berdasarkan berat dan jenis sampah yang ditentukan sesuai harga yang berlaku di bank sampah dapat di nilai dan tidak dapat di nilai.

                                   Buku Tabungan Nasabah Di Bank Sampah (MESEM)


               Buku Tabungan Sampah Di Berikan Kepada Nasabah Penyetor Sampah


                                           Proses Mencatat Buku Tabungan Sampah 

    Proses penyetoran sampah memiliki nilai ekonomi, yang dilakukan mencatat tanggal penyetoran sampah, jenis sampah dan mencatat berat sampah yang di setorkan, mencatat nilai tukar sampah nasabah guna buku untuk mengupdate saldo tabungan sampah sehingga dapat memantau riwayat transaksi penyetoran sampah dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

    Pentingnya Menjaga Lingkungan Kita dan Kota Yogyakarta Tercinta ini selain Jogja Berhati Nyaman Aman Damai, pentingnya kita tetap menjaga kebersihan supaya lingkunga kota Yogyakarta dan Masyarakat tetap Sehat dengan melakukan pengelolaan sampah dengan baik. "Ayo deang bersama kita jaga lingkungan dan Mari kita manfaatkan Bank Sampah dengan memilah dan menyetorkan Sampah dan sampah supaya dapat di daur ulang dengan ini dapat membantu mengurangi volume sampah tetapi juga mendapatkan pendapatan.

Mulai saat ini ilmu yang sudah di dapatkan untuk diri sendiri dan sehingga dapat mengajak keluarga, kerabat untuk melakukan pengelolaan sampah dan bertanggung jawab dilakukan bersama sehingga dapat menciptakan lingkungan sehat dan bersih.

Selasa, 02 Desember 2025

 

Psikologi Lingkungan Esai-6 Eksperimen di Rumah Dosen


Mahasiswa Universitas Proklamasi 45' Belajar dari Sampah Menjadi Penghasilan;

                                    Oleh: Kenty Lukisanita | 24310410028 | SPSJ
                                        Dosen Pembimbing : Dr. Shinta Arundita 

    Yogyakarta, 30 November 2025  Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Proklamasi 45 melakukan kunjungan dan belajar ke rumah Dosen Ibu Dr. Shinta Arundita, selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Lingkungan Universitas Proklamasi 45.





       Dalam kunjungan itu kami ada beberapa untuk pembelajaran yang diajarkan oleh Ibu Shinta diantaranya belajar memanen, membuat kompos, dan membuat eco enzym, membuat sabun cair ramah lingkungan, dan merintis ecopreneur atau ramah ekonomi dengan membuat gantungan kunci bisa dijadikan sovenir untuk dijual. Dan Mahasiswa diberikan tugas masing-masing atau kelompok dan tugas saya mendapatkan bagian membuat gantungan kunci, menali paperbag, mengisi kompos didalam paperbag kompos lalu di pita, dan di tempelkan stiker baik botol sabun cair, paperbag dan kompos.

Belajar bertanggung jawab pada sampah setelah kita makan , Kemudian Ibu Dosen memberikan kami beberapa jenis makanan untuk kami makan dan dihabiskan lalu bungkus untuk di pilah atau dibedakan. Jenis makanan ada pisang, kue, gorengan dibungkus plastik dan berbungkus dedaunan. 

        Mahasiswa diwajibkan untuk  membawa cangkang telur yang akan dikelola menjadi bahan pupuk organik dan ada tahapan-tahapan cara pembuatan kompos yang diajarkan oleh Ibu Shinta diantaranya:
Sampah yang telah dikonsumsi berupa kulit pisang dan sampah berbungkus dedaunan di potong kecil-kecil, kemudian dituangkan ke wadah yang berukuran besar. Kemudian tuangkan daun kering sampah dapur, dedek, grajen, kapur dolomit, dan air kulit bawang ke dalam wadah lalu campurkan Molase EM4, air dan POC ke dalam ember dan tuangkan campuran ke dalam wadah, aduk hingga merata, kemudian masukkan ke dalam kendi yang  telah terdapat kompos di dalamnya kemudian Kompos diaduk dua hari sekali dan Setelah 14 hari kompos sudah siap digunakan dan tambahkan arang, abu gosok, dan kulit telur saat panen.

Kemudian Mahasiswa ada yang membuat Eco-Enzym dan Sabun cair dan sudah tersedia bahan- bahannya yang siap untuk di olah atau dibuat dan ada Mahasiswa membuat gantungan kunci dari bahan-bahan sederhana yang sudah disiapkan pernik-pernik, tali karung goni berwarna cokelat, tali seperti tambang berwarna putih, dan key ring. 

Dengan melakukan Eksperimen sampah menjadi Penghasilan sehingga kita dapat membantu mengurangi Volume Sampah yang dibuang ke Lingkungan dan Menciptakan peluang Ekonomi baru.
 

Belajar Eksperimen sampah dapat menjadi cara yang menyenangkan dan untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik serta dapat mengembangkan keterampilan dan dapat menghasilkan uang.



Senin, 01 Desember 2025


 

Psikologi Lingkungan Esai 7 Kunjungan ke TPST Randu Alas


Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Melaksanakan Kunjungan dan Belajar Pengelolaan Sampah di TPST Randu Alas;

                                        Oleh : Kenty Lukisanita | 24310410028 | SPSJ

                                            Dosen Pembimbing : Dr. Shinta Arundita


Pada Sabtu tangga 18 Oktober 2025, Mahasiswa psikologi kelas reguler dan kelas karyawan Universitas Proklamasi 45 melakukan kunjungan dan belajar pengelolaan sampah ke TPST Randu Alas.

TPST Randu Alas ini tempat pengelolaan Sampah yang bertempat di daerah Desa Sardonoharjo, Sleman, Yogyakarta. Dan TPST Randu Alas ini contoh pengelolaan sampah terpadu yang efektf dan berkelanjutan, fasilitas ini dibangun sebagai respons terhadap masalah sampah yang saat ini semakin kritis di wilayah yogyakarta, terutama setelah penutupan akses ke TPA piyungan dengan itu TPST Randu Alas ini beroperasi berdasarkan prinsip dengan 3R yaitu Reduce, Reuse, dan Recyle (mengurangi,menggunakan ulang, mendaur ulang). Dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik.


Kunjungan dan Belajar di TPST Randu Alas ini belajar tentang pengelolaan sampah yang di bimbing oleh Dosen Universitas Proklamasi 45 yogyakarta Dosen pembimbing kami yaitu Ibu Dr. Shinta Arundita, dan Pengelola TPST Randu Alas Bapak Joko Tri Waluyo.

Belajar pengelolaan sampah ini menjadikan pengalaman yang sangat berharga, terutama bagi masyarakat dan generasi muda seperti kami, pentingnya kunjungan dan belajar ini karena untuk meningkatkan kesadaran lingkungan sehingga bisa melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan dan dapat memahami pentingnya untuk mengurangi sampah dan mendaur ulang kembali sampah. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk belajar tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar sehingga dapat memahami bagaimana dampak sampah yang tidak tepat sehingga berdampak pada lingkungan hingga kesehatan masyarakat.

Mengedukasi warga atau masyarakat untuk dapat memilah sampah sejak dirumah dan pentingnya memilah sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, sampah anorganik seperti plastik dan kertas dapat di daur ulang atau dijual kembali.





Pentingnya memilah sampah untuk memudahkan pengelolaan sampah sehingga lebih efisien untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Dan jenis sampah yang dapat di pilah sisa makanan, sayuran, buah buahan, plastik, kertas, logam,kaca hingga bahan kimia.


                                                                                Pupuk Cair 



                                                            Pupuk POC yang belum di saring


                                                                Pupuk Mol Mikro Organisme 





Memahami Pengelolaan Sampah yang baik menjadikan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan sampah serta tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan dalam kegiatan sehari - hari.